Followers

ziddu

Saturday, September 15, 2007

TAZKIRAH RAMADHAN...


Petikan ucapan Imam As-Syahid Hassan Al-Banna sempena kedatangan Ramadhan Al-Muazzhom

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Wahai Ikhwan yang mulia. Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang diberkati dan baik:
Assalamua'laikum wa rahmatullah wa barakatuh...

Pada malam ini, yang merupakan akhir bulan Sya’ban, kita menutup serial kajian kita tentang Al-Qur’anul Karim, tentang kitab Allah swt. Insya Allah, pada sepuluh malam yang pertama bulan Syawal, kita kembali kepada tema tersebut. Setelah itu kita akan membuka serial baru dari ceramah-ceramah Ikhwan, yang temanya insya Allah: Kajian-Kajian tentang Sirah Nabi dan Tarikh Islam.

Ramadhan adalah bulan perasaan dan ruhani, serta saat untuk menghadapkan diri kepada Allah. Sejauh yang saya ingat, ketika bulan Ramadhan menjelang, sebagian Salafush Shalih mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat ‘Id. Yang mereka rasakan adalah ini bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam) dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami.

Ikhwan sekalian, sebenarnya saya berupaya untuk mencari kesempatan untuk mengadakan kajian Selasa pada bulan Ramadhan, tetapi saya tidak mendapatkan waktu yang sesuai. Jika sebagian besar waktu selama setahun telah digunakan untuk mengadakan kajian-kajian tentang Al-Qur’an, maka saya ingin agar waktu yang ada di bulan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian tersebut. Apalagi, banyak di antara ikhwan yang melaksanakan shalat tarawih dan memanjangkannya, sampai mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali di bulan Ramadhan. Ini merupakan cara mengkhatamkan yang indah. Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi saw. Sekali dalam setahun.
Nabi saw. mempunyai sifat dermawan, dan sifat dermawan beliau ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau. Beliau lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang ditiupkan. Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an ini terus berlangsung sampai pada tahun ketika Rasulullah saw. diberi pilihan untuk menghadap kepada Ar-afiq Al-A’la (Allah swt.), maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi saw. bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir beliau hidup di dunia.

Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Rasulullah saw. pernah bersabda mengenainya ;
“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi-nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa ‘at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya. ‘Maka Allah memperkenankan keduanyamemberikan syafaat. ”
(HR. Imam Ahmad dan Ath Thabrani)

Wahai Ikhwan, dalam diri saya terbetik satu pemikiran yang ingin saya bicarakan. Kerana kita berada di pintu masuk bulan Puasa, maka hendaklah pembicaraan dan renungan kita berkaitan dengan tema bulan Ramadhan.
Ikhwan sekalian, kita telah berbicara panjang lebar tentang sentuhan perasaan cinta dan persaudaraan yang dengannya Allah telah menyatukan hati kita, yang salah satu dampaknya yang paling terasa adalah terwujudnya pertemuan ini kerana Allah. Bila kita tidak akan berjumpa dalam masa empat pekan atau lebih, maka bukan berarti bara perasaan ini harus padam atau hilang. Kita tidak mesti melupakan prinsip-prinsip luhur tentang kemuliaan dan persaudaraan kerana Allah, yang telah dibangun oleh hati dan perasaan kita dalam majelis yang baik ini.
Sebaliknya, saya yakin bahwa ia akan tetap menyala dalam jiwa sampai kita biasa berjumpa kembali setelah masa percutian ini, insyaAllah. Jika ada salah seorang dari Anda melaksanakan shalat pada malam Rabu, maka saya berharap agar ia mendoakan kebaikan untuk ikhwannya. Jangan Anda lupakan ini! Kemudian saya ingin Anda selalu ingat bahwa jika hati kita merasa dahaga akan perjumpaan ini selama minggu-minggu tersebut, maka saya ingin Anda semua tahu bahwa dahaganya itu akan dipuaskan oleh mata air yang lebih utama, lebih lengkap, dan lebih tinggi, yaitu hubungan dengan Allah swt., yang merupakan cita-cita terbaik seorang mukmin bagi dirinya, di dunia maupun akhirat.

Kerana itu, Ikhwan sekalian, hendaklah Anda semua berusaha agar hati Anda menyatu dengan Allah swt. Pada malam-malam bulan mulia ini. Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah swt. bagi diri-Nya sendiri.
“Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. la untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.”

Ini, wahai Akhi, mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandung manfaat lahiriah yang bisa dilihat, dan di dalamnya terkandung semacam bagian untuk diri kita. Kadang-kadang jiwa seseorang terbiasa dengan shalat, sehingga ia ingin melaksanakan banyak shalat sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan dzikir, sehingga ia ingin banyak berdzikir kepada Allah sebagai bagian bagi dirinya.
Kadang-kadang ia terbiasa dengan menangis kerana takut kepada Allah, maka ia ingin banyak rnenangis kerana Allah sebagai bagian bagi dirinya. Adapun puasa, wahai Akhi, di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya. Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia kerana bermunajat kepada Allah swt. Dan berdiri di hadapan-Nya, khusus-nya ketika melaksanakan shalat tarawih.

Ikhwan sekalian, hendaklah senantiasa ingat bahwa Anda semua berpuasa kerana melaksanakan perintah Allah swt. Maka berusahalah sungguh-sungguh untuk beserta dengan Tuhan Anda dengan hati Anda pada bulan mulia ini. Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah swt. Hal ini telah dinyatakan dalam kitab-Nya,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil).”
(Al-Baqarah:185)

Wahai Akhi, pada akhir ayat ini Anda mendapati:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
(Al-Baqarah: 185)
Puasa adalah kemanfaatan yang tidak mengandung bahaya. Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah swt. akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Jika Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka menaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri dan selayaknya Allah dimahabesarkan atas karunia hidayah tersebut.
“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.”
(Al-Baqarah: 185)
Kemudian, lihatlah wahai Akhi, kesan dari semua ini.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(Al-Baqarah; 186)

Wahai Akhi, di sini Anda melihat bahwa Allah Yang Maha Benar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia swt. paling dekat kepada hamba-Nya adalah pada bulan mulia ini. Allah swt. telah mengistimewakan bulan Ramadhan. Mengenai hal ini terdapat beberapa ayat dan hadits. Nabi saw. bersabda,
“Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Mahabenar swt “Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!"

