Followers
Thursday, May 10, 2007
Mukmin dan kurma
oleh Kholid bin Syamhudi Al Bantaniy
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ
Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?" Lalu orang meneka yang ia pokoko di wadhi. Berkata Abdullah: "Lalu terdetik di dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya". Kemudian mereka berkata: "Wahai Rasululloh beritahulah kami pohon apa itu?" Lalu baginda menjawab: Iia adalah pohon kurma".
Takhrij
Hadits ini diriwayatkan oleh imam al-Bukhori di dalam shohihnya kitab Al Ilmu, bab Qaulul Muhadits Hadatsanaa no. 61 (1/145-Fathul Bariy) dan Muslim dalam shohihnya kitab Sifatul Munafiqin bab Mitslul mukmin matsalun Nakhlah no. 7029 (17/151- Syarah Nawawiy)
Syarah Mufradat Hadits.
1. إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ :
terdapat persamaan dan penyerupaan seorang muslim dengan pohon yang tidak gugur daunnya, iaitu pohon kurma
2. فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي :
akal fikiran mereka menerawang kepada pepohonan di wadhi. Setiap orang menafsirkannya dengan salah satu jenis pepohonan tersebut, namun lupa dengan pohon kurma[ 1]
3.الْبَوَادِي : b
entuk jamak dari Badiyah yang bermakna dataran luas yang ada padanya tumbuhan dan air.[ 2]
4. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ :
Abdullah ini adalah Abdullah bin Umar, sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasululloh.
5. فَاسْتَحْيَيْتُ :
sebab malu beliau, kerana beliau paling kecil daripada para sahabat yang hadir waktu itu, sebagaimana dijelaskan di dalam riwayat al-Bukhoriy di kitab Al Ath'imah: "Aku adalah orang kesepuluh dan aku yang paling kecil".
6. هِيَ النَّخْلَةُ :
pohon kurma. Tentulah pohon ini memiliki keistimewaan sehingga dijadikan sebagai permisalan bagi seorang muslim. Tidak hanya ini saja bahkan Allah memberikan permisalahan kalimat thoyibah dengan pohon ini dalam firmannya:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)
Ibnu Hajar berkata: "Imam al-Bukhori telah membawakan hadits ini juga dalam tafsir firman Allah:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَة
Sebagai isyarat dari beliau bahawa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Memang telah ada riwayat yang tegas dari hadits yang dikeluarkan oleh Al Bazaar dari jalan periwayatan Musa bin 'Uqbah dari Naafi' dari Ibnu Umar, beliau menyatakan bahwa Rasululloh n membaca ayat ini dan bersabda: "Apakah kalian tahu pohon apakah itu?" Ibnu Umar menyatakan: "jelas itu adalah pohon kurma, namun usiaku yang kecil menahanku untuk berbicara". Lalu Rasululloh berkata: "ia adalah pohon Kurma".[ 3]
Dengan demikian, Pohon yang baik disini ditafsirkan dengan pohon kurma dan ini adalah pendapat banyak ulama salaf, di antaranya: Ibnu Abbas, Mujahid, Masruq, Ikrimah, Ad Dhohaak, Qatadah dan Ibnu Zaid.[ 4] Pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibbaan daripada jalan periwayatan Abdul Aziz bin Muslim dari Abdullah bin Dinaar dari ibnu Umar bahawa Rasulullah bersabda:
مَنْ يُخْبِرُنِيْ عَنْ شَجَرَةٍ مِثْلُهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِيْ السَّمَاءِ
"Siapakah yang dapat menyebutkan kepadaku satu pohon yang menyerupai seorang mukmin, pokok batangnya kukuh dan cabangnya menjulang kelangit?".[ 5]
Semua ini menunjukkan pohon kurma memiliki keutamaan, ketinggian dan keistimewaan. Semua ini telah ditunjukkan dalam ayat diatas. Namun cukuplah dengan dijadikan sebagai permisalahan seorang muslim menunjukkan ketinggian dan keistimewaannya.
Syarah Hadits.
Nabi di dalam hadits ini memberikan permisalan dan menyerupakan seorang muslim dengan pohon kurma. Tentunya hal ini menunjukkan adanya sisi kesamaan antara keduanya. Memang untuk mengenali dan mengetahui sisi kesamaan ini perlu mendapat perhatian yang cukup, apalagi Allah telah menjelaskan hal ini agar manusia selalu ingat kepadaNya, sebagaimana firmanNya:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)
Diantara sisi kesamaan muslim dengan pohon kurma adalah:[ 6] :
[if !supportLists]-->1. Pohon kurma mesti memiliki akar, pangkal batang, cabang, daun dan buah, demikian juga pohon keimanan, memiliki pokok, cabang dan buah. Pokok imam adalah rukun iman yang enam dan cabangnya adalah amalan sholeh dan aneka ragam ketaatan dan ibadah. Sedangkan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang didapatkan seorang mukmin didunia dan akhirat.
Imam Ahmad berkata: "perumpamaan iman seperti pohon kerana pokoknya adalah syahadatain, batang dan daunnya demikian juga. Sedangkan buahnya adalah sikap wara' (hati-hati). Tidak ada kebaikan pada pohon yang tidak berbuah dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya sifat wara'".[ 7]
Imam Al Baghawiy menyatakan: "Himah daripada penyerupaan iman dengan pohon adalah pepohonan tidak dikatakan sebagai pohon (yang baik) kecuali memiliki tiga hal. Memiliki akar yang kuat, batang yang kukuh dan cabang yang tinggi. Demikian juga iman, tidak sempurna iman kecuali dengan tiga hal, iaitu pembenaran hati, ucapan lisan dan amalan anggota tubuh".[ 8] Demikian juga Ibnul Qayyim mengomentari hal ini di dalam pernyataan beliau: "Ikhlas dan Tauhid adalah satu pohon di hati, cabangnya adalah amalan dan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan nikmat yang abadi di akhirat. Sebagaimana buah-buahan syurga tidak terputus dan tidak terhalang daripada mengambilnya, maka buah tauhid dan ikhlas di duniapun sedemikian. Adapun kesyirikan, dusta dan riya' adalah satu pohon di hati, buahnya di dunia perasaan takut, sedih, duka, kesempitan dan kegelapan hati dan buahnya di akhirat buah zaqqum dan adzab yang abadi. Kedua pohon ini telah dijelaskan Allah dalam
- Pohon kurma tidak akan bertahan hidup kecuali dengan disiram dan dipelihara. Disiram dengan air, jika tidak maka akan kering dan jika ditebang maka mati. Demikian juga seorang mukmin tidak dapat hidup yang hakiki dan istiqomah kecuali dengan siraman wahyu. Oleh kerana itulah Allah menamakan wahyu dengan ruh dalam firmanNya:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh/ wahyu (al-Qur'an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. 42:52) dan firmanNya:
يُنَزِّلُ الْمَلاَئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلآأَنَا فَاتَّقُونِ
Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu:"Peringatkanlah olehmu sekalian,bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa kepada-Ku". (QS. 16:2), kerana kehidupan hakiki bagi hati tidak wujud tanpa wahyu. Sehingga tanpa wahyu manusia dikatakan mayat walaupun bergerak di antara manusia. Allah berfirman:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَالَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَاكاَنُوا يَعْمَلُونَ
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gelita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. 6:122).
Di sini jelas sekali sisi persamaannya. Pohon kurma hanya hidup dengan disiram air dan hati seorang mukmin hanya hidup dengan siraman wahyu.
- Pohon kurma sangat kukuh, sebagaimana firmanNya:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)
Demikian juga iman jika telah mengakar didalam hati, maka menjadi sangat kukuh dan tidak goyah sedikitpun, seperti kukuhnya gunung yang besar menjulang.
Imam Al 'Auzaa'iy ditanya tentang iman, apakah bertambah? Beliau menjawab: "Ya, sehingga membesar seperti gunung". Ditanya lagi, apakah berkurang? Beliau menjawab: "Ya, sehingga tidak bersisa sedikitpun".[ 10] Demikian juga imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang hal yang serupa dan menjawab: "Bertambah sehingga mencapai lebih tinggi daripada langit yang tujuh dan berkurang sehingga menjadi paling rendah daripada bumi yang ketujuh".[ 11]
- Pohon kurma tidak dapat tumbuh di sebarangan tanah, bahkan hanya tumbuh di tanah tertentu yang subur sahaja. Pohon kurma di sebahagian tempat tidak tumbuh sama sekali, disebahagian lainnya tumbuh namun tak berbuah dan disebahagian lain tumbuh berbuah tapi sedikit buahnya. Sehingga tidak semua tanah sesuai untuk pohon kurma. Demikian juga iman, ia tidak kukuh pada semua hati. Ia hanya akan kukuh pada hati orang yang Allah berikan hidayah dan berlapang dada menerimanya. Sehingga tepatlah bila Rasulullah bersabda:
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bum. Ada diantara tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang banyak. Ada juga ajaadib, menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia. Mereka minum, mengambil dan bercucuk tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain yaitu Qii'aan yang tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rumputan. Demikian itulah permisalan orang yang berilmu (faqih) di dalam agama dan mengambil manfaat darinya.DiIa mengetahui dan mengajarkannya dan permisalan orang yang tidak menganggapnya sama sekali dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.[ 12]
- Pohon kurma tidak dapat bercampur dengan tumbuhan pengganggu dan tumbuhan asing yang bukan jenisnya. Mereka ini dapat mengganggu dan melemahkan pertumbuhannya serta mengganggunya di dalam menyerap air. Oleh kerana itu diperlukan perawatan khusus dan selektif daripada pemiliknya. Demikian juga seorang mukmin, pasti menemui hal-hal yang dapat melemahkan iman dan keyakinannya. Juga pasti menemui perkara yang dapat mendesak iman daripada hatinya. Oleh kerana itu diperlukan bermuhasabah di dalam setiap waktu dan bersungguh-sungguh menjaganya. Juga berusaha selalu menghilangkan segala sesuatu yang mengotorinya, seperti was-was, mengikuti hawa nafsunya dan lain-lainnya. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69).
- Pohon kurma memberikan hasilnya setiap waktu, sebagaimana firman Allah :
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya. (QS. Ibrohim 24-25).
Buah pohon ini dimakan waktu siang dan malam, baik di musim dingin atau di musim panas. Dimakan di dalam bentuk kurma (tamar) atau busr atau Ruthab.[ 13] Demikian juga seorang mukmin, amalan mereka naik pada pagi dan malam hari. Rabi' bin Anas menyatakan: "Makna firman Nya: كُلَّ حِينٍ adalah setiap pagi dan malam hari kerana buah kurma selalu dapat dimakan di waktu malam dan siang, baik musim dingin atau panas, baik berupa kurma, busr atau ruthab, demikian juga amalan seorang mukmin naik pada pagi dan malam harinya"[ 14]
Ibnu Jarir Ath Thobariy menyatakan di dalam tafsir ayat ini: "Pendapat yang rajih menurutku adalah pendapat yang menyatakan, makna (كُلَّ حِينٍ ) di dalam ayat ini adalah pagi dan malam, setiap saat kerana Allah menjadikan hasil pohon ini setiap saat daripada buahnya untuk perumpamaan amalan dan perkataan seorang mukmin. Padahal sudah pasti amalan dan perkataan baik seorang mukmin diangkat kepada Allah setiap hari, bukan setiap setahun atau setengah tahun atau dua bulan sekali. Jika demikian, maka jelaslah kebenaran pendapat ini. Jika ada yang bertanya: "Pohon kurma mana yang menghasilkan buah setiap saat buah yang dimakan pada musim panas dan dingin? Jawabnya: adapun di musim dingin, maka Thol' (mayang kurma) adalah buahnya dan di musim panas, maka
- Pohon kurma memiliki barakah di dalam semua bahagiannya. Semua bahagiannya dapat dimanfaatkan. Demikian juga seorang mukmin, sebagaimana sabda Rasulullah :
Dari Abdillah bin umar beliau berkata: "Ketika kamu duduk-duduk disisi Rasulullah tiba-tiba diberikan jamaar (jantung kurma). Rasululloh lalu berkata: "Sesungguhnya terdapat satu pohon, barakahnya seperti barakah seorang muslim". Lalu aku merasakan itu adalah pohon kurma lalu ingin aku sampaikan kepada dia bahawa ia adalah pohon kurma, wahai Rasululloh. Kemudian aku melihat dan mendapati aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu aku diam. Rasulullah berkata: "Ia adalah pohon kurma"".[ 16]
Ibnu Hajar berkata: "Barakah pohon kurma ada pada semua bahagiannya, senantiasa ada di dalam setiap keadaannya. Daripada mulai tumbuh sehingga kering, dimakan semua jenis buahnya, kemudian setelah itu seluruh bahagian pohon ini dapat diambil manfaatnya sehingga bijinya digunakan sebagai makannan ternak. Demikian juga seabutnya dapat dijadikan sebagai tali serta yang lainnyapun demikian. Hal ini sudah jelas. Demikian juga barakah seorang muslim meliputi seluruh keadaannya. Juga manfaatnya terus menerus ada untuknya dan untuk orang lain sehingga setelah matinyapun".[ 17]
- Pohon kurma disifatkan Rasulullah لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا . Sisi persamaannya dengan muslim dijelaskan di dalam riwayat Al haarits bin Abi Usamah dari hadits Ibnu Umar dari periwayatan yang lainnya dengan lafadz:
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ الشَجَرَةِ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ أَتَدْرُوْنَ مَا هِيَ قَالُوا لاَ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ وَ لَا تَسْقُطُ لَمُؤْمِنٍ دَعْوَةٌ
Kami berada bersama Rasulullah pada satu hari, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya permisalan seorang mukmin seperti permisalan pohon yang tidak gugur daunnya. Tahukah kalian pohon apa itu?" Mereka berkata: "tidak" Lalu beliau menjawab: "ia adalah pohon kurma tidak gugur daunnya dan seorang mukmin tidak gugur do'anya".[ 18]
Jadi jelaslah sisi persamaan di antara keduanya. Telah dimaklumi do'a telah disyariatkan dan dijanjikan akan dikabulkan sebagaiman firman Allah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,nescaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri daripada menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam di dalam keadaan hina dina". (QS. 40:60)
Akan tetapi do'a akan dikabulkan dengan kesempurnaan syarat dan tidak adanya penghalang. Kadang-kala tidak dikabulkan kerana tidak cukup sebahagian syaratnya atau kewujudann sebahagian penghalangnya. Adabnya yang paling penting adalah kehadiran hati, pengharapan terkabulnya do'a dan tekad/azam di dalam masalah tersebut.[ 19]
Ibnul Qayyim memberikan makna lain terhadap hadits ini dengan menyatakan hal ini menunjukkan kekonsistenan pohon kurma menjadikannya sebagai pakaian dan perhiasan, sehingga tidak gugur pada musim dingin dan panas. Demikian juga seorang mukmin senantiasa konsisten memakai pakaian ketaqwaan dan perhiasannya sehingga menghadap rabbnya.[ 20]
- Pohon kurma disifatkan di dalam ayat dengan thoyiibah (baik). Ini meliputi baik di dalam pemandangan, gambar dan bentuk. Juga meliputi baik di dalam rasa, buah dan manfaat. Demikian juga seorang mukmin memiliki sifat baik di dalam segala urusan dan keadaannya, baik dzahir ataupun bathin. Oleh kerana itu ketika kaum mukminin masuk syurga terus disambut para malaikat penjaganya dengan menyatakan:
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke syurga berombong-rombongan (pula).Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:"Kesejahteraan (dilimpahkan) ke atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya" (QS. 39:73) dan firmanNya:
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
(iaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):"Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS.
) serta firman Allah :
إِنَّ اللهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ
Sesungguhnya Allah mamasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di syurga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang daipada emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.
Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki(pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. (QS. 22:23-24)
- Pohon kurma disifatkan dengan sabda Rasululloh:
إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّخْلَةُ ماَ أَخَذَتَ مِنْ شَيْئٍ نَفَعَكَ
Sesungguhnya permisalan mukmin seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu daripadanya, nescaya bermanfaat bagimu.[ 21] Pohon kurma seluruhnya bermanfaat, demikian juga seorang mukmin ketika bergaul dengan teman dan sekitarnya. Ia tidak menampakkan kecuali akhlak yang mulia, adab budi pekerti yang luhur, muamalah baik, memebrikan kebaikan dan tidak mengganggu mereka. Selalu memberikan manfaat kepada mereka dalam seluruh pergaulannya.
- Pohon kurma memiliki perbezaan antara satu dengan yang lainnya. Perbezaan di dalam bentuk, jenis dan buahnya. Pohon kurma tidak hanya satu tingkat dalam kebagusan dan kualiti, sebagaimana firman Allah :
وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَآءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dan di bumi ini terdapat bahagian-bahagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang, disirami dengan air yang sama.Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu ke atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. 13:4) demikianlah pohon kurma berbeza di dalam rasa, bentuk dan jenisnya, sebagiannya lebih baik dari sebagian yang lainnya.
Demikian juga keadaan antaar kaum mukminin. Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya dan tidak hanya satu tingkat di dalam iman. Allah berfirman:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَالْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.Yang demikian itu itu adalah kurnia yang amat besar. (QS. 35:32).
- Pohon kurma termasuk pohon yang paling sabar menghadapi angin dan ributnya. Kebanyakan tumbuhan tidak mampu sabar bertahan daripada kekeringan air seperti kesabaran pohon kurma. Demikian juga seorang mukmin selalu sabar di dalam menghadapi bala, malapetaka dan musibah. Berkumpul pada seorang mukmin kesabaran dengan ketiga jenisnya, iaitu sabar di dalam ketaatan Allah, sabar daripada kemaksiatan dan sabar menghadapi takdir yang menyedihkan. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُوْلآئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat daripada Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)
Dan firmanNya:
قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Katakanlah:"Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu".Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. 39:10)
- Pohon kurma semakin tua semakin bertambah baik dan tinggi kualitinya. Demikian juga seorang mukmin jika panjang usianya maka bertambah kebaikan dan amal sholehnya. Imam At Tirmidziy meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Busr, beliau berkata:
أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
Seorang a'robiy bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah siapakah orang yang terbaik? Rasulullah n bmenjawab: "Orang yang panjang umur dan baik amalannya".[ 22]
- Pohon kurma tidak pernah berhenti memberi manfaat walaupun gagal berbuah. Manusia dapat mengambil pelepah, daun dan sabutnya untuk kegunaan yang banyak. Demikian juga seorang mukmin tidak pernah lepas daripada kebaikan. Selalu mengeluarkan kebaikan dan terjaga daripada berbuat kejelekan, sebagaimana sabda rasulullah:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ
Maukah kalian aku beritahu orang terbaik dari terjelek daripada kalian. Lalu beliau mengulanginya tiga kali. Lalu seorang bertanya: "Wahai Rasulullah beritahulah kami tentang orang terbaik dari terjelek daripada kami" Rasulullah menjawab: "orang terbaik daripada kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman daripada kejelekannya dan orang terjelek adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan manusia tidak aman daripada kejelekannya".[ 23]
Imam Ikrimah menafsirkan firman Allah : كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ dengan menyatakan: "Dialah pohon kurma yang senantiasa memberi manfaat".[ 24]
Demikian juga seorang mukmin senantiasa memberi manfaat sesuai dengan bahagian dan kekuatan imannya.
- Pohon kurma mudah dipetik buahnya kerana pohon kurma kadang-kala pendek sehingga mudah memetiknya dan kadang-kala tinggi dan besar. Walaupun besar masih mudah memanjatnya dibandingkan dengan memanjat pohon lain yang setingginya. Ini kerana terdapat tangga dan tempat memijak sehingga ke atas. Demikian juga seorang mukmin mudah mengambil kebaikan darinya.
- Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat kerana ruthabnya dimakan sebagai buah-buahan dan manis. Juga kurma yang telah kering menjadi makanan pokok, lauk dan buah serta dapat dihasilkan daripadanya cuka dan pemanis. Kurma juga dibuat sebagai ubat dan minuman. Manfaatnya sudah cukup jelas bagi yang menggunakannya. Demikian juga mukmin memiliki keumuman manfaat dan keaneka ragaman kebaikan dan kebagusaannya.
Ditambah lagi buah kurma memiliki rasa manis dan iman pun memiliki rasa manis yang tidak dapat merasakannya kecuali orang yang memiliki iman yang benar. Oleh kerana itu Rasululah bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Tiga perkara, jika seorang memilikinya eiscaya merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada yang lainnya dan mencintai seseorang hanya kerana Allah serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan kedalam api.[ 25]
Imam Abu Muhammad bin Abi Jamroh menyatakan: "Diibaratkan dengan rasa manis dalam hadits ini kerana Allah menyerupakan iman dengan pohon dalam firmanNya:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ
Kalimat didalam ayat ini adalah kalimat ikhlas dan pohonnya adalah pokok iman, cabangnya adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Sedang daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan seorang mukmin, buahnya adalah ketaatan".[ 26]
- Persamaan sifat pohon kurma dengan sifat mukmin sehingga Ibnul Qayyim menyatakan: "Sebahagian orang ada yang telah menyamakan manfaat-manfaat ini (manfaat pohon kurma) dengan sifat muslim. Mereka menjadikan setiap manfaat darinya dihadapkan dengan satu sifat muslim. Ketika sampai pada duri pohon kurma, maka dihadapkan kepada sifat keras dan tegas terhadap musuh Allah dan orang fajir. Sehingga kekerasan dan ketegasan terhadap mereka (para musuh tersebut) seperti kedudukan duri pohon kurma dan sikap mereka terhadap mukmin yang taqwa seperti kedudukan ruthab yang manis dan lembut. Allah berfirman:
أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka:. (QS. 48:29) [ 27]
oleh kerana itu para ulama yang terkenal keras dan tegas dalam membantaha orang-orang bathil dinamakan duri dileher mereka.
Demikianlah di antara persamaan yang ada.
Para
pensyarah hadits ini memberikan beberapa persamaan yang lainnya, namun semuanya lemah dan sebahagiannya batil. Imam Ibnu Hajar telah meringkasnya di dalam kitab Fathul Bariy dengan menyatakan: "Adapun orang yang menganggap letak persamaan di antara muslim dengan pohon kurma dari sisi: jika dipotong kepalanya ia akan mati, atau kerana pohon kurma tidak berbuah tanpa perkahwinan, atau ia mati dengan ditenggelamkan, atau bau putik sarinya seperti mani manusia atau ia minum daripada bagian atasnya. Semuanya ini lemah, kerana sisi persamaan tersebut juga untuk seluruh manusia tidak khusus kepada muslim. Yang lebih lemah lagi adalah pernyataan bahwa pohon kurma diciptakan daripada tanah sisa penciptaan adam kerana hadits yang menunjukkannya tidak shohih, Wallahu a'laam".[ 28]
Dengan demikian telah kita ketahui iman adalah pohon mubarokah yang memiliki manfaat dan faedah besar serta buah hasil. Iman memiliki tempat khusus penanaman dan siraman khusus, juga memiliki pokok, cabang dan buah. Tempatnya adalah hati seorang mukmin, siramannya adalah wahyu dan pokoknya adalah rukun iman yang enam. Sedangkan cabangnya adalah amalan sholeh dan ketaatana yang beraneka ragam yang dilakukan seorang mukmin dan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang dirasakan seorang mukmin didunia dan akherat. Inilah diantara buah dan hasil iman. Wallahu a'lam bis Showaab.
Faedah yang diambil dari Hadits.
Diantara faedah yang diambil dari hadits ini adalah:
- orang yang diberi teka-teki hendaklah memerhatikan indicator yang menunjukkan jawapannya.
- Ujian seorang alim terhadap muridnya tentang sesuatu yang belum jelas dan menjelaskannya jika mereka belum faham.
- Motivasi untuk memamahami ilmu. Imam Bukhori membuat bab untuk hadits ini bab Fahm fil Ilmu
- Dhorbul Amtsal dan asybah untuk menambah faham
- Soal jawab.
- Penggambaran makna untuk mengukuhkan pemahaman
- Tasybih sesuatu dengan sesuatu tidak mesti harus sama di dalam setiap sisi
- Imam memberikan permasalahan kepada anak buahnya untuk menguji ilmu yang dimiliki mereka. (Bukhori)
- Ulama besar kadang-kala tidak tahu sesuatu yang diketahui orang yang dibawahnya kerana ilmu itu pemberian Allah.
- Malu dianggap baik selama tidak melepaskan maslahat yang ada.
- Mengutamakan orang yang lebih tua.
Wassalam
Di edit oleh Abu Usamah
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/32189
[ 4] Lihat makalah Syeikh Abdirrozaaq Al 'Abaad dalam majalah Al Jaami'ah Al Islamiyah edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 205
[ 6] sisi kesamaan ini diambil dan disadur daripada makalah yang berjudul Taammulaat Fi Mumatsalatul Mukmin Bin Nahlah, tulisan Syeikh DR. Abdurrozaq bin Abdilmuhsin Al 'Abaad dalam majalah Al Jaami'ah Al Islamiyah edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 209-221. dengan penambahan dan pengurangan.
[ 13] Busr adalah kurma yang belum matang menjadi ruthab sedangkan Ruthob adalah kurma matang yang masih belum meleleh atau mengeras.
[ 21] Diriwayatkan oleh Ath Thobraniy dalam mu'jamul Kabir 12/ no.13514 dan
hafidz Ibnu Hajar menyatakan: "Sanadnya shohih".
[ 23] Diriwayatkan imam At Tirmidziy dalam sunannya no. 2263 dan Ahmad no. 8456 dan dishohihkan Al Albani dalam shohih
jaami' no. 332
Thursday, May 10, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Saturday, October 21, 2006
Tazkirah Ramadhan 4: 5 PERKARA ELOK DISEBUT
Dalam sesi muzakarah kali ini, saya hendak menarik perhatian tentang 5 perkara yang patut disebut-sebut selalu untuk memberi kesedaran kepada kita sepanjang menjalani hidup ini.
Nabi Muhammad saw pernah mengingatkan umat-umatnya tentang kelima-lima perkara ini iaitu:
- Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk.