Wahai Akhi, pintu-pintu surga dibuka, kerana manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, kerana manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan, merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan oleh Al-Haq swt., agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat mencari karunia Allah swt. sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah.
Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah swt. telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Kerana itu, Allah swt. mengistimewakan dengan menyebutkannya dalam kitab-Nya.
” (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.”
(Al-Baqarah: 185)

Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Dia mewajibkan puasa. Kerana puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat material dalam diri manusia. Ini berarti, wahai Akhi, bahwa jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, kerana ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah swt. Kerana itu, bagi Allah, membaca Al-Qur’an merupakan Ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.

Pada kesempatan ini, Ikhwan sekalian, saya akan meringkaskan untuk Anda semua pandangan-pandangan saya tentang kitab Allah swt., dalam kalimat-kalimat ringkas. Wahai Ikhwan yang mulia, tujuan-tujuan asasi dalam kitab Allah swt. dan prinsip-prinsip utama yang menjadi landasan bagi petunjuk Al-Qur’an ada empat:

1. Perbaikan Aqidah

Anda mendapati bahwa Al-Qur’anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia bisa mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat. Keyakinan bahwa Allah swt. adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhir, agar setiap jiwa dihisab tentang apa saja yang telah dlkerjakan dan ditinggal kannya. Wahai Akhi, jika Anda mengumpulkan ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Qur’an, niscaya Anda mendapati bahwa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Qur’an.
Allah swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah;
“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; kerana itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.”
(Al-Baqarah: 21-22)

Wahai Akhi, setiap kali membaca surat ini, Anda mendapati kandungannya ini melintang di hadapan Anda. Allah swt. juga berfirman dalam surat Al-Mukminun,
“Katakanlah, Kepunyaan siapa-kah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?’ Sebenar-nya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.”
(Al-Mukminun: 84-90)

Allah swt. juga berfirman di surat yang sama;
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.”
(Al-Mukminun: 101-103)

Allah swt. juga berfirman;
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Kerana sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”
(Az-Zalzalah: 1-8)

Allah swt. berfirman;
“Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kalian apakah hari Kiamat itu?” (Al-Qari’ah: 1-3) Dalam surat lain Allah berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.”
(At-Takatsur: 1-4)
Wahai Akhi, ayat-ayat ini menjelaskan hari akhirat dengan pen-jelasan gamblang yang bisa melunakkan hati yang keras.

2. Pengaturan Ibadah

Anda juga membaca firman Allah swt. mengenai ibadah. “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”
(Al-Baqarah: 43)
“…diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.”
(Al-Baqarah: 183)
“…mengerjakan haji adalah kewa-jiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali-Imran: 97) Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.”
(Nuh: 10)
Dan banyak lagi ayat-ayat lain mengenai ibadah.

3. Pengaturan Akhlak

Mengenai pengaturan akhlak, wahai Akhi, Anda biasa membaca firman Allah swt.
“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.”
(Asy-Syams: 7-8)
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.”
(Ar-Ra’d:11)
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang sabar kerana mencari ridha Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu),’ maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”
(Ar-Ra’d: 19-24)
Wahai Akhi, Anda mendapati bahwa akhlak-akhlak mulia bertebaran dalam kitab Allah swt. dan bahwa ancaman bagi akhlak-akhlak tercela sangatlah keras.
“Dan orang-orang yang memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).”
(Ar-Ra’d: 25)

Inilah peraturan-peraturan tersebut, Ikhwan sekalian, sebenarnya, peraturan-peraturan itu lebih tinggi daripada yang dikenal oleh manusia, kerana di dalamnya terkandung semua yang dikehendaki manusia untuk mengatur urusan masyarakat. Ketika mengupas sekelompok ayat, maka Anda mendapati makna-makna ini jelas “Seperempat Juz Khamr” dalam Al-Quran yang diawali dengan
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi”
(Al-Baqarah: 219),
lebih dari dua puluh lima hukum praktis: tentang khamr, judi, anak-anak yatim, pernikahan laki-laki dan wanita-wanita musyrik, haid, sumpah, ila’, talak, rujuk, khuluk, nafkah, dan hukum-hukum lainnya yang banyak sekali Anda dapatkan dalam seperempat juz saja. Hal ini kerana surat Al-Baqarah datang untuk mengatur masyarakat Islam di Madinah.

Ikhwan tercinta, hendaklah Anda semua menjalin hubungan dengan kitab Allah. Bermunajatlah kepada Tuhan dengan kitab Allah. Hendaklah masing-masing dari kita memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang telah saya sebutkan ini, kerana itu akan memberikan manfaat yang banyak kepada Anda, wahai Akhi. Insya Allah Anda akan mendapatkan manfaat darinya.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Saturday, September 15, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Berbagai Peristiwa di Bulan Ramadhan


  • Di bulan Ramadhan Al Qur’an di turunkan. Dialah wahyu Allah yang menjadi petunjuk hidup manusia. Dialah mu’jizat yang dianugerahkan Allah kepada manusia.
  • Tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah, hari Jum’at pagi, terjadi peperangan Badr al-Kubra. Sebuah perang besar terbuka yang pertama kalinya terjadi antara kaum Muslimin melawan kaum musyrik. Pertempuran terjadi di sebuah lembah di dekat kota Madinah, yaitu di Badr. Kekuatan kaum Muslimin waktu itu, sekitar 300 orang, setiap dua orang satu unta. Sedangkan kekuatan kaum kafir sekitar 1000 orang dengan perincian 700 orang naik unta dan lebih dari 100 orang adalah pasukan berkuda. Berarti satu orang Muslim harus menghadapi 3 lawan. Pertempuran dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan gilang-gemilang.
  • Tanggal 18 Ramadhan tahun ke-8 Hijrah Rasulullah bersama 12 000 kaum Muslimin bertolak dari Madinah menuju Makkah untuk membebaskan Makkah. Peristiwa bebasnya kota Makkah terkenal dengan sebutan Futuh Makkah. Pembukaan kota Makkah menandai sebuah era baru di dalam Islam, setelah sebelumnya kaum Muslimin selalu disiksa, ditindas, bahkan terakhir dikepung oleh pasukan Ahzab (sekutu) selama berminggu-minggu di Madinah. Era baru yang dibangkitkan oleh Rasulullah dengan perang Ahzab dengan sabdanya,“Kaum Quraisy tidak akan berani mendatangi (menyerang) kamu sesudah tahun ini, telah lenyap musnah kekuatan mereka, dan mereka tidak akan memerangi kita sesudah hari ini, dan sekarang giliran kita akan memerangi mereka, Insya Allah.“
  • Bulan Ramadhan tahun ke-91 Hijrah, kaum Muslimin di bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziad membuka Andalusia(Spanyol). Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Futuh Andalusia. Thariq bin Ziyad menyeberangi selat antara Afrika dan Eropah atas perintah Musa bin Nushair penguasa Islam kala itu. Ketika pasukan Islam sudah sampai di seberang, diperintahkannya agar kapal-kapal perang Islam dibakar. Kemudian ia berpidato didepan pasukannya :„Musuh di depan kalian. Apabila kalian mundur, maka lautan dibelakang kalian..“ Agaknya langkah yang beliau ambil dalam membangkitkan semangat kaum muslimin sangat tepat. Tidak ada lagi jalan untuk mundur. Yang ada hanyalah berjuang sekuat tenaga dan mengharap pertolongan Allah. Berturut-turut kota demi kota jatuh ke tangan kaum Muslimin. Akhirnya pada bulan Ramadhan jatuhlah Andalusia ke tangan kaum Muslimin. Sejarah mencatat bahwa di kemudian hari Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dan menjadi mercu peradaban manusia di zamannya. Kemajuan teknologi yang diperoleh orang-orang Eropah zaman sekarang hanyalah merupakan perpanjangan teknologi umat Islam masa silam.
  • Futuh bilaad Al-Ghaal (dibukanya daerah „Ghaal“ atau dalam bahasa Perancis pays des Gualles). Jatuhnya daerah Ghaal yang sekarang letaknya di Perancis juga terjadi di bulan Ramadhan. Peristiwa ini terjadi di zaman Islam di Andalusia.
  • Ma’rakah ‘Ainu Jaaluut (perang ‘ainu jaaluut). Peperangan ini terjadi dengan latar belakang jatuhnya Daulah Abbasiyyah. Kala itu pasukan Tartar (Mongol) yang ganas mengirim ekspedisi ke arah barat. Ketika sampai di daerah kekhalifahan Abbasiyyah terjadilah pengacauan-pengacauan sampai akhirnya mereka bergerak menuju Baghdad. Baghdad yang kala itu merupakan pusat intelek berhasil mereka hancurkan. Khalifah beserta segenap keluarganya mereka bunuh. Buku-buku perpustakaan di Baghdad mereka tenggelamkan di Sungai Tigris untuk membuat jembatan penyeberangan. Dalam sejarah digambarkan betapa air sungai Tigris kala itu berwarna kehitam-hitaman karena terlalu banyaknya tinta yang larut. Demikianlah akhir dari sebuah peradaban modern Islam di Baghdad. Pasukan Mongol terus bergerak ke barat menuju Syams (sekarang meliputi Syria, Palestina, Yordania, Libanon). Umat Islam tidaklah tinggal diam membiarkan orang-orang kafir merobek-robek kemuliaan umat. Penguasa Mesir kala itu Sa ifuddin Quths menggerakkan pasukan Islam menuju Syams untuk menghalang orang-orang Mongol. Seorang tokoh penting yang sangat berpengaruh membentuk kepribadian Quths adalah seorang ulama yang bernama Al-’Izz bin ‘abdis Salaam. Beliaulah yang mentarbiyyah (membina) Saifuddin Quths menjadi seorang berkepribadian islami. Dua buah pasukan besar tersebut akhirnya bertemu di sebuah tempat yang bernama ‘Ainul Jaaluut (letaknya di Palestina). Sejarah akhirnya mencatat bahwa di‘ainul Jaaluut-lah akhirnya ekspansi pasukan Tartar dipatahkan oleh kaum Muslimin.

    Dipetik dari Internet dan diedit utk. bacaan pembaca Malaysia.

Saturday, September 15, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Tingkatan Puasa


Menurut Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin, tingkatan puasa diklasifikasi menjagi tiga, yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus yang lebih khusus lagi.

Puasa umum adalah tingkatan yang paling rendah yaitu menahan dari makan, minum dan jima'. Puasa khusus, di samping menahan yang tiga hal tadi, juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau tercela. Sedangkan puasa khusus yang lebih khusus adalah puasa hati dari segala kehendak hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya memikirkan apa-apa yang selain Allah.

Puasa level ketiga tadi adalah puasanya para nabi-nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. Sedangkan puasa level kedua adalah puasanya orang-orang salih - puasa tingkat ini yang seharusnya kita tuju untuk mencapainya.

Selanjutnya imam Al Ghazali menjelaskan enam hal untuk mencapai kesempurnaan puasa tingkatan kedua itu. Pertama, menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan serta dari tiap-tiap yang membimbangkan dan melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa meninggalkan pandangan karena takut kepada Allah, niscaya Allah menganugerahkan padanya keimanan yang mendatangkan kemanisan dalam hatinya.

Kedua menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Alquran. "Dua perkara merusakkan puasa," sabda Rasulullah SAW, "Yaitu mengumpat dan berbohong."

Ketika, menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik, karena tiap-tiap yang haram diucapkan maka haram pula mendengarnya. Rasulullah SAW menjelaskan: Yang mengumpat dan yang mendengar, berserikat dalam dosa. Keempat, mencegah anggota-anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Seperti mencegah tangan dan kaki dari berbuat maksiat dan mungkar, mencegah perut dari memakan yang syubhat dan haram.