Sudah menjadi kebiasaan bagi kita menyebut atau memuji-muji orang yang berbuat baik kepada kita sehingga kadang-kadang kita terlupa hakikat bahawa terlampau banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Lantaran itu, kita terlupa memuji dan menyebut-nyebut nama Allah. Makhluk yang berbuat baik sedikit kita puji habisan tapi nikmat yang terlalu banyak Allah berikan kita langsung tak ingat. Sebaik-baiknya elok dibasahi lidah kita dengan memuji Allah setiap ketika, bukan ucapan Al-hamdulillah hanya apabila sudah kekenyangan hingga sedawa. Pujian begini hanya di lidah saja tak menyelera hingga ke hati.
- Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut urusan dunia .
Dunia terlalu sedikit dibandingkan dengan akhirat. 1000 tahun di dunia setimpal dengan ukuran masa sehari di akhirat. Betapa kecilnya nisbah umur di dunia ini berbanding akhirat. Nikmat dunia juga 1/100 daripada nikmat akhirat. Begitu juga seksa dan kepayahan hidup di dunia hanya 1/100 daripada akhirat. Hanya orang yang senteng fikiran sibuk memikirkan Wawasan Dunia (WD) hingga terlupa Wawasan Akhirat (WA). Manusia yang paling cerdik ialah mereka yang sibuk merancang Wawasan Akhiratnya. Saham Amanah Dunia (SAD) tak penting, tapi yang paling penting ialah Saham Amanah Akhirat (SAA) yang tak pernah rugi dan merudum malahan sentiasa naik berlipat kali ganda. Oleh itu perbanyakkanlah menyebut-nyebut perihal akhirat supaya timbul keghairahan menanam dan melabur saham akhirat.
- Perbanyakkan menyebut dan mengingat hal-hal kematian daripada hal-hal kehidupan .
Kita sering memikirkan bekalan hidup ketika tua dan bersara tapi jarang memikirkan bekalan hidup semasa mati. Memikirkan mati adalah sunat kerana dengan berbuat demikian kita akan menginsafi diri dan kekurangan amalan yang perlu dibawa ke sana. Perjalanan yang jauh ke akhirat sudah tentu memerlukan bekalan yang amat banyak. Bekalan itu hendaklah dikumpulkan semasa hidup di dunia ini. Dunia ibarat kebun akhirat. Kalau tak usahakan kebun dunia ini masakan dapat mengutip hasilnya di akhirat? Dalam hubungan ini eloklah sikap Saidina Alli dicontohi. Meskipun sudah terjamin akan syurga, Saidina Ali masih mengeluh dengan hebat sekali tentang kurangnya amalan untuk dibawa ke akhirat yang jauh perjalanannya. Betapa pula dengan diri kita yang kerdil dan bergelumang dengan dosa?
- Jangan menyebut-nyebut kebaikan diri dan keluarga.
Syaitan memang sentiasa hendak memerangkap diri kita dengan menyuruh atau membisikkan kepada diri kita supaya sentiasa mengingat atau menyebut-nyebut tentang kebaikan yang kita lakukan sama ada kepada diri sendiri, keluarga atau masyarakat amnya. Satu kebaikan yang kita buat, kita sebut-sebut selalu macam rasmi ayam 'bertelur sebiji riuh sekampung'. Kita terlupa bahawa dengan menyebut dan mengingat kebaikan kita itu sudah menimbulkan satu penyakit hati iaitu ujub. Penyakit ujub ini ibarat api dalam sekam boleh merosakkan pahala kebajikan yang kita buat. Lebih dahsyat lagi jika menimbulkan ria' atau bangga diri yang mana Allah telah memberi amaran sesiapa yang memakai sifatNya (ria') tidak akan mencium bau syurga. Ria' adalah satu unsur dari syirik (khafi). Oleh itu eloklah kita berhati-hati supaya menghindarkan diri daripada mengingat kebaikan diri kita kepada orang lain. Kita perlu sedar bahawa perbuatan buat baik yang ada pada diri kita itu sebenarnya datang dari Allah. Allah yang menyuruh kita buat baik. Jadi kita patut bersyukur kepada Allah kerana menjadikan kita orang baik, bukannya mendabik dada mengatakan kita orang baik. Kita terlupa kepada Allah yang mengurniakan kebaikan itu.
- Jangan sebut-sebut dan nampak-nampakkan keaiban atau keburukan diri orang lain .
Kegelapan hati ditokok dengan rangsangan syaitan selalu menyebabkan diri kita menyebut-nyebut kesalahan dan kekurangan orang lain. Kita terdorong melihat keaiban orang sehingga terlupa melihat keaiban dan kekurangan diri kita sendiri. Bak kata orang tua-tua 'kuman seberang lautan nampak, tapi gajah di depan mata tak kelihatan'. Islam menuntut kita melihat kekurangan diri supaya dengan cara itu kita dapat memperbaiki kekurangan diri kita. Menuding jari mengatakan orang lain tak betul sebenarnya memberikan isyarat bahawa diri kita sendiri tidak betul. Ibarat menunjuk jari telunjuk kepada orang; satu jari arah ke orang itu tapi 4 lagi jari menuding ke arah diri kita. Bermakna bukan orang itu yang buruk, malahan diri kita lebih buruk daripadanya. Oleh sebab itu, biasakan diri kita melihat keburukan diri kita bukannya keburukan orang lain. Jangan menjaga tepi kain orang sedangkan tepi kain kita koyak rabak. Dalam Islam ada digariskan sikap positif yang perlu dihayati dalam hubungan sesama manusia iaitu lihatlah satu kebaikan yang ada pada diri seseorang, meskipun ada banyak kejahatan yang ada pada dirinya. Apabila melihat diri kita pula, lihatkan kejahatan yang ada pada diri kita walaupun kita pernah berbuat baik. Hanya dengan cara ini kita terselamat dari bisikan syaitan yang memang sentiasa mengatur perangkap untuk menjerumuskan kita ke dalam api neraka.
Saturday, October 21, 2006 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Tazkirah Ramadhan 3: LUQMANUL HAKIM: Teladan Tarbiyah Unggul
Ia lebih menekankan soal keinsafan, kesedaran dan sikap tanggungjawab yang mendalam di samping mempunyai aqidah yang kental terhadap Allah SWT. Justeru itu, Allah SWT telah merakamkan beberapa keistimewaan yang dilakukan oleh Luqmanul Hakim sewaktu mendidik anak. Di antara nasihat Lukman kepada anaknya ialah:
1. Hendaklah engkau selalu berada di majlis para ulama' dan dengarlah kata-kata para hukama (orang yang bijaksana), kerana Allah menghidupkan jiwa yang mati dengan hikmat sepertimana menghidupkan bumi yang mati dengan hujan yang lebat.
2. Janganlah engkau jadi lebih lemah daripada seekor ayam jantan, ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan engkau pada ketika itu masih terbaring di atas katilmu.
3. Janganlah engkau menangguhkan taubat kepada Allah kerana mati itu akan datang tiba-tiba.
4. Dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak orang sudah ditenggelamkannya. Oleh itu, jadikanlah taqwa sebagai kapalnya.
5. Pukulan bapa ke atas anaknya bagaikan air menyirami tanaman.
6. Tiga orang yang tidak dapat dikenali melainkan pada tiga keadaan. Orang yang lemah lembut melainkan ketika marah, orang yang berani melainkan ketika berperang dan saudara maramu melainkan ketika engkau berhajat dan memerlukan pertolongan daripadanya.
7. Sesungguhnya dunia ini sedikit sahaja, sedangkan seluruh umurmu lebih sedikit daripada itu. Manakala umurmu yang masih berbakti lagi amat sedikit daripada yang lebih sedikit tadi.
AQIDAH
Masalah aqidah adalah masalah yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia merupakan asas atau tapak bagi pembangunan Islam. Dewasa ini kita dapati banyak penyelewengan terjadi sama ada dari segi pemikiran, perkataan mahupun tingkah laku. Kesemuanya berpunca daripada tidak memahami aqidah Islam secara mendalam.
Firman Allah yang bermaksud:
"Dan ingatlah sewaktu Luqman berkata kepada anaknya: "Wahai anak kesayanganku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain). Sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar."(Surah Luqman: 31).
Ayat ini jelas menunjukkan bahawa Luqman memulakan nasihat kepada anaknya supaya tidak melakukan syirik kepada Allah SWT. Jiwa anak yang masih suci itu harus dibersihkan daripada sebarang kerosakan dan kesesatan yang berpunca daripada syirik. Ini bererti pendidikan tauhid mesti diajar dan ditanam ke dalam jiwa anak-anak sejak dari kecil lagi.
Kebanyakan ibu bapa hari ini tidak menekankan pelajaran tauhid kepada anak-anak. Bukan sahaja demikian bahkan terdapat juga di kalangan ibu bapa tidak tahu mengenai pelajaran tauhid. Siapakah yang harus dipersalahkan sekiranya anak-anak generasi muda mudah tergelincir keimanannya?
Syirik amat mudah berlaku sekiranya di dalam diri seseorang itu tidak ditanamkan dengan aqidah untuk beriman dengan Allah SWT secara kental. Membentuk jiwa anak-anak agar sentiasa mengingati Allah dalam segala gerak geri dan perbuatannya adalah menjadi tugas dan tujuan yang paling utama bagi setiap pendidikan.
Hal yang demikian tidak mungkin berlaku kecuali setelah setiap pendidik membiasakan anak-anak mengingati Allah ketika mereka sedang bekerja, berfikir dan mendapat sesuatu. Ibu bapa perlu banyak mendidik anak-anak dengan membiasakan mereka melihat perbuatan yang baik daripada ibu bapa. Sebagai contoh Sahal bin Abdullah menceritakan bahawa:
"Ketika aku berumur tiga tahun, aku sudah mulai bangun malam dan memerhatikan bapa saudaraku solat. Tiba-tiba pada suatu hari dia bertanya kepada aku, adakah engkau mengingati Allah yang menjadikan engkau? Lalu aku bertanya, bagaimana cara mengingati-Nya?, kemudian beliau berkata kepada ku, sebutkan dalam hatimu tiga kali ketika hendak tidur tanpa menggerakkan lidah mu (Allah bersamaku, Allah melihatku dan Allah menyaksikanku).
Setelah beberapa kali aku melakukan, lalu disuruhkan pula aku menyebutnya tujuh kali pada setiap malam. Selepas itu disuruhnya pula sebelas kali sehingga aku merasakan kemanisan bacaan itu dalam hatiku. Setelah berlalu masa setahun, maka dia berkata kepadaku, "Wahai Sahal! jagalah baik-baik apa yang aku ajarkan engkau itu dan bacalah ia hingga engkau masuk ke dalam kubur."
Katanya lagi, "Wahai Sahal! Siapa yang mengetahui dan menyedari yang Allah sentiasa bersamanya, menyaksikannya, apakah boleh dia berbuat maksiat lagi? Jauhkanlah dirimu daripada perbuatan maksiat." Melalui proses latihan yang disebutkan di atas serta pendidikan keimanan yang murni muncullah Sahal menjadi seorang ulama' yang terkenal.
SOLAT
Firman Allah bermaksud:
"Wahai anak kesayanganku! Dirikanlah solat." (Surah Luqman: 17). Islam memberikan keutamaan yang sangat besar kepada solat yang tidak pernah diberikan kepada ibadat lain. Kerana ia adalah tiang agama, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w bermaksud: "Pokok pangkal sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah solat dan kemuncaknya adalah jihad fi sabillillah." Solat yang dikhendaki oleh Islam bukanlah sekadar berkata-kata yang diucapkan oleh lidah dan pergerakan badan.
Tetapi solat yang sebenar adalah yang dilakukan dengan penuh perhatian dan tumpuan pemikiran, penuh rasa takut dalam hati serta menzahirkan keagungan dan kebesaran Allah, itulah solat yang diterima oleh Allah SWT.
Dari segi kejiwaan, solat memberikan ketenangan dan kekuatan bagi jiwa seseorang. Daripada segi kesihatan, ia mendidik seseorang supaya menjaga kebersihan dan melatih badan agar sentiasa segar dan cergas. Dari segi akhlak pula ia mencegah perbuatan mungkar dan menjaga waktu manakala dan dari segi kemasyarakatan solat mendidik persamaan dan persaudaraan.
Berbakti kepada kedua ibu bapa
Firman Allah yang bermaksud:
"Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya, ibunya mengandungkan dengan menanggung kelemahan demi kelemahan, dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun. "Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapamu, kepada Ku jua tempatmu kembali." (Surah Luqman: 41)
Ibu bapa mempunyai kedudukan yang paling istimewa. Mereka menduduki tempat yang kedua sesudah beriman kepada Allah dan Rasulullah. Oleh kerana itu, tiada seorang pun di atas muka bumi ini yang dapat menyamai kedua dua ibu bapa. Berbakti kepada ibu bapa adalah wajib ke atas setiap anak dalam apa jua keadaan sekalipun ia merupakan asas terpenting dalam pendidikan Islam.
Manakala menderhaka kepada kedua ibu bapa adalah berdosa besar. Adalah mudah bagi anak-anak yang sudah biasa terdidik atas sikap berbakti dan menghormati kedua ibu bapa untuk dididik dan diasuh supaya menghormati jiran tetangga, guru-guru dan seterusnya menghormati manusia seluruhnya.