Kelima, tidak berlebih-lebihan dalam berbuka sampai perutnya penuh makanan. Orang yang berbuka secara berlebihan tentu tidak akan dapat memetik manfaat dan hikmah puasa. Bagaimana dia berusaha mengalahkan musuh Allah dan mengendalikan hawa nafsunya, jika saat berbuka dia justru memanjakan nafsunya dengan makanan yang terhitung banyak dan jenisnya.

Keenam, hatinya senantiasa diliputi perasaan cemas (khauf) dan harap (raja'), karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah. Rasa cemas diperlukan untuk meningkatkan kualiti puasa yang telah dilakukan, sedangkan penuh harap berperanan dalam menumbuhkan optimisme.

Saturday, September 15, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

MARHABAN YA RAMADHAN


Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi erti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda:

"Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan" (Hr. Ahmad)

Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt.

Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya.

Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

SPIRITUALISME DAN MATERIALISME. Puasa Ramadhan hakikatnya adalah melatih dan mengajari naluri (instink) manusia yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit terkotrol dan terkendali itu adalah naluri perut yang selalu menuntut untuk makan dan minum dan naluri seks yang selalu bergelora sehingga manusia kewalahan untuk mengekang dua naluri ini.

Dalam sejarah manusia didapatkan dua falsafah yang dapat menguasai dan mendominasi kebanyakan manusia, yakni falsafah materialisme yang berorientsi pada materi saja, dan falsafah spiritualisme yang hanya berorientasi pada rohaniah saja.

Orang-orang yang berorientasi materi - terdiri dari orang-orang atheis, komunis dan animisme dan berhalaisme - mereka hidup untuk dunianya saja. Mereka melepaskan kenhendak nalurinya dan tak pernah puas. Bila terpenuhi satu keinginannya, timbul keinginan baru begitu seterusnya. Sahwat manusia bila sudah terbakar maka akan mengheret dari sedikit ke yang banyak, dari banyak ke yang terbanyak.

Allah mengecam orang-orang seperti ini: "Biarkanlah mereka makan, dan bersenang-senang, mereka dilalaikan oleh angan-angan dan mereka akan mengetahui akibatnya".(QS Al Hijr 3). Ayat lain: "Orang-orang kafir mereka bersenang-senang dan makan seperti binatang ternak makan. Dan neraka adalah tempat tinggalnya".(QS Muhammad 12)

Mereka hidup di dunia ini dalam keadaan kosong. Jiwanya dikuasai nafsunya, menghalalkan segala cara, dan dihari kiamat nanti mereka mendapat balasan yang setimpal. "Demikian itu bersenang-senang di bumi tanpa haq dan mereka sombong".(QS Ghofir 75) Sementara filsafat spiritualisme yang didasarkan pada kerahiban, berpandangan bahwa pengabdian kepada Tuhan harus menekan naluri seks mengikis habis pendorong-pendorongnya dan mematikannya yang juga diatasi dengan mengurangi makan. Dengan kata lain mereka masuk dalam kancah peperangan melawan jasad manusiawinya. Filsafat ini dilakukan oleh gereja sejak dahulu kala.

Orang-orang Barat dewasaa ini melepaskan diri dari filsafat gereja, mereka menggunakan waktu dan harta kekayaannya untuk memenuhi sahwat jasmaninya. Filsafat spiritualismenya telah lenyap, bahkan gereja-gereja sudah tiada lagi pengunjungnya walaupun pada hari Minggu. Seandainya masih ada, itu hanya sekelompok minoritas yang hidup di dunia Islam.

Agama Islam adalah agama yang seimbang. Ia menghormati rohani dan jasmani sekaligus, ia memperhatikan nilai-nilai ideal manusia, tapi juga menjamin kebutuhan hidup naluri duniawinya asal dalam ruang keutamaan, ketaatan, kehormatan.

Ia membolehkan manusia makan dengan catatan dalam batas kewajaran dan kehormatan. "Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tidak diiringi kesombongan".(HR Bikhari)

Islam mengimbangkan antara ruhani dan jasmani. "Ya Allah, a ku berlindung kepadamu dari lapar, karena sesungguhnya seburuk- buruk tidur adalah dalam keadaan lapar. Dan aku berlindung kepadamu dari khianat, karena itu adalah seburuk-buruk suasana kejiwaan".(HR Abu Daud)

Islam memperhatikan kehidupan dunia dan akherat, "Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apa yang Tuhan kalian turunkan? mereka berkata: 'Keuntungan bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini dan akherat lebih baik, dan sebaik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa".(QS AN Nahl 30)

Ajaran Islam datang untuk mensucikan manusia, mengangkat darjatnya, ia mensucikan fisikalnya dengan mandi dan berwudlu, mensucikan jiwanya denga ruku' dan sujud. Islam adalah jasmani dan ruhani, dunia dan akherat dengan falsafah puasa. Islam menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani.

Nilai manusia tidak terletak pada jasadnya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena ruhani datangnya dari Allah swt. Firman Allah:

"Ingatlah diwaktu Tuhanmu berkata kepada para malaiakat: "Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kalian kepadanya".(QS ShAd 71-72)

Setelah itu manusia ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kapadanya dan yang memuliakannya atas seluruh makhluknya.

Mereka itu akan bersyukkur kepada pemberi nikmat, sementara ada manusia-manusia yang melupakan Tuhannya, melupakan kepada dzat yang meniupkan ruh kepadanya.

Demikian juga halnya kebudayaan. Kebudayaan yang memegang kendali alam sekarang ini telah melupakan Tuhannya, melalaikan haknya. Dunia ini tidak memiliki kebudayaan yang mengakui ruhani dan jasmani, berorientasi dunia dan akherat dan menentukan hak-hak manusia disamping hak-hak Allah -kebudayaan Islam-.

Puasa Ramadhan sebagaimana Rasulullah jelaskan dapat mengangkat derajat pelakunya menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, aklaq mulia dan perilaku yang indah ditengah-tengah masyarakat. "Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan aib. dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah, 'Aku berpuasa'". (HR. Bukhori).

Dalam bulan Ramadhan terdapat filsafat Islam yang mengaitkan dunia dengan akhirat, mengaitkan jasmani dan ruhani, mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia dengan wahyu, dan mengaitkan dunia dengan kitab yang menerangi jalannya dan menetukan tujuannya.

Saturday, September 15, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Penghayatan Puasa


Pada hakikatnya puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan minum pada siang hari. Tetapi puasa yang sebenarnya ialah menegahkan diri daripada segala yang perkara haram, dosa dan maksiat seperti mengumpat, berbohong, menipu, memandang yang haram, memudaratkan orang lain dan sebagainya.

Sebahagian ulama berkata:"Ramai orang yang puasa, berbuka; dan ramai yang berbuka, berpuasa. Orang berbuka yang puasa ialah orang yang memelihara anggota badannya dari yang haram, padahal dia makan dan minum. Dan orang berpuasa yang berbuka ialah orang yang menahan makan dan minum hingga lapar dan dahaga, tetapi pada waktu yang sama dia membebaskan anggota badannya melakukan yang haram."

Rasulullah s.a.w. bersabda:

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya Rasulullah s.a.w. bersabda:"Puasa itu bukanlah sekadar menahan makan minum, tetapi puasa itu ialah menahan dari melakukan perkara sia-sia; maka jika seseorang memaki engkau atau dia tidak mengetahui engkau sedang berpuasa, maka katakan:"Sesungguhnya saya berpuasa, sesungguhnya saya berpuasa!". "
    (Riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim)
Sabda Rasuulllah s.a.w lagi :
    Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a. katanya: rasulullah s.a.w. bersabda:"Seringkali orang yang berpuasa itu hanya sekadar mendapat lapar dan dahaga, dan sering kali orang yang bangun malam itu hanya sekadar berjaga."
    (riwayat Tabarani)
Bagi menambahkan kebaikan, rahmat dan pahala dari Allah S.W.T. kaum muslimin dikehendaki mengundang kaum kerabat, jiran serta orang-orang yang dekat untuk makan bersama ketika berbuka.

Sabda Rasulullah s.a.w.:

    Diriwayatkan daripada Zaid bin Khalid al-Juhani r.a. daripada Nabi s.a.w. sabdanya:"Siapa yang memberi amkanana berbuka kepada orang yang berpuasa baginya pahala seumpama orang yang berpuasa itu, meskipun orang yang berpuasa itu tidak dikurangi pahala sedikit pun."
    (riwayat Tirmizi dan Nasai)
Sabda Rasulullah lagi: Diriwayatkan daripada Salman r.a.katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: "Siapa yang menjamu orang yang berpuasa ketika berbuka dengan makanan dan minuman yang halal, maka malaikat mendokannya pada saat-saat bulan Ramadhan dan Jibril mendokannya pada malam al-Qadar."

Saturday, September 15, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Ramadan bulan ibadah


oleh ustaz safwan al-Islah

Apabila masuk Ramadhan ulama'-ulama' Islam memberi tumpuan khusus kepada menambahkan amal dan tilawah al-Quran. Imam Malik meninggalkan pengajian hadis dan memberi tumpuan kepada tilawah al-Quran. Begitu juga dengan Imam Syafiee. Beliau sempat mengkhatamkan al-Quran sebanyak 60 kali dalam bulan Ramadhan.

Sesungguhnya Ramadhan bulan amal! Bulan Tilawah al-Quran! Bulan menundukkan hawa nafsu! Bulan qiamulail! Bulan pohon taubat! Bulan ZikruLlah! Bulan sedekah! Bulan iktikaf! Bulan mencari lailatul qadar!

Ramadhan seharusnya berbeda dengan bulan-bulan yang lain. Sebelas bulan sebelumnya kita bergelumang dengan pelbagai dosa-dosa. Makanya inilah peluang untuk kita untuk mendapatkan keampunan Allah S.W.T. Sabda Rasulullah yang bermaksud:

Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan ikhlas, maka akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.

Kita diajar oleh Rasulullah agar sentiasa membaca doa "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkan daku" dalam bulan Ramadhan. Kita juga diajar agar sentiasa memohon Syurga dan meminta dijauhi azab Neraka.

Dalam bulan ini Jibril mendatangi Rasulullah untuk membaca al-Quran. Maka adalah sangat-sangat dituntut agar kita memperbanyakkan tilawah al_Quran dalam bulan ini. Paling kurangnya kita dapat mengkhatam al-Quran sekali dalam bulan Ramadhan. Alangkah baiknya jika kita dapat melaksana tadarrus al-Quran di masjid-masjid. Sesungguhnya orang yang mendengar seseorang membaca al-Quran dikira sebagai pembaca al-Quran jua. Pahala membaca al-Quran ini sangat besar, apatah lagi jika di baca dalam bulan yang penuh barakah ini.

Ramadhan adalah bulan qiamulail. Nabi mengikatkan kainnya dan bangun sembahyang malam sehingga bengkak kakinya. Pada 10 akhir Ramadha nabi tidak keluar dari masjid kecuali kerana keperluan asas seperti berhadath. Pada zaman khulafa arrasyidin sahabat-sahabat berselerak dengan kumpulan masing-masing dimasjid, masing-masing bersembahyang tarawih selepas waktu Isya'. Melihat keadaan ini, Saidina Omar mencadangkan agar semua sahabat berkumpul dengan seorang imam sahaja. Oleh itu kita hendaklah memperbanyakkan bertarwih dan qiamulail dalam bulan yang mulia ini.

Diberitakan bahawa amal Nabi s.a.w. sungguh luar biasa dalam bulan Ramadhan. Antaranya ialah sedekah. Nabi bersedekah umpama angin berlalu. Nabi sungguh pemurah dan tidak pernah mengecewakan orang fakir miskin. Hendaklah kita mengamalkan sunnah ini. Bahkah seteguk air yang kita berikan kepada orang yang berbuka, pahalanya akan kita perolehi seperti pahala orang yang berpuasa itu! Apakah kita menolak tawaran besar ini??