SABAR
Kesabaran adalah suatu keperluan dalam usaha menegakkan keimanan, melaksanakan amal soleh, memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Semuanya bukanlah suatu perkara yang mudah. Oleh itu, ia sangat memerlukan kesabaran. Kesabaran dalam menghadapi hawa nafsu, musuh-musuh luar dan kesusahan lain. Begitu juga kesabaran amat perlu dalam menempuh jalan perjuangan yang amat panjang dan semestinya mengikuti tahap-tahap yang teratur untuk menuju matlamat.
JANGAN SOMBONG
Sifat takabur adalah lahir daripada perasaan bangga diri yang merasakan dirinya lebih baik daripada orang lain. Biasanya seseorang yang takabur dikuasai oleh sifat-sifat buruk lain seperti taksub, mudah marah, dendam dan hasad dengki. Sebaliknya, Islam menganjurkan tawadduk kerana ia salah satu sifat terpuji yang amat digalakkan oleh Islam. Kalau takabur menjadi punca pertelingkahan dan perbalahan, maka tawaduk adalah pengikat yang menguatkan persaudaraan, mengukuhkan perpaduan serta melahirkan keselamatan dan ketenangan.
KESEDERHANAAN
Kesederhanaan menggambarkan ketenangan dan kesopanan tingkah laku. Tenang dan sopan santun adalah buah daripada budi pekerti mulia yang sangat dituntut oleh Islam. Begitu juga melembutkan suara ketika bercakap adalah menjadi ukuran pekerti mulia.
DAKWAH
Adalah menjadi fardhu ain bagi setiap muslim supaya melaksanakan tugas menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Firman Allah bermaksud:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah daripada yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung," (Surah Ali Imran: 104).
Pendidikan Luqman adalah pendidikan yang menyeluruh dan lengkap meliputi asas-asas aqidah, ibadat, akhlak dan dakwah. Oleh sebab itulah Allah telah merakamkan pendidikan Luqman itu untuk dijadikan contoh kepada umat Islam sepanjang zaman.
Saturday, October 21, 2006 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Tazkirah Ramadhan 2: JALAN KE SYURGA PENUH DURI
Syurga ialah tempat kenikmatan dan kebahagiaan di akhirat yang dikurniakan kepada hamba-hamba Allah yang beramal soleh. Neraka pula tempat azab keseksaan disediakan untuk mereka yang beramal tholeh (kejahatan).
Untuk melayakkan diri ke syurga, seseorang itu mestilah menempuh banyak ujian seperti melaksanakan suruhan Allah dan rasul serta menjauhi laranganNya. Kesemua ini memerlukan semangat dan kekuatan yang bermula dari keimanan kepada Allah. Sudah tentu untuk mengerjakan solat, puasa, haji dan amal kebajikan lain amat payah kecuali bagi mereka yang beriman. Sebab itulah Nabi mengatakan jalan ke syurga penuh dengan kesusahan.
Bukan mudah untuk masuk ke syurga. Kita kena bermujahadah atau berjuang melawan nafsu untuk melakukan kebaikan. Syaitan dan nafsu memang menyuruh kita berbuat kejahatan dan tidak menggalakkan kita melakukan kebajikan. Jika kita turutkan kehendak syaitan sudah tentu kita tidak mampu melakukan sebarang kebajikan.
Sebaliknya jalan ke neraka amat mudah kerana dikelilingi dengan kehendak syahwat. Semua manusia memang cenderung mengikut kehendak nafsu dan syahwat. Syaitan pula sentiasa mendorong manusia mengikut hawa nafsu. Amat mudah melakukan kejahatan.
Nah, di depan kita terbentang dua jalan. Terpulang kepada kita jalan mana untuk diikuti. Tepuk dada dan tanyakan iman - bukan tanya selera yang memang suka kepada nafsu.
Betapa tak susah masuk syurga? Dalam satu keterangan dinyatakan: orang jahil semuanya binasa kecuali yang berilmu. Orang berilmu semuanya binasa kecuali yang beramal. Orang beramal semuanya binasa kecuali yang ikhlas. Untuk mencapai darjah keikhlasan perlu banyak berjuang. Ibarat mendaki bukit yang tinggi, hanya orang yang lasak saja berjaya sampai ke mercu.
Kebahagiaan di dunia belum menjadi pasport untuk ke syurga. Malahan adalah menjadi kesalahan jika kekayaan yang didapati tidak diperolehi dan dibelanjakan secara Islamik.
Semua manusia inginkan hidup senang. Kesenangan di dunia hanya sementara manakala kesenangan akhirat kekal abadi. Orang yang bijak sudah tentu memilih kesenangan yang hakiki bukan yang bersifat sementara. Hanya orang yang cetek akal saja memilih kesenangan dunia dan mengenepikan kesenangan akhirat.
Syaitan selalu membisikkan kepada kita tentang amal kita yang banyak walaupun baru sikit benar. Kita gembira apabila dipuji manusia. Timbul rasa ujub dan riak yang memusnahkan pahala. Kita tak perasan kita sebenarnya berdosa sebaliknya menyangka kita masih beramal soleh. Kita mesti mengawas dari serangan penyakit batin seperti ria, ujub, bongkak, sombong, dengki yang kesemuanya merosakkan amalan. Di sini peranan ilmu tasauf yang perlu kita pelajari dan dalami.
Perlu kita ketahui sebelum kita melakukan sebarang ketaatan, Allah sudah terlebih dulu mendahului dan mengingati kita. Kalau Allah tak gerakkan kita untuk beramal, kita tak akan beramal. Ini maknanya Allah mendahului kita. Jangan sangka kita yang beramal, sebenarnya Allah menggerakkan kita beramal. Jadi soal pahala tak timbul. Sepatutnya kita bersyukur kerana Allah gerakkan kita beramal.
Bagaimana kita mahu mendabik dada tentang amalan kita? Saidina Ali yang sudah dijamin masuk syurga pun mengeluh kerana bimbang kurang amalan sedangkan perjalanan ke syurga amat jauh. Saidina Ali memang terkenal dengan zuhud dan banyaknya melakukan amal ibadat. Bagaimana dengan diri kita? Saidina Ali Menggigil mengenangkan bekalan yang sikit untuk perjalanan ke akhirat yang jauh.
Kesimpulannya kita terpaksa mengharung kesusahan mencari ilmu akhirat serta mengamalkannya. Kesusahan dalam hal akhirat adalah rahmat. Dengan kesusahan ini Allah mengampun dan meninggikan darjat kita. Dunia bukan tempat bersenang-lenang. Kesenangan hanya di akhirat. Seseorang tidak diberi pahala jika tidak bersusah-payah menempuh dugaan dan cabaran.
Ingat sekali lagi pesanan Nabi saw "Jalan ke Syurga dikelilingi dengan kepayahan. Jalan ke Neraka pula dikelilingi dengan nafsu dan syahwat." Oleh itu, utamakanlah kepayahan kerana itu jalan ke syurga. Jauhilah kesenangan berbentuk nafsu syahwat kerana itu jalan ke neraka. Wallahu 'Alam. .
Saturday, October 21, 2006 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Monday, October 16, 2006
Tazkirah Ramadhan 1: Doa Ramadhan - Ust Haron Din
Oleh Tuan Guru Dato’ Dr. Haron DinAPAKAH DOA YANG PALING UTAMA DI BULAN RAMADAN?
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah sekalian. Kedatangan bulan Ramadhan walaupun menjadi suatu kebiasaan kepada kebanyakan orang, tetapi sebenarnya ianya menjadi suatu mercu tanda kepada orang-orang yang ingin mencapai kepada matlamat penghidupan yang sebenarnya iaitu seperti yang disebutkan oleh Allah swt khususnya dalam kontek kita berpuasa disebutkan sebagai “La ‘al lakum tat takuun” maksudnya dengannya kamu akan memperolehi darjat ketaqwaan kepada Allah swt. Menjadi suatu yang agak lumrah kepada insan, biasa disebut, di hafal dan diingati kalimah ini “La ‘al lakum tat takuun”, tetapi pernahkah, sampaikah kita ke tahap “tat takuun” itu bila sampai Ramadan dan berakhir Ramadan?
Sampaikah kita kepada apa yang nabi sebut kepada isteri-isterinya dan kepada sahabat-sahabatnya iaitu “Faya ‘ajaban liman adraka ramada na fala yukh farulah”, iaitu maksudnya “Alangkah hairannya (ajaibnya) bagi orang yang telah sampai umurnya kepada menjelang Ramadan, apabila habis Ramadan hairan kalau dia tidak mengambil kesempatan untuk Allah mengampunkan semua dosa-dosanya”.
Tidak ada insan yang tidak berdosa melainkan nabi yang maksom. Kita lihat dizaman ini banyak perkara yang terpaksa kita telan dan kita tempuh. Akibatnya kita terpaksa menerima kemurkaan-kemurkaan Allah swt. kepada hamba-hambanya. Kita lihat dari bala bencana, musibah demi musibah, kita lihat dari berbagai-bagai kejadian yang tidak menyenangkan menunjukkan bahawa adanya kemurkaan Allah. Allah tidak akan murka melainkan kerana besarnya dosa manusia. Kerana itu datang ramadan, memanglah boleh menghairankan orang yang sempat hidup sampai Ramadan, apabila habis Ramadan dosa dia tidak terampun.
Sebab itu Siti Aisyah radiaAllahhu anha ingin sangat untuk bertemua peluang dengan malam Qadar (Lailatul Qadar), dia bertanya kepada nabi “Bilakah berlaku malam Qadar?”. Nabi bertanya kepada Aisyah semula “Apakah kamu nak buat bila kamu bertemu dengan malam Qadar?”. Aisyah menjawab “Saya tak tahu” kemudian Aisyah bertanya lagi “Apakah yang patut saya buat bila bertemu dengan malam Qadar itu?”. Nabi berkata kepada Aisyah “Malam itu malam yang amat baik untuk beramal dimalamnya dan amat mudah dimakbul Allah doanya”. Aisyah bertanya lagi “Apakah doa yang paling baik untuk aku berdoa pada malam itu?” Nabi jawab “ Kalau kamu sempat berjumpa dan mengetahui malam itu ialah malam Qadar berdoalah
“Allah humma innaka ‘afuu ’un karimun tuhib bul ‘af wa fa’ fu ‘anni” (maknanya Ya Allah, Kamulah Tuhan yang sangat suka mengampun, ampunkanlah dosa-dosa saya).
Sebenarnya Nabi dah tahu yang Aisyah itu akan masuk syurga ertinya dosanya telah diampunkan oleh Allah tetapi kenapa Nabi masih menyuruh Aisyah untuk memohon kepada Allah agar diampunkan dosa?. Sedangkan Aisyah memang layak untuk tidak dimasukkan ke dalam neraka, hanya layak ke syurga. Soal dosa dan pahala dia dah tak kisah sangat tapi nabi masih menyuruhnya berdoa supaya Allah ampunkan dosa.
Saya nak kaitkan dengan satu kisah iaitu bila Allah bagi tahu kepada nabi Muhammad s.a.w. iaitu ada insan yang akan lahir dikalangan Tabiin (“Tabiin” maknanya satu kumpulan insan yang tidak sempat berjumpa dengan nabi tetapi hanya sempat berjumpa dengan sahabat nabi sahaja. Kalau orang yang sempat berjumpa dengan nabi, itu dipanggil “Sahabat”. Kalau orang yang lahir kedunia ini setelah nabi wafat tetapi sempat berjumpa dengan Sahabat ia dipanggil Tabiin).
Nabi berpesan kepada Umar dan Ali, “Akan lahir dikalangan Tabiin seorang insan yang doa dia sangat makbul nama dia Uwais al-Qarni dan dia akan lahir dizaman kamu”.
Kita telah mengenali siapa dia Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali iaitu orang-orang yang telah disenaraikan sebagai “al-Mubasyirun bil Jannah” iaitu mereka dah dijamin masuk syurga.
Nabi seterusnya berkata kepada Umar dan Ali, “Dizaman kamu nanti akan lahir seorang insan yang doa dia sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dbesarkan di Yaman. Dia akan muncul dizaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia mintak tolong dia berdoa untuk kamu berdua.”
Sama juga macam kisah Siti Aisyah tadi, Umar dan Ali bertanya kepada nabi soalan yang sama iaitu “Apakah yang patut saya mintak daripada Uwais al-Qarni, Ya Rasulullah? Nabi menjawab “Kamu mintak kepadanya supaya dia berdoa kepada Allah agar Allah ampunkan dosa-dosa kalian”.
Banyak peristiwa sahabat yang berjumpa dengan nabi, mintak sesuatu yang baik kepada mereka, nabi menjawab “Pohonlah al-Maghfirah daripada Allah swt.” Jadi topik al-Maghfirah (keampunan) ini menjadi topik yang begitu dicari yang begitu relevan, hatta kepada orang yang telah disenaraikan sebagai ahli syurga. Kalau logiknya ahli syurga macam dah tak perlu kepada ampun dosa kerana mereka dah dijamin masuk syurga, tetapi tidak, nabi masih tekankan supaya mintak Allah ampunkan dosa.
Siti Aisyah telah bertemu dengan malam Qadar, dia telah berdoa sepanjang malam sampai ke subuh dengan doa yang nabi ajarkan iaitu “Allah humma innaka ‘afuu ’un karimun tuhib bul ‘af wa fa’ fu ‘anni” (maknanya Ya Allah, Kamulah Tuhan yang sangat suka mengampun, ampunkanlah dosa-dosa saya).
Memang benarlah firasat seorang nabi, Uwais al-Qarni telah muncul di zaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali. Memang mereka tunggu dan cari kabilah-kabilah yang datang dari Yaman ke Madinah, akhirnya bertemu mereka dengan Uwais al-Qarni.
Dengan pandangan mata luar, tidak mungkin dia orang yang nabi maksudkan. Kerana orang itu pada pandangan insan-insan biasa atau orang-orang yang datang bersama dengannya bersama kabilah menganggapkan dia seorang yang akal tidak sempurna (wire short), sesuatu yang macam tidak betul pada pandangan orang. Tetapi dia ada sesuatu…..
Asal usul Uwais al-Qarni
Dia asalnya berpenyakit sopak, badannya putih, putih penyakit yang tidak digemari. Walaupun dia sopak tetapi dia seorang yang soleh, terlalu mengambil berat tentang ibunya yang uzur dan lumpuh. Dia telah begitu tekun untuk mendapatkan keredhaan ibunya. Bapa dia meninggal dunia ketika dia masih kecil lagi. Dia sopak sejak dilahirkan dan ibunya menjaga dia sampai dia dewasa.
Satu hari ibunya memberitahu kepada Uwais bahawa dia ingin sangat untuk pergi mengerjakan haji. Dia menyuruh Uwais supaya mengikhtiarkan dan mengusahakan agar dia dapat dibawa ke Mekah untuk menunaikan haji.
Sebagai seorang yang miskin, Uwais tidak berdaya untuk mencari perbelanjaan untuk ibunya kerana pada zaman itu kebanyakan orang untuk pergi haji dari Yaman ke Mekah mereka menyediakan beberapa ekor unta yang dipasang diatasnya “Haudat”. Haudat ini seperti rumah kecil yang diletakkan di atas unta untuk melindungi panas matahari dan hujan, selesa dan perbelanjaannya mahal. Uwais tidak mampu untuk menyediakan yang demikian, unta pun dia tidak ada, nak sewa pun tidak mampu.
Ibu Uwais semakin uzur maka ibunya mendesak dan berkata kepada anaknya “Anakku mungkin ibu dah tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkanlah agar ibu dapat mengerjakan haji”.
Uwais mendapat suatu ilham, dia terfikir apa nak dibuat. Dia membeli seekor anak lembu yang baru lahir dan dah habis menyusu. Dia membuat sebuah rumah kecil (pondok) di atas sebuah “Tilal” iaitu sebuah tanah tinggi (Dia buat rumah untuk lembu itu di atas bukit).
Apa yang dia lakukan, pada petang hari dia dukung anak lembu untuk naik ke atas “Tilal”. Pagi esoknya dia dukung lembu itu turun dari “Tilal” untuk diberi makan. Itulah yang dilakukannya setiap hari. Ada ketikanya dia mendukung lembu itu mengelilingi bukit tempat dia beri lembu itu makan.
Perbuatan yang dilakukannya ini menyebabkan orang kata dia ini gila. Memang pelik, buatkan rumah untuk lembu diatas bukit, kemudian setiap hari usung lembu, petang bawa naik, pagi bawa turun bukit.
Tetapi sebenarnya niatnya baik. Kalau lembu kita buat begitu pagi sekali petang sekali daripada lembu yang beratnya 20kg, selepas enam bulan lembu itu sudah menjadi 100kg. Otot-otot (muscle) tangan dan badan Uwais menjadi kuat hinggakan dengan mudah mengangkat lembu seberat 100kg turun dan naik bukit.
Selepas lapan bulan dia buat demikian telah sampai musim haji, rupa-rupanya perbuatannya itu adalah satu persediaan untuk dia membawa ibunya mengerjakan haji. Dia telah memangku ibunya dari Yaman sampai ke Mekkah dengan kedua tangannya. Dibelakangnya dia meletakkan barang-barang keperluan seperti air, roti dan sebagainya. Lembu yang beratnya 100kg boleh didukung dan dipangku inikan pula ibunya yang berat sekitar 50kg. Dia membawa (mendukung dan memangku) ibunya dengan kedua tangannya dari Yaman ke Mekah, mengerjakan Tawaf, Saie dan di Padang Arafah dengan senang sahaja. Dan dia juga memangku ibunya dengan kedua tangannya pulang semula ke Yaman dari Mekah.
Setelah pulang semula ke rumah dia di Yaman, Ibu dia berkata kepada dia “ Uwais, apa yang kamu berdoa sepanjang kamu berada di Mekah?”. Uwais menjawab “Saya berdoa minta supaya Allah mengampunkan semua dosa-dosa ibu”. Ibunya bertanya lagi “Bagaiman pula dengan dosa kamu”. Uwais menjawab “Dengan terampun dosa ibu, ibu akan masuk syurga, cukuplah ibu redha dengan saya maka saya juga masuk syurga”.
Ibunya berkata lagi “Ibu nak supaya engkau berdoa agar Allah hilangkan sakit putih (sopak) kamu ini”. Uwais kata “Saya keberkatan untuk berdoa kerana ini Allah yang jadikan. Kalau tidak redha dengan kejadian Allah, macam saya tidak bersyukur dengan Allah ta’ala”. Ibunya menanbah “Kalau nak masuk syurga, kena taat kepada perintah ibu, Ibu perintahkan engkau berdoa”.
Akhirnya Uwais tidak ada pilihan melainkan mengangkat tangan dan berdoa. Uwais berdoa seperti yang ibu dia minta supaya Allah sembuhkan putih yang luar biasa (sopak) yang dihidapinya itu. Tetapi kerana dia takut masih ada dosa pada dirinya dia berdoa “Tolonglah Ya Allah kerana ibu aku suruh aku berdoa hilangkan yang putih pada badanku ini melainkan tinggalkan sedikit”
Allah swt. sembuhkan serta merta, hilang putih sopak diseluruh badannya kecuali tinggal satu tompok sebesar duit syiling ditengkuknya. (Kalau bagi nabi, baginda ada Khatam Nubuwah iaitu tanda kenabian, tanda pada nabi bersinar) Tanda tompok putih pada Uwais sebab dia mintak agar jangan dibuang kesemuanya, kerana ini (sopak) adalah anugerah, maka nabi sebut kepada Umar dan Ali akan tanda ini. Tandanya kamu nampak dibelakang dia ada satu bulatan putih, bulatan sopak. Kalau berjumpa dengan tanda itu dialah Uwais al-Qarni.
Selepas tidak lama Uwais berdoa yang demikian, ibunya telah meninggal dunia. Dia telah menunaikan kesemua permintaan ibunya. Selepas itu dia telah menjadi orang yang paling tinggi martabatnya disisi Allah. Doa dia cukup makbul hatta penyakit sopak pun boleh sembuh. Mengikut al-Quran, Nabi Isa Alaihisalam yang pernah berdoa untuk kesembuhan penyakit sopak dizamannya.
Berbalik kita kepada point asal, Sayidina Umar dan Sayidina Ali dapat berjumpa dengan Uwais ini minta satu sahaja iaitu minta supaya doakan supaya Allah swt. mengampun semua dosa-dosa mereka.
Ketika Uwais al-Qarni berjumpa Umar dan Ali, dia berkata “Aku datang ini dari Yaman ke Madinah kerana aku nak tunaikan wasiat nabi kepada kamu iaitu supaya kamu berdua berjumpa dengan aku. Aku datang ini nak tunaikan wasiat itulah”. Maka Uwais pun telah mendoakan untuk mereka berdua.
Doa yang paling utama di malam Qadar
Seperti yang saya sebutkam dipermulaan tadi “Faya ‘ajaban liman adraka ramada na fala yukh farulah”, Memang hairan orang yang dapat hidup sampai Ramadan ini, tetapi dosa dia tidak diampun.
Kalau malam ini malam Qadar, fokus kita selalunya memanglah nak minta hal-hal keduniaan. Kalau kita dapat rasakan dalam perasaan dalaman seorang insan kecil hamba Allah ini apa yang hendak kita mintak di malam Qadar? Saya rasa orang tidak begitu berminat untuk minta supaya diampunkan segala dosa, mereka akan minta yang lain pula, minta saham naik, perniagaan laris, dapat kahwin lagi dua, kaya, mesti pilihan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, sedangkan “Wallah yuridul akhirah”. Allah dan RasulNya lebih mengutamakan penghidupan akhirat itulah yang paling mustahak sekali.
Selama ini pun kita tidak tahu bahawasanya terampunkah dosa-dosa yang telah kita buat? walaupun kita rasa macam dosa itu Allah telah ampunkan.
Ada peluang yang macam ini iaitu malam Qadar atau berpeluang berjumpa dengan orang-orang yang konfirm macam tadi iaitu doa-doa mereka makbul seperti orang-orang yang soleh dan seumpamanya doa yang paling utama dan besar diminta ialah minta supaya Allah mengampunkan semua dosa-dosa kita.
Bukan kata orang lain sebagai contoh besar, hatta nabi yang dikatakan “Ghoforollah hu mat taqadaman”, Allah ta’ala ampunkan dosa dia yang telah lalu (jika ada) dan juga ampun untuk yang akan datang.
Tetapi kenapa nabi masih berdoa kepada Allah tiap-tiap hari tidak kurang dari seratus kali iaitu “Astagh firruka humma waatubu ilaih”. Sehari seratus kali , sembahyang baginda, berdoa panjang-panjang sampai dikataka juga (hadith Aisyah) sampai bengkak kaki nabi. Sampai Siti Aisyah berkata kepada nabi, “Ya Rasulullah, kenapalah sampai kamu teruk-teruk beribadah hingga bengkak kaki, sembahyang lama-lama, menangis lama-lama, tidakkah Allah telah ampunkan dosa kamu dahulu dan kemudian?”. Nabi menjawab “Kalau demikian adanya mengapa aku tidak menjadi hamba yang bersyukur”.
Syukur maknanya melakukan ibadah kepada Allah swt. Inilah yang saya katakan tadi, datanglah sistem yang Islam kemukakan kepada ummah, seluruh aktiviti-aktiiti ibadah, penumpuan kepada persiapan-persiapan yang dikatakan “Wa tazau wadu” kesemuanya ditujukan ke arah pembersihan diri, hati, akal dan budi daripada yang dipanggil “al-khush” (yang tidak baik).
Al-Quran memberikan satu analogi iaitu Bumi kalau sudah cantik dan subur dia mudah menumbuhkan pokok-pokok yang bermanfaat dan bagi bumi yang kotor (bagi maksud tidak sesuai ditanam tumbuhan) seperti tempat berbatu dan berpasir, tanam apapun tak tumbuh, kalau tumbuh pun dia tak jadi seperti tempat yang lain.
Maksudnya sama seperti insan, kalau yang disimpan dalam diri kita ini kotor (benda yang jijik) maka tidak akan keluar melainkan yang kotor juga. Kalau dalam diri kita baik, dia akan menumbuhkan yang baik, amal dia baik, kata-kata dia baik, akhlak dia baik, muammalah dia baik dan dia dikatakan orang yang baik.
Allah itu baik, Dia tidak terima amalan melainkan amalan yang baik juga. Sebab itu dari awal Islam datang dah ada sistem seperti contoh ayat-ayat al-Quran yang awal turun surah Al-Mudatsir, firman Allah yang bermaksud “Wahai orang-orang yang sedang tidur, bangunlah kamu beri peringatan kepada manusia (maknanya bergerak dalam satu wadah perjuangan, mengerakkan jiwa diri sendiri dan jiwa insan) dan kepada Tuhanmulah kamu wajib membesarkanNya, jangan mengagungkan yang lain, agungkan Allah swt. sahaja.
Caranya diberikan beberapa analogi seperti apa yang kamu pakai iaitu pakaian biasa, rumah tempat tinggal, kereta yang dinaiki dan apa sahajalah mestilah yang bersih, kamu kena sucikan dia. Sebab ini sangat kena dengan ayat yang nabi hayati. Diantara pakaian yang nabi suka pakai ialah pakaian putih yang melambangkan suci dan bersih. Walaupun kadangkala nabi pakai warna merah dan hitam didalam peperangan tetapi yang paling nabi sukai ialah warna putih.
Sebab itu kita lihat, pakaian haji putih, kain kafan putih (tak pernah nampak lagi kain kafan warna hijau, kain kafan biru lagi tak pernah nampak). Ditempat saya masjid-masjid gunakan kain putih sebagai alas tempat sujud. Serban umumnya putih. Serban nabi putih kadangkala ada yang hijau.
Apabila diluar memakai pakaian putih bersih maka didalam diri perlu buang segala kekotoran. Islam mengajar agar diluar bersih sehingga kedalam diri juga bersih. Kalaulah inilah yang nabi buat dari pada mula memanglah bulan Ramadan ini yang utama ialah untuk membersihkan diri.