Sesungguhnya semua amal-amal ini menjuruskan kepada satu matlamat: BERTAQWA kepada Allah S.W.T. Firman Allah S.W.T yang bermaksud:

Wahai orang-orang beriman, berpuasalah kamu seperti mana orang terdahulu berpuasa, moga-moga kamu bertaqwa.

Apabila kita bertaqwa maka kita akan mendapat kemuliaan di sisi Allah S.W.T. Taqwa juga dapat menjauhkan kita dari azab Api Neraka dan memasukkan kita ke Syurga . Dengan taqwa kita dapat menentukan mana yang hak dan mana yang batil. Taqwa dapat mengeluarkan diri kita dari kesempitan dunia. Rezki yang tidak disangka-sangka akan diperolehi untuk orang yang bertaqwa. Taqwa memberi kebaikan dunia dan Akhirat Benarlah Firman Allah yang bermaksud:

Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu adalah bekalan taqwa.

Selamat berpuasa! Selamat Beramal! Selamat bertilawatul Quran!

Saturday, September 15, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Sejarah Pensyariatan Puasa


Puasa Ramadhan difardhukan pada bulan Sya'ban tahun kedua hijrah. Sebelum itu puasa telah dikenalii oleh umat-umat sebelumnya dan juga Ahli Kitab yang hidup sezaman dengan RasuluLlah s.a.w.. Firman Allah Taala::


Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang-orang yang terdahulu daripada kamu, supaya kamu bertaqwa".
(al-Baqarah, ayat 183)

Walaubagaimanapun kewajipan puasa Ramadhan tidak pernah disyariatkan sebelum itu. Persamaan yang wujud diantara umat ini dengan umat-umat terdahulu ialah puasa disyariatkan. Tetapi kefardhuan puasa Ramadhan dikhususkan hanya kepada umat Nabi Muhammad s.a.w.

Hikmah, Rahsia dan Faedah Puasa

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang difardhukan Allah Taala. Maksud ibadah ialah seseorang muslim melaksanakannya sebagai memenuhi titah perintah Allah Taala dan menunaikan hak perhambaan kepada Allah Taala tanpa melihat apa-apa natijah yang mungkin dihasilkan daripada ibadah puasa itu. Sekiranya seorang muslim telah melakukan perkara tersebut, maka selepas itu tidak ada halangan baginya untuk mencari hikmah dan rahsia ketuhanan yang tersembunyi disebalik sesuatu ibadah seperti puasa dan sebagainya. Suatu perkara yang tidak diragukan lagi ialah hukum-hukum Allah Taala semuanya mempunyai hikmat, rahsia dan faedah untuk hamba-hambaNya. Tetapi tidak disyariatkan hamba itu untuk mengetahui perkara tersebut.

Tidak diragukan juga bahawa puasa mempunyai hikmah dan faedah yang cukup banyak yang kadang-kadang sebahagiannya diketahui oleh hamba, tetapi masih banyak lagi hikmat yang tidak diketahuinya. Diantara hikmat dan faedah puasa yang mungkin diketahui oleh seseorang Islam ialah:

1. Menyedarkan hati seorang mukmin terhadap muraqabah Allah Azzawajalla. Ini disebabkan apabila orang yang berpuasa menghabiskan sebahagian waktu siangnya dengan berlapar, jiwanya inginkan makanan dan minuman. Tetapi kesedarannya tentang ibadah puasa yang sedang dilakukannya menghalang dirinya memenuhi kehendak jiwanya dalam rangka mematuhi perintah Allah Taala. Daripada pertentangan jiwa ini akan lahirlah kesedaran hati dan suburlah perasaan muraqabah Allah Taala serta berterusanlah ingatannya terhadap rububiyah dan keagungan kekuasaan Allah. Begitu juga dia akan sentiasa sedar bahawa dia adalah hamba yang sentiasa tunduk kepada hukum Allah dan mematuhi kehendakNya.

2. Ramadhan adalah bulan suci dibandingkan dengan semua bulan yang lain. Allah Azzawajalla menghendaki hambaNya supaya memenuhkannya dengan ketaatan dan mendekatkan diri kepadaNya. Juga mengisinya dengan setinggi-tinggi makna perhambaan kepada Allah Azzawajalla. Alangkah sukarnya untuk merealisasikan perkara itu apabila berhadapan dengan hidangan makanan, berada dimajlis minum, selepas perut diisi penuh dan setelah naiknya hawa makanan ke dalam pemikiran dan otak. Jadi pensyariatan puasa pada bulan ini adalah jalan yang paling mudah untuk memenuhi hak Allah Taala dan melaksana kewajipan perhambaan kepadaNya.

3. Sesungguhnya kehidupan seseorang muslim yang sentiasa barada dalam keadaan kenyang pasti akan memenuhkan jiwanya dengan sifat-sifat yang keras dan menuburkan faktor-faktor pelampauan. Kedua perkara ini bertentangan dengan keadaan sebenar seseorang muslim. Jadi pensyariatan puasa akan membersihkan jiwanya dan menghaluskan perasaannya.

4. Diantara prinsip terpenting tertegaknya masyarakat Islam ialah saling kasih mengasihi dan sayang menyayangi sesama umat Islam. Amat sukar bagi si kaya untuk mengasihi si miskin dengan kasih sayang sebenar tanpa dia merasai kesakitan dan kepayahan kemiskinan juga kepahitan kelaparan dan penderitaan. Bulan Ramadhan adalah sebaik-baik pengalaman yang akan diperolehi si kaya mengenai perasaan si fakir. Ini menjadikannya hidup bersama si fakir di alam kepedihan dan dihalang daripada memiliki makanan. Dari sinilah puasa adalah sebaik-baik perkara yang akan menimbulkan faktor-faktor kasih sayang, rahmat dan kesian di dalam jiwa si kaya.

sekian.