Dengan puasa yang kita buat, malam kita bertarawih, berdoa secara bersistematik dari awal ramadan sampai akhir ramadan iaitu doa;
“Allah humma innaka ‘afuu ’un karimun tuhib bul ‘af wa fa’ fu ‘anni” (maknanya Ya Allah, Kamulah Tuhan yang sangat suka mengampun, ampunkanlah dosa-dosa saya).
Kalau dibuat setiap malam dari awal ramadan sampai akhir ramadan pastilah kita jumpa dengan satu malam yang mana malam ini ialah malam Qadar. Sebab dia pasti datang setiap tahun dibulan ramadan. Kalau kena malam itu maka sampailah tujuan tadi kita dapat memohon daripada Allah swt. minta yang paling berharga iaitu bermohon agar Allah mengampunkan semua dosa-dosa kita. Kalau bertemu demikian kita sampailah kepada matlamat tadi iaitu “La’al lakum tat takun” dengannya kamu bertaqwa, dengannya kamu sampai kepada matlamat yang dikatakan tadi.
“Ya ‘ajaban”, memang menghairankan orang yang sempat datang Ramadan kepadanya dia tidak manfaatkan ramadan itu untuk Allah ampunkan semua dosa-dosanya.
Semua krisis-krisis dunia, semua masalah yang insan hadapi didunia, yang kita hadapi hari ini dalam semua masalah, pergaduhan, hutang yang banyak, akan berakhir bila orang itu mati. Kita berjanji dengan orang, bertelagah, bergaduh, semua krisis-krisis dunia ini kepada seorang insan dia habis bila dia mati.
Tetapi krisis dosa dengan Allah ta’ala khasnya krisis keimanan, krisis kerana kita menyimpan dosa yang melibatkan iman dan sebagainya, didunia dia tidak menampakkan masalah tetapi sebenarnya ia akan bermula apabila telah hampir nak mati, masuk kubur lagi masalah, alam barzakh lagi masalah, sampai kepada alam mahsyar lagi bermasalah puncanya balik kepada dosa tadi.
Sebab itu nabi telah bagi satu garis panduan yang cukup senang kita faham. Kita tidak disuruh minta dimalam Qadar supaya turun emas dari langit, minta agar dikasihani oleh semua orang, minta agar dijadikan ketua selama-lamanya, untung berniaga, bukan itu yang patut diminta. Sebaliknya nabi bagi contoh kalau ini dapat kamu capai walaupun dunia kamu susah sekejap tetapi kamu akan berakhir krisis dunia ini bila kamu mati.
Jika kamu ada dosa ini mati bermula suatu penghidupan yang perit, malah dari sejak nak mati sekalipun sudah bermula, sampai kepada peringkat orang-orang yang “Zalimi an fusu hum” orang-orang yang menzalimi diri mereka dalam kehidupan ini kerana membiarkan dosa, banyak melakukan dosa, tidak cuba untuk membuang dosa, bila nak mati akan datang malaikat kepada mereka dengan pemukul untuk pukul muka, belakang hingga ke punggung mereka. Ia bermula daripada nyawa nak keluar, tergantung-gantung diantara langit dan bumi, diantara barzakh dengan tidak barzakh, masuk kubur terseksa.
Sebab itulah nabi nak lepaskan kita daripada seksaan ini semua, nak pastikan kepada isteri dia Siti Aisyah pun berpesan “Kalau kamu dapat malam Qadar jangan minta yang lain selain daripada minta supaya diampunkan Allah segala dosa”.
Ingatlah juga ketika nabi berpesan kepada orang yang dia sayangi iaitu Umar (bapa mertuanya) dan Ali (menantunya) kalau kamu berjumpa dengan Uwais al-Qarni mintalah supaya Allah ampunkan segala dosa kamu. Begitu juga nabi berpesan kepada sahabat-sahabat yang lain supaya bermohon supaya Allah ampunkan segala dosa.
Penutup
Memang telah menjadi tradisi kita di Darussyifa’, kita bertemu sekali dalam bulan Ramadan bersama-sama berbuka puasa, bersolat tarawih dan saya berpeluang untuk berucap mengajak diri saya dan mengajak semua orang. Kita akan manfaatkan Ramadan ini dengan fokus kita supaya tidak ada lagi dosa, kalau ada dosa diampunkan. Caranya kita jangan tambah dosa, yang ada selesaikan. Minta ampun yang berbaki daripadanya.
Dan AlhamdulilLah jika kita diambil oleh Allah dibulan Ramadan lebih-lebih lagi jika kita mati di Mekah di bulan Ramadan. Macam baru-baru ini orang Malaysia yang mati kemalangan jalanraya di Mekah, kita cemburu kerana Allah pilih dia dan tidak pilih kita. Pilih mereka yang dalam musafir, dalam keadaan buat Umrah, dalam bulan Ramadan pula, mati syahid dunia kerana mereka luka parah, kemudian disembahyangkan pula di Masjidil Haram yamg setiap malam sembahyang itu jutaan manusia yang mendoakan mereka masuk syurga. Jadi itu satu keberuntungan kerana Allah pilih mereka. Kita pula menunggu giliran entah dimana..
Maka persediaan kepada kita, pada saya, pada saudara sekalian, kita ambil peluang Ramadan ini untuk Allah ampunkan dosa kita semua. Supaya kita termasuk dikalangan hamba yang akan beruntung khasnya selepas kita kembali kepada Allah swt.
Selamat berpuasa, selamat berhari raya, maaf zahir batin, terima kasih kepada yang menganjurkan majlis malam ini Darussyifa’ dan kita mengharapkan kepada Allah swt. agar sentiasa menghimpunkan kita sebagai orang-orang yang sentiasa berkasih sayang dan saling bermaaf-maafan menuju kepada kerahmatan dan keberkatan Allah swt.

Monday, October 16, 2006 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Khutbah Jumaat ( 005 ) oleh Ust Nasaruddin TantawiFAKTOR KEJAYAAN YANG ABADI
بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد الله رب العالمين ، والعاقبة للمتقين
ولا عدوان الا على الظالمين ، أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له ،له الملك وله الحمد
وهو على كل شىْ قدير. وأشهد أن محمدا رسول الله، الرحمة المهداة،
والنعمة المسداة، والسراخ المنير ، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وأصحابه
والتابعين إلى يوم الدين، أما بعد :
Sidang jumaat yang dirahmati oleh Allah sekelian;
Saya berpesan kepada diri saya sendiri dan juga sidang jumaat sekelian; marilah sama-sama kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa sepertimana yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya;
ياايهاالذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون
“Wahai sekelian orang-orang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan kamu sebagai seorang muslim”.
Seorang sahabat Nabi s.a.w. iaitu Ibnu Mas'ud pernah berkata pada suatu hari kepada anak saudaranya; “Wahai anak saudaraku! Tidakkah kamu lihat alangkah ramainya manusia”. Jawab anak saudaranya; “Ya”. Lalu berkata Ibnu Mas'ud: لا خير فيهم الا تائب أو تقى (Tidak ada kebaikan bagi mereka melainkan bagi orang yang bertaubat/kembali kepada Allah dan orang-orang yang bertakwa (takut kepada Allah).
Kemudian ia bertanya lagi; “Wahai anak saudaraku! Tidakkah kamu lihat betapa ramainya manusia”. Jawab anak saudaranya; “Ya”. Lalu Ibnu Mas'ud berkata lagi; لا خير فيهم الا عالم أو متعلم (Tidak ada kebaikan bagi mereka melainkan bagi orang berilmu dan belajar).
Amirul Mukminin Umar Al-Khattab r,a. pernah bertanya kepada seorang sahabat yang lain bernama Ubai bin Ka'ab r.a. berkenaan dengan taqwa. Kata Umar; “Wahai Ubai! Apa itu takwa?”. Ubai bertanya kembali kepada Umar; “Wahai Umar, adakah engkau pernah melalui satu jalan yang berduri?”. Jawab Umar; “Ya”. Tanya Ubai lagi: “Apakah yang kamu lakukan semasa melalui jalan tersebut?”. Jawab Umar; تشمرت وحذرت (Saya melangkah dengan berjaga-jaga dan berhati-hati). Lalu Ubai menjelaskan kepada Umar; فذاك التقوى (Demikian itulah taqwa).
Apa yang hendak dijelaskan sahabat bernama Ubai r.a. itu ialah; Orang bertakwa dalam ia menghadapi kehidupan dunia ini, ia amat berhati-hati agar jangan terjerumus di dalam perkara yang dimurkai Allah. Ia amat memelihara dirinya dari termakan dengan godaan musuh-musuh yang terdiri dari;
(1) Hawa Nafsu.(2) Syaitan.(3) Golongan Kuffar dan Munafiqin.(4) Golongan Penzalim dan Pembid'ah dan golongan yang melakukan kemungkaran.
Saidina Umar r.a. pernah berpesan;
حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا و زنواها قبل أن توزنوا
“Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab oleh Allah dan timbangilah ia sebelum kamu ditimbang oleh Allah”.
Muslimin sidang jumaat yang dirahmati Allah sekelian;
Setiap dari kita menginginkan kejayaan dalam hidup. Kita amat bimbang jika kita ditakdirkan gagal oleh Allah. Namun harus kita sedari bahawa kejayaan mempunyai faktor-faktor yang menjurus kearahnya. Apakah factor kejayaan yang paling utama dalam kehidupan kita sebagai manusia?
Sebagai seorang hamba Allah, kita harus meyakini bahawa factor asas kejayaan ialah berpegang teguh dengan agama Allah iaitu Islam. Apabila seseorang itu menganut Islam dan berpegang-teguh dengannya, maka ia memiliki asas paling utama untuk berjaya. Kejayaan yang kita impikan bukanlah kejayaan setakat di dunia ini sahaja, tetapi juga kejayaan di alam akhirat yang kekal abadi. Lantaran pentingnya Islam inilah maka Allah mengutuskan para Rasul di mana mereka tidak datang melainkan dengan membawa agama yang satu iaitu Islam.
Islam adalah satu-satunya agama yang diredhai Allah untuk menjadi pegangan dan tatacara kehidupan manusia. Agama yang lain dari Islam jika dianuti manusia, nescaya ia tidak akan mencapai keredhaan Allah dan kehidupannya di dunia dan di akhirat akan berada di dalam kancah kerugian dan kemusnahan. Firman Allah;
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya ad-Deen (yakni agama yang benar dan diredhai) di sisi Allah ialah Islam“.
(Al-Imran: 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Sesiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.
(Ali Imran: 85)
Dalam satu hadis Rasulullah s.a.w. meletakkan factor kejayaan manusia kepada tiga perkara, iaitulah;
Islam
Rezki yang mencukupi (yang boleh difahami sebagai kemajuan material/kebendaan)
Sifat qana’ah (redha dengan pemberian Allah kepadanya)
Hadis yang kita maksudkan itu berbunyi;
قد أفلح من أسلم و رزق كفافا و قنعه الله بما آتاه
“Sesungguhnya berjayalah orang yang Islam dan dikurniakan rezki yang cukup serta diberikan sifat qana’ah oleh Allah dengan apa yang dikurniakan kepadanya”.
(Hadis riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar r.a.)
Dalam hadis di atas Rasulullah s.a.w. tidak menafikan peranan material atau harta-benda (yang diungkapkan dengan kalimah rezki) sebagai salah satu factor kejayaan dan kebahagiaan manusia. Namun baginda meletakkan Islam adalah syarat kejayaan paling atas atau paling utama. Kemajuan material atau kebendaan jika tidak bertunjangkan Islam, nescaya kemajuan tersebut akan mendatangkan lebih banyak mudarat kepada manusia dari mendatangkan manfaat.
Sidang jumaat yang dirahmati Allah sekelian,
Mungkin di kalangan kita ada yang akan berkata; bagaimana dikatakan Islam merupakan syarat kejayaan paling utama, sedangkan negara-negara maju hari ini (sepwerti Amerika, Jepun, Britain dan sebagainya) tidak pun menganut agama Islam dan mereka telah mencapai kejayaan?.
Memang benar negara-negara yang dikatakan maju itu telah berjaya dari sudut ekonomi dan material, namun adakah mereka benar-benar mengecapi kejayaan hidup yang sebenarnya? Kejayaan dalam erti-kata yang sebenarnya bukanlah hanya kejayaan dari satu sudut (iaitu ekonomi atau material), tetapi kejayaan dari pelbagai sudut kehidupan manusia merangkumi rohani, kejiwaan (saikologi), akhlak/etika, hubungan social, kekeluargaan dan sebagainya.
Tidak guna harta kita banyak dan ekonomi kita kukuh tetapi masyarakat kita porak-peranda lantaran dari berlakunya keruntuhan rohani dan akhlak, musnahnya institusi keluarga dan berleluasanya gejala jenayah dalam negara. Namun inilah yang telah terjadi dalam masyarakat dunia hari ini terutamanya di negara-negara maju.