Saturday, September 15, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Friday, July 20, 2007

MeMAKNAkan TAQWA


Oleh Ustaz Mohd Hasnil...19/07/2007

Ada manusia yang dalam hidupnya, dia tidak mahu berusaha. Segala modal dan asset yang ada pada dirinya dibiarkan dan tidak digunakan. Baik ilmu dan pemikirannya, kemahirannya , tenaganya, masanya ataupun wang ringgitnya, tanah dan hartanya. Manusia seperti ini sangat rugi.Ada pula manusia yang dalam hidupnya sangat berusaha. Digunakan segala kepunyaannya dan segala apa yang ada pada dirinya. Tetapi usahanya itu tidak membawa natijah kerana usahanya itu tidak dihalakan kepada sesuatu arah yang tertentu atau kepada matlamat yang betul.
Orang berusaha maka dia pun berusaha. Dia tengok orang sibuk, dia pun sibuk. Apa tujuan dia tidak tahu. Oleh itu, usahanya tinggal usaha tanpa ada apa-apa hasil yang bermanfaat.Orang seperti ini, dia 2 kali rugi. Sudahlah tidak dapat apa-apa macam orang yang tidak berusaha tadi, ditambah dia dapat letih dan penat serta modalnya habis begitu sahaja. Orang yang langsung tidak berusaha, setidak-tidaknya dia tidak letih dan modalnya tidak habis.Kalau orang ada sebidang tanah tetapi tidak diusahakan tanah itu hingga tumbuh semak dan lalang, ini orang yang malas dan tidak pandai memanfaatkan tanahnya. Tetapi orang yang ada sebidang tanah, dibajak, ditraktor tanah itu, digemburkan, dibuat batas dan dibubuh baja dan kemuadian dibiarkan hingga tumbuh semak dan lalang, apakah pula istilah yang hendak kita gunakan terhadap orang seperti itu.Begitulah umumnya sifat, watak dan perangai umat Islam masa kini di seluruh dunia. Sama ada mereka malas berusaha atau mereka berusaha tetapi tidak ada natijahnya dan hasilnya tidak ke mana. Sudahlah amal ibadah mereka kurang, disempitkan pula hanya kepada ibadah yang berbentuk khususiah semata-mata. Kadang-kadang tasawuf diamalkan tetapi rosak feqah dan tauhidnya. Feqah diamal tanpa tauhid dan tasawufnya. Kadang-kadang tauhidnya terus rosak. Jadi , kalau beramal pun, tidak ada apa-apa makna.Umat Islam hari ini beramal tidak tahu untuk dapat apa. Untuk dapat pujian? Untuk dihormati? Untuk disokong dan diberi undi? Supaya tidak disisih atau dipulaukan oleh masyarakat atau supaya tidak dihukum kerana tidak bersyariat? Kalau ditanya, paling baik mereka kata kerana mahu mengumpul pahala dan fadhilat. Seolah-olah Syurga itu ada maharnya dan boleh dibeli. Ada kos dan nilainya. Macamlah nikmat di dunia, semuanya boleh dibeli. Kalau tidak dengan duit, dengan pahala dan fadhilat.Amal ibadah itu, sama ada yang lahir mahupun yang batin adalah syariat. Tujuannya kita bersyariat tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membesarkan Allah. Syariat itu tidak besar. Yang besar itu ialah Allah.
Kita beramal dan bersyariat untuk mendapat Allah SWT. Untuk mendapat redha, kasih saying dan keampunan Allah. Untuk mendapat pemeliharaan, perlindungan dan keselamatan dari Allah. Atau dengan kata yang lain, untuk mendapatkan taqwa. Segala amalan itu untuk menambah taqwa. Kerana Allah hanya menerima ibadah dari orang-orang yang bertaqwa. Allah, hanya akan membela, membantu dan melindungi orang-orang yang bertaqwa. Hanya orang-orang yang bertaqwa sahaja yang akan selamat di sisi Allah SWT.Berapa ramai umat Islam yang benar-benar berusaha dan beramal khusus untuk mendapatkan taqwa? Tidak mungkin ramai bilangannya kerana tidak ramai yang faham apa sebenarnya maksud taqwa. Lebih-lebih lagi tidak ramai yang faham bagaimana jalan untuk mencapai taqwa.ilmu itu sudah tidak diajar. Ilmu ini sudah hilang semenjak jatuhnya empayar Islam 700 tahun dahulu. Lagipun tidak ramai orang yang mampu mengajarnya di waktu ini.Taqwa bukan bererti takut. Taqwa bukan setakat membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Itu baru taat dan patuh tetapi belum tentu bertaqwa. Taqwa adalah intipati ibadah. Ia roh dan jiwa ibadah. Tanpa roh, sesuatu amalan itu tidak menambah taqwa. Amalan taqwa sahajalah yang dipertimbangkan di Akhirat kelak sebagai amalan kebajikan. Bahkan taqwa adalah buah dari beragama.Begitu pentingnya taqwa kepada kehidupan umat Islam. Tidak ada taqwa, tidak dapat Tuhan. Tidak ada taqwa bererti tidak ada kebahagiaan di dunia dan Akhirat. Tetapi inilah yang tidak ada pada umat Islam pada hari ini.Selagi kita tidak faham apa sebenarnya erti taqwa, tidak tahu hakikat dan jalan untuk mencapai taqwa dan tidak berusaha ke arah taqwa, selagi itulah kita belum berada di atas landasan yang betul dalam beragama

Friday, July 20, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Monday, June 04, 2007

Fiqh Amal Islami


MUQADDIMAH
Memahami Islam, perjuangan dan gerak kerjanya adalah suatu perkara yang sangat mustahak bagi setiap orang yang mungkin menceburkan dirinya di dalam perjuangan Islam. Jika tidak, mungkin kegiatan dan tindakannya akan bertentangan dan menyimpang jauh dari kehendak Islam. Akhirnya gerakan menjadi hancur dan para pejuang menjadi mangsa.
Kertas ini cuba memberi gambaran ringkas berkenaan tajuk “kefahaman” agar setiap yang terlibat dapat menilai dan membuat keputusan dan tindakan yang betul selaras dengan kehendak Islam.