Menurut seorang ulama’ dan ahli fakir Islam terkenal, Dr. Yusof al-Qardawi dalam satu bukunya “Islam dan Tamadun hari esok”; “Tamadun moden hari ini telah melahirkan beberapa akibat negative –hasil sikapnya yang meminggirkan agama- di mana kecelakaan dan kepahitan darinya tidak putus-putus dirasai oleh manusia zaman ini. Kesan-kesan negative tersebut ialah berlakunya;
Keruntuhan akhlakKrisis rumah-tangga (keluarga)Keresahan jiwa (saikologi)Kecelaruan akal fikiranJenayah yang berleluasa.
Kesan-kesan buruk di atas tidak perlu kita buktikan lagi kerana ia juga sedang berlaku dalam masyarakat kita hari ini. Jika kita renung dan kita tilik sedalam-dalamnya, semua kesan negative itu berpunca dari sikap manusia hari ini yang meminggirkan agama dan memandang mudah kewajipan-kewajipan dalam agama. Mereka merasakan cukuplah dengan duit yang banyak dan ekonomi yang kukuh untuk mencapai kebahagiaan. Namun jangkaan mereka itu meleset sama sekali. Kebahagiaan yang sebenar adalah mustahil untuk dicapai tanpa agama/Islam.
Inilah yang diperingatkan Allah kepada kita;
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
(Thaha:124).
“Peringatan Allah” yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah perintah Allah iaitu apa yang terkandung di dalam ajaran Islam itu sendiri kerana Islam adalah satu-satunya agama dari Allah yang diutuskan para Rasul membawanya.
Menurut Imam Ibnu Kathir dalam tafsirnya “Tafsir al-Quran al-‘Aziem” ketika mentafsirkan ayat di atas; “Ma’isyatan Dhanka (Penghidupan yang sempit)” itu ialah merasai kesempitan di dunia di mana orang yang berpaling dari peringatan Allah itu ia tidak akan mencapai ketenangan jiwa dan tidak akan merasai kelapangan dada.
Bahkan dadanya akan sentiasa merasa sempit dan resah walaupun zahir hidupnya mewah; walaupun ia dapat memakai pakaian yang disukainya, memakan makanan yang disukainya dan tinggal di rumah-rumah yang disukainya. Akan tetapi oleh kerana di dalam hatinya tidak ada keyakinan kepada Allah dan tidak ada hidayah/petunjuk maka ia akan terus berada di dalam jiwa yang resah, fikiran yang bercelaru dan sentiasa terumbang-ambing. Inilah yang dimaksudkan kehidupan yang sempit oleh ayat tadi”.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَأقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم و لسائر المسلمين و المسلمات ، فاستغفرواه هو الغفور الرحيم ، و ادعواه يستجب لكم
Khutbah kedua
الحمد لله رب العالمين و العاقبة للمتقين و لا عدوان إلا على الظالمين ،أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا عبده و رسوله ،اللهم صل و سلم على محمد و على آله و صحبه أجمعين ،أما بعد :
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون
Sidang jumaat sekelian;
Marilah kita kembali kepada Islam dalam erti-kata yang sebenarnya.Ramai di kalangan kita hari ini mengakui dirinya seorang muslim. Mereka menyatakan bahawa agama mereka adalah Islam. Namun adakah mereka benar-benar mengerti apa sebenarnya Islam? Dan apa makna sebenarnya mereka sebagai seorang muslim?
Islam bukanlah semata-mata suatu penamaan atau suatu slogan. Tetapi ia adalah pemahaman, penghayatan dan amalan. Seorang muslim yang sejati bukanlah orang yang hanya pandai mengaku dirinya menganut Islam atau menamakan dirinya dengan nama Islam, tetapi juga ia hendaklah memahami apa itu Islam, menghayati segala ajaran dan tutuntannya serta beramal dengannya.
Seorang muslim yang sebenar ialah orang yang menumpukan seluruh kehidupannya kepada Islam. Hati, aqal dan perasaannya ditumpukan kepada Islam iaitu untuk mempelajari Islam, memahami Islam, menghayati Islam dan seterusnya mengamalkan ajaran Islam bersungguh-sungguh. Ini kerana ia yakin bahawa Islamlah satu-satunya peraturan hidup dari Allah yang dapat mengekalkan fitrah (kejadian) manusia dan menjadi syarat kejayaan hidup manusia di dunia mahupun di akhirat.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا ، فِطْرَتَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاْ لَاْ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَ لَكِنْ أَكْثَرَ النَّاْسِ لَاْ يَعْلَمُوْنَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
(ar-Rum: 30)
Marilah kita berdoa kepada Allah memohon dariNya agar kita senantiasa dikurniakan hidayah dan petunjuk, diberikan kesedaran untuk beramal dengan Islam dan dikurniakan kekuatan yang berpanjangan untuk memperjuangkan hokum-hakamNya di atas muka-bumi ini.
Monday, October 16, 2006 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Tuesday, August 08, 2006
Kursus Teras Petugas Haji 1427H
Kenangan semasa berkursus di Kompleks Haji Kelana Jaya, bersama dengan doktor-doktor Pakar. Berada seminggu di sana 15hb hingga 21hb Julai 2006
Tuesday, August 08, 2006 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Monday, July 10, 2006
Ribery's rise: from fan on the street to world at his feet
EIGHT years ago, Franck Ribery was a fan in the streets of the port city of Boulogne, watching France's 1998 World Cup campaign unfold as a schoolboy. Zinedine Zidane was a hero and dreams of a professional career, let alone a World Cup final, did not even register on his radar.
On Sunday (4am Monday, Sydney time), having made his full debut for France just eight weeks ago, Ribery will not only line up alongside Zidane and play in a World Cup final but be one of coach Raymo nd Domen against Italy.
"I was watching the 1998 games with my friends, and then going out into the street to celebrate," Ribery said of France's winning campaign. "I must have been about 15 at the time and the only thing on my mind was to scream, 'Allez les Bleus!' louder and louder each time we won."
At 23, Ribery is the youngest member of Domenech's squad but he has fitted into an often complex French jigsaw with ease and confidence. Far from the glamorous superstar, Ribery carries a scar on his face from a car accident when he was two, making him appear more legionnaire than movie star.
But the Marseilles midfielder has attracted attention for his football rather than looks and is now being chased by several big clubs, including Manchester United, Arsenal and Chelsea.
Yet just two years ago, Ribery was playing in France's third division after being kicked out of Lille's youth academy and before converting to Islam. It is not for show. He is a regular attendee of mosques near Marseilles, where he lives with his Moroccan-born wife Wahiba.
"Islam is my source of strength either in or outside the playground," he said. "I led a difficult career, I was determined to find peace of mind and I finally found Islam."
Ribery is France's new kid on the block but he has been welcomed into the squad.
"Every one of my teammates gives me a little something because they're all more experienced than me," Ribery said. "Even though I can imagine it couldn't have been easy seeing this young guy show up, something I totally understand, I've been extremely well-received.
"I feel really at ease in this team. The atmosphere is excellent and that shows on the pitch. Without doubt, the players I'm closest to are Zinedine Zidane and Thierry Henry. I listen to advice from Zizou [Zidane] all the time. Basically, I just try and share my joie de vivre and fit in with the squad."
Matthew Hall
Monday, July 10, 2006 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Saturday, May 27, 2006
Tuan Guru Hj Hadi Celik IT
Beliau menguasai ilmu IT dan menggunakan peralatan IT yang moden sejak lebih 20 tahun yang lalu. Ikuti sembang-sembang beliau dengan MOHD RASHIDI HASSAN di pejabat beliau baru-baru ini. Saturday, May 27, 2006 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
Saturday, October 22, 2005
Sifat Puasa Nabi saw
Terjemahan dan olahan oleh Khairol Amin (kamin)
Ini merupakan ringkasan sifat Puasa Nabi saw -
dimana didalammnya meliputi kewajipan, adab2,
do'a2, hukum2 bersekitar puasa, jenis manusia yang
berpuasa, perkara yang membatalkan puasa, dan
faedah2 lain. Kita memohon petunjuk Allah agar
orang2 Islam mengamalkan sunnah Nabi saw pada
semua peringkat, dari yang kecil sehinggalah yang
dewasa/tua. Demi Allah yang memberi petunjuknya.
Ta'rif Puasa : merupakan ibadat kepada Allah
dengan meninggalkan perkara2 yang dilarang dari
terbit fajar sehingga terbenam matahari.
Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam.
Nabi saw bersabda :
"Islam dibina atas 5 perkara : mengucap syahadah,
mendirikan solat, membayar zakat, berpuasa pada
bulan Ramadhan dan Haji ke Baitullaah al-Haram"
[mutafaq 'alaih].
Orang2 yang berpuasa :-
* Puasa wajib bagi semua orang Islam yang Baligh
dan berakal dan bermukim.
* Orang kafir tidak wajib puasa, dan mereka tidak
perlu qadha' puasa jika mereka memeluk Islam.
* Kanak-kanak yang belum baligh tidak wajib puasa,
akan tetapi disuruh melakukannya agar merekaa
menjadi biasa dengan berpuasa.
* Pesakit yang mempunyai penyakit (emergency) dan
sedang menunggu sembuh boleh bebuka puasanya dan
setelah sembuh boleh mengqadha'nya kembali.
* Orang gila tidak wajib puasa, dan tidak boleh
memberi dia makan jika dia sudah besar, dan orang
yang 'insane' contohnya tiada diskriminasi
terhadapnya, dan orang tua yang nyayuk tidak juga
ada diskriminasi terhadap mereka.
* Orang yang tak berupaya ('aajuz) berpuasa atas
sebab kekal (permanent) sebagaimana orang tua atau
pesakit yang tiada harapan sembuh - setiap hari
yang tidak berpuasa diberi makan kepada orang miskin.
* Wanita yang hamil dan menyusu jika menhadapi
kesukaran keatasnya berpuasa disebabkan mengandung
atau menyusu, boleh berbuka dan boleh menqadha'
puasanya apabila datang keringanan dan hilangnya
kebimbangan.
* Wanita datang haidh dan Nifas tidak boleh
berpuasa didalam sedemikian, dan mengqadha' apa
yang tertinggal.
* Melakukan operasi penyelamat (rescue) dari mati
lemas atau kebakaran boleh berbuka untuk
menyelamatkannya dan hendaklah diqadha' puasa.
* Orang yang bermusafir diberi pilihan berpuasa
atau berbuka, dan wajib mengqadha' sekiranya
berbuka didalam permusafiran, samada bermusafiran
yang 'emergency', atau sepertimana Umrah, atau
sentiasa bermusafir seperti pemandu teksi, mereka
boleh berbuka selama mana mereka tidak berada
dinegara mereka.
Hukum-hukum didalam berpuasa
1-Niat :
Wajib berniat didalam puasa. Kewajipannya sebelum
terbit fajar, Nabi saw bersabda :
"Barangsiapa yang tidak menetapkan untuk berpuasa
sebelum fajar, maka tiadalah puasa baginya"[Shahih
Abi Daud]
Sabda Nabi saw didalam hadith lain :-
"Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada
malamnya maka tiadalah puasa baginya" [Sahih
al-Nasaa'i].
Niat tempatnya dihati, melafaznya tidaklah datang
dari nabi saw, dan tiadalah mana-mana para
sahabat Nabi ra. melakukannya.
[Komentar : Umumnya, masyarakat Islam masih
bergantung kepada Lafaz Niat : "Nawaitu Sauma
ghadin..." dan bukannya azam untuk melakukan puasa
pada keesokkan harinya. Yang menjadi rukun adalah
niat yang berbentuk azam]
2- Waktu berpuasa :
Firman Allah swt :
"Makan dan minumlah sehingga jelas kepada kamu
benang (garis) putih dari benang (garis) hitam,
iaitu fajar" [surah al-Baqarah : 187]
* Fajar Kazib - padanya tidak dibenarkan solat
fajar, tidak diharamkan makan dan minum. Ia
merupakan cahaya putih terang yang berbentuk segi
empat (komentar : seperti tiang cahaya putih yang
menegak selama 20min sebelum fajar sebenar/solat
fajar).
* Fajar Saadiq - padanya diharamkan makan bagi
yang berpuasa, dibenarkan solat fajar, kelihatan
segi empat merah diatas puncak gunung
ganang.(komentar : garis putih bertebaran secara
mendatar).
Apabila malam tiba dari arah timur dan berlalu
dari arah barat, dan matahari terbenam, maka boleh
berbuka puasa. Nabi saw bersabda :
"Apabila datangnya malam dari sini dan berlalunya
siang dari sini, dan terbenamnya matahari, maka
berbukalah puasa" [Hadith Mutafaq a'alaih].
Perintah ini bermula apabila bebola matahari
hilang dan jika zahirnya zahir.
3-Sahur
Sabda Nabi saw :
"Perbezaan puasa diantara puasa kita dan puasa
ahli kitab ialah makan sahur:" [Hadith Riwayat
Muslim]. Bersabda Nabi saw didalam hadith yang lain :
"Barakah ada didalam 3 perkara : Jemaah, bubur dan
sahur" [Hadith Riwayat al-Tabarani didalam al-Kabir].
Sahur merupakan berkat yang zahir, tidak harus
ditinggalkan, kerana patuh kepada Sunnah. Sahur
memberi kekuatan bagi yang berpuasa. Ia merupakan
makanan yang diberkati sebagaimana Nabi saw
menyebut namanya : "Anda telah sampai kepada
makanan yang diberkati" [Sahih Abu Daud]. Sabda
Nabi saw lagi :
"Makan Sahur adalah berkat, maka janganlah kamu
meninggalkannya, walaupun salah seorang dari muka
yang meminum seteguk air, kerana sesungguhnya
Malaikat berselawat keatas orang2 yang bersahur"
[Hadith Hasan riwayat Imam Ahmad]. Sabda Nabi saw
lagi :
"Nikmat Sahur orang beriman adalah kurma" [Sahih
Riwayat Abi Daud].
Dan telah menjadi petunjuk Nabi saw agar
melewatkan sahur sebaik2 sebelum subuh/fajar.
[Komentar : waktu Imsak yang diamalkan seperti
10min sebelum masuk waktu fajar bukanlah diamalkan
oleh para2 salaf. Ibn Kathir meriwayatkan bahawa
kebanyakkan ulama Salaf bertolanransi didalam bab
makan sahur sehingga hampir fajar. Begitu juga
dengan mereka yang sedang meneguk air ketika azan
berkumandang, adalah sunnah baginya menyelesaikan
hajatnya dan bukan meludahkan air. Sabda Nabi saw
:
"Apabila salah seorang dari
kamu mendengar azan sementara piring sudah
ditangan, janganlah piring itu diletakkan sehingga
ia menunaikan hajatnya" [Hadith Riwayat al-Hakim]]
4-Apa yang orang berpuasa perlu tinggalkan :
* Menipu : Nabi saw bersabda :
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan menipu dan
beramal dengannya, maka tidaklah Allah swt
berhajat untuknya meninggalkan makan dan minumnya"
[Hadith Riwayat al-Bukhari].
* Percakapan yang karut dan kotor. Nabi saw bersabda :
"Bukanlah dari itu dari makan dan minum, namum
puasa adalah [menahan diri] dari bercakap kosong
dan lucah, maka jika seseorang memaki atau
menyakitimu, maka katakan : sesungguh aku sedang
berpuasa" [Hadith Sahih Ibn Khuzaimahj].
5- Apa yang dibenarkan didalam berpuasa :
* Orang berpuasa yang masih berjunub : dari
'Aisyah ra :
"Telah masuk fajar dan baginda masih berjunub
dengan isterinya, kemudian dia mandi dan berpuasa"
[Hadith Muttafaq a'alaih].
* Orang berpuasa yang bersiwak : Nabi saw bersabda :
"Jika tidak menyusahkan umatku, nescaya aku
memerintahkan mereka bersiwak setiap kali
berwudhu'" [Hadith Muttafaq a'alaih].
Nabi saw tidak mengkhaskan orang berpuasa dengan
yang lain, dan ini juga satu isyarat bahawa orang
yang berpuasa boleh bersiwak pada setiap kali
wudhu' dan setiap kali solat, pada setiap waktu
samada sebelum tergelincir atau selepasnya.
* berkumur2 dan memasukkan air melalui hidung :
Nabi saw berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam
hidung dan ketika itu dia berpuasa, akan tetapi
dia tidak melakukannya secara melampau-lampau.
Sabda Nabi saw :
"Berlampau2 didalam memasukkan air kedalam hidung
melainkan ia sedang berpuasa" [hadith Shahih Abu Daud]
* Orang berpuasa bercumbu dan bercium : Dari
'Aisyah ra. berkata :
"Rasulullah saw pernah mencium dan dia sedang
berpuasa, dia pernah bercumbu dan dia berpuasa,
akan tetapi bagindalah orang yang kuat menahan
syahwatnya dari kamu sekalian" [Muttafaq 'alaih].
Baginda tidak menyukai dilakukan keatas orang
muda, kecuali yang tua. Baginda bersabda :
"Sesungguh orang tua mampu menahan diri mereka
sendiri" [Hadith Sahih Riwayat Ahmad].
* Pemeriksaan dan mengambil darah - jarum tersebut
tidak bermaksud makanan, ia tidak membatalkan
puasa, kerana ia bukanlah makanan dan tidak sampai
kepada jantung.
* Menampal gigi (uprooting) - tidak membatalkan puasa
* Merasai makanan : hadnya tidak sampai kepada
halkum, dan begitu juga dengan penggunaan ubat
gigi. Dari Abbas ra. berkata :
"'Tidak mengapa dia merasai (taste) cuka atau
apa2, selagi ia tidak memasuki halkum, dan dia
masih berpuasa" [Riwayat al-Bukhari[
* Memakai celak dan ubat mata (drops) yang
memasuki mata - perkara ini tidak membatalkan
puasa, samada menjumpai makanan di tekak, atau
tidak menjumpainya. Berkata Imam al-Bukhari
didalam sahihnya :
"Tidak tidak melihat apa2 masalah bagi Anas, hasan
dan Ibrahim dengan bercelak memcacatkan orang
berpuasa"
[Komentar : Perkara2 yang dianggap boleh
membatalkan puasa seperti korek hidung, korek
telinga, pakai eye drop, ambil darah, sembelit dan
kesemuanya bukanlah merupakan perkara2 yang
membatalkan puasa.]
6- Berbuka Puasa :
* Mempercepatkan berbuka puasa merupakan sunnah
Nabi saw dan juga larangan kaum Yahudi dan
Nasrani, mereka melewat2kannya, mereka
melambat-lambatkan waktunya. Nabi saw bersabda :
"Sentiasa manusia itu berada didalam kebaikkan
selama dia mendahulukan berbuka puasa" [Hadith
Muttafaq 'alaih].
* Berbuka sebelum Solat Maghrib : dari Anas ra.
berkata :
"Rasulullah saw pernah berbuka sebelum bersolat'
[Hadith hasan riwayat Abu Daud]. Apa yang baginda
makan sewaktu berbuka? Dari
Anas bin Malik ra. berkata :
"Nabi saw berbuka dengan Rutbaat (kurma matang)
sebelum solat, dan jika tidak ada kurma matang
maka beberapa biji kurma biasa, dan jika tiada
kurma biasa, cukuplah dengan beberapa teguk air"
[Hadith Sahih Abi Daud].
* Apa yang baginda ucapkan ketika berpuasa? Nabi
saw berkata :
"bagi orang yang berbuka, do'anya tidak akan
tertolak" [Hadith Sahih Ibn Majah].
Nabi saw semasa berbuka puasa berdo'a :
"Telah pergi kehausan dan telah membasahi
urat-urat, dan pasti ganjaran dengan kehendak
Allah" [Hadith Sahih Abi Daud]
[Komentar : Adalah tidak betul perbuatan seseorang
yang melewatkan berbuka disebabkan baginya azan
maghrib masih berkumandang. Begitu juga dengan
do'a berbuka puasa yang masyhur dikalangan kita
:
"Allahumma laka
Sumtu ....." yang sebenarnya status hadith
tersebut adalah dhaif. Hadith Sahih bagi
menggantikan do'a ini adalah seperti diatas dan
transliterasinya adalah : "Dhahaba al-zama wa
abtalat al-urooq wa thabata al-ajr in sha Allaah"]
7 - Perkara yang membatalkan puasa
* Makan dan minum dengan sengaja : samaada ianya
bermunafaat atau mudharat seperti asap. Jika dia
terlupa atau tersilap atau dipaksa maka tidaklah
mengapa dengan kehendak Allah. Nabi saw bersabda :
"Jika seseorang terlupa lalu di makan dan minum
air, maka sempurnakanlah puasanya, kerana
sesungguhnya Allah lah yang memberi dia makan dan
minum" [Hadith Muttafaq 'alaih].
* Muntah dengan sengaja : iaitu mengeluarkan apa
yang ada didalam perut melalui mulut. Sabda Nabi saw :
"Barangsiapa yang muntah (tidak sengaja, sedangkan
dia sedang berpuasa) tidak ada qadha' baginya,
dan barangsiapa yang sengaja maka baginya
qadha'"[Hadith Sahih Abu Daud].
Maka jika muntah tidak sengaja, maka ia tidak
membatalkan puasa.
* Berjima' : jika berlaku pada siang hari Ramadhan
dari orang yang berpuasa wajib, maka keatasnya
qadha' kafaarah, iaitu membebaskan seorang hamba,
dan jika tidak menjumpai hendaklah berpuasa 2
bulan berturut2, dan jika tidak mampu, memberi
makan kepada 60 orang miskin.
* Injeksi makanan : iaitu menyalurkan bahan
makanan melalui usus atau darah dengan tujuan
pemakanan keatas pesakit, dan jenis-jenis ini
membatalkan puasa, kerana ini masuk melalui rongga.
* Haidh dan Nifas : keluar darah dari wanita
sebahagian hari siang samaada menjumpainya awal
atau akhir, dia harus berbuka dan mengqadha'nya.
* Mengeluarkan mani : melakukan onani
(masturbation) atau bercumbu atau bercium, atau
apa perbuatan kearah itu, dan jika ia bersangkutan
dengan pendewasaan, maka ia tidak membatalkan
puasa kerana ia bukanlah diatas kehendak mereka
yang berpuasa.
* Keluarnya darah : contohnya pendarahan berlaku
kepada yang berpuasa, diberikan ganti atas apa
yang dikeluarkan.
8-Qadha' Puasa
Adalah mustahab (digalakkan) menyegerakan diri
untuk qadha' puasa dan tidak disukai
melewatkannya, tidak wajib berturut2 didalam
Qadha'. Pada ulama' bersetuju secara ijma' bahawa
barangsiapa yang mati dan dia juga meninggalkan
solat maka tiada qadha' baginya. Begitulah dari
golongan yang lemah ('ajuz) yang tidak berpuasa
sekalipun didalam hidupnya, mereka dikehendaki
memberi makan hari-hari yang ditinggalkan kepada
orang miskin. Akan tetapi, barangsiapa yang sedang
berpuasa mati, maka wajib puasa keatasnya. Sabda
Nabi saw :
"Barangsiapa yang mati sedangkan ia masih
mempunyai puasa wajib, maka berpuasalah walinya
untuknya" [Hadith Muttafqa 'Alaih]
9-Berpuasa tetapi meninggalkan solat :
Barangsiapa yang meninggalkan solat, maka dia
telah meninggalkan satu rukun penting didalam
rukun2 Islam selepas Tauhid. Puasa tersebut tidak
bermunafaat apa2 selama-mana dia meninggalkan
solat. kerana sesungguhnya solat itu tiang agama
dan ia bergantung kepadanya. Meninggalkan solat
telah dihukumkan kafir diatasnya. Orang kafir
tidak diterima amalannya sebagaimana hadith Nabi saw:
"Sempadan yang membezakan diantara kita dan mereka
(orang kafir) adalah Solat, barangsiapa yang
meninggalkan solat maka dia telah kafir" [Hadith
Sahih Riwayat Imam Ahmad]
10-Solat Malam yang optional ( Tarawih ) :
Rasulullah saw telah melakukan Qiam Ramadhan
(Solat Tarawih) secara berjemaah, kemudian baginda
telah meninggalkannya kerana takut umatnya akan
mewajibkannya, maka sesiapapun tidaklah boleh
mewajib solat ini. Bilangan rakaat ialah 8 (lapan)
rakaat tanpa witir sebagaimana hadith dari A'isyah
ra, :
"Nabi saw tidak menambah pada malam Ramadhan dan
selainnya sebanyak 11 rakaat" [Hadith Muttafaq 'alaih]
Umar bin al-Khattab ra menghidupkan sunnah Solat
berjemaah 11 rakaat ini, dan beliau bersolat pada
zamannya sebanyak 23 rakaat, dan mereka bersolat
selepasnya sebanyak 39 rakaat. Amalan 23 rakaat
dilakukan sebagaimana solat di Masjidil Haram dan
Masjid al-Nabawi, ini merupakan pandangan 3 Imam
dan mereka2 yang lain.
Apa yang wujud pada umat Islam sekarang adalah
Solat Tarawih dilakukan secara laju bacaannya,
termasuklah ruku' dan sujudnya, dan ini telah
bertentangan dengan solat, iaitu kaifiat khyusuk,
dan dalam keadaan2 yang lain boleh mengakibatkan
solat tersebut batal.
11-Zakat Fitrah
Zakat Fitrah merupakan amalan fardu, Nabi saw
bersabda :
"Rasulullah saw telah memfardukan zakat fitrah
pada bulan Ramadhan keatas manusia" [Hadith
Muttafaq 'alaih]
Diwajibkan Zakat Fitrah keatas kanak2 dan orang
dewasa, lelaki dan perempuan, manusia bebas dan
hamba dari orang2 Islam, dan kadarnya diukur
menurut negara tempat tinggal masing2, yang
afdalnya tempat tinggal siang dan malam mereka
bersama keluarga. Yang paling afdal diberikan
kepada golongan miskin.
Waktu mengeluarkannya : Pada Hari Raya (Eid)
sebelum solat, dan boleh juga sehari atau 2 hari
sebelumnya, dan tidak boleh melewatkannya dari
hari Eid.
Express yourself with 400+ FREE Email Stamps - click here!
Saturday, October 22, 2005 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0
