MEMAHAMI ISLAM
Semua yang terlibat di dalam gerakan Islam memahami:
a) Bahawa Islam itu agama yang lengkap, merangkumi seluruh bidang kehidupan manusia, aqidah dan syariah, agama dan negara. Oleh kerana itu, ia mestilah bersedia untuk membetulkan aqidahnya, ibadahnya dan lain-lain perkara supaya selaras dengan kehendak al-Quran dan as-Sunnah.
b) Ia hendaklah memahami bahawa al-Quran, as-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qias itu merupakan rujukan bagi orang-orang Islam, pendapat sesiapa jua pun yang bertentangan dengan sumber-sumber tersebut tidak boleh dihormati dan dipatuhi.
c) Oleh itu, pendapat pimpinan yang tidak berlawanan dengan sumber-sumber tersebut hendaklah dihormati dan dipatuhi sekalipun tidak sama dengan pendapat sendiri.
d) Perselisihan pendapat dalam masalah furu’ adalah perkara boleh dan tidak dapat dielakkan. Oleh kerana itu, setiap muslim yang belum mencapai martabat ijtihad hendaklah ia menerima pakai mana-mana pendapat alim ulama’ yang mu’tabar dan janganlah dijadikan berlainan pendapat serta pandangan dalam masalah furu’ itu punca pertelingkahan dan perpecahan dikalangan anggota.
e) Setiap anggota hendaklah faham, ia tidak boleh mengkafirkan seseorang yang mengucap dua kalimah syahadah selama mana ia beramal dengan tuntutan dan kehendak dua kalimah syahadah itu dan selama mana ia tidak mengeluarkan kata-kata yang menjadikan seseorang itu terkeluar daripada Islam atau ia mengingkari sesuatu yang diketahui secara dharuri atau secara mudah dan tidak payah berfikir di dalam Islam. Seperti ia mengingkari haramnya ‘riba’ atau haramnya ‘arak’ atau ia mengingkari seperti wajibnya menjalankan syariat Islam dalam pemerintahan negara atau selama mana ia tidak melakukan perbuatan yang boleh dita’wilkan kecuali kufur, seperti ia menyembah berhala atau seperti ia menghina kitab suci al-Quran al-Karim.

MEMAHAMI HAKIKAT PERJUANGAN ISLAM
Untuk memahami perjuangan Islam, kita haruslah merujuk kepada kandungan satu hadis Nabi yang diriwayatkan oleh seorang sahabat yang bernama Suhain ar-Rumi. Antara isi kandungannya ialah:
menyambung dan tali menali dari segi perjuangan yang pernah diperjuangkan oleh para anbiya’ dan mursalin, bermula dari perjuangan Nabi Allah Adam a.s sampailah kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW yang disambung semula secara terus-menerus oelh para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang datang selepas mereka hingga ke hari ini dan hari yang akan datang.
2) Perjuangan ini sering bermuwajahah dengan golongan yang berkuasa di dalam masyarakat terutamanya para pemerintah yang tidak berdasarkan kepada Islam dan sekaligus menjadi penghalang kepada kerja-kerja Islam. Hal ini boleh dilihat dengan jelas, bila kita cuba mengingati perjuangan Nabi Ibrahim a.s yang ditentang oleh Namrud, Nabi Musa a.s ditentang oleh Firaun dan lain-lain. Bukan sahaja ia menjadi penghalang tetapi juga berusaha sedaya mungkin untuk mempertahankan dasar pemerintahannya. Hatta walaupun para pemimpin yang ada itu pergi, namun mereka tetap mahu melihat bahawa dasar pemerintahannya itu terus wujud dan kekal.
3) Untuk menjamin sistem pemerintahan yang mereka anuti itu kekal, bermacam-macam usaha yang mereka lakukan. Antaranya mengadakan pasukan pertahanan yang kuat, pasukan keselamatan yang rapi, sistem pendidikan dan pembelajaran bermatlamat, para petugas dan pegawai yang terlatih kepimpinan masyarakat yang berkeyakinan, sumber ekonomi yang terjamin dan sebagainya.
4) Pertentangan antara pejuang Islam dengan pihak yang berkuasa di dalam sesuatu masyarakat itu bukan disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan peribadi, tetapi merupakan pertembungan aqidah dan dasar. Hal ini jelas, bila kita mengingati kembali perhubungan di antara Nabi Musa a.s dan Firaun, sebelum menjadi Nabi dan selepas ia diutus menjadi Rasul, hubungan di antara Nabi Muhammad SAW dengan para pemimpin masyarakat Quraisy. Sebelum diangkat menjadi Nabi, baginda disanjung tinggi oleh masyarakat Quraisy sehingga baginda digelar ‘Al-Amin’. Hal ini berubah apabila baginda diisytiharkan menajdi Nabi. Gelaran al-Amin itu bertukar menjadi ahli sihir, gila, pendusta dan lain-lain.
Di zaman kini juga, tidak kurang contohnya yang boleh diambil faham oleh para da’i, khususnya di dalam negara kita yang tercinta ini. Terdapat beberapa orang individu yang pernah dikenakan tindakan undang-undang ke atas mereka sewaktu berada di dalam perjuangan Islam atas alasan yang pelbagai tetapi orang yang sama mendapat sanjungan pihak yang berkuasa apabila meninggalkan perjuangan Islam.

MEMAHAMI ISLAM DARI SUDUT GERAK KERJA UNTUK MENEGAKKANNYA
Untuk memahami Islam dari sudut ini pula, kita haruslah memerhatikan beberapa ayat yang antara lainnya seperti firman Allah, maksudnya:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari kurniaan Allah dan keredhaanNya, tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, iaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya kerana Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh di antara mereka ampunan dan pahala besar”. (al-Fath : 29)
Dari ayat ini, jelas proses perkembangan perjuangan Islam itu. Di mana ia bermula dengan hanya seorang sahaja iaitu Nabi Muhammad SAW. Kemudian ia berkembang daripada seorang kepada seorang yang lain sehingga menjadi suatu kekuatan yang tidak dapat dibendung lagi oleh para penentangnya. Adapun proses perkembangan dan gerak kerja yang dilakukan oleh baginda boleh kita dapati daripada pemerhatian kita akan ayat-ayat yang berikut:
Firman Allah, maksudnya:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhan engkau yang mencipta”. (al Alaq : 1)
Firman Allah, maksudnya:
“Dan berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”.(as-Syu’ara : 214)
Firman Allah, maksudnya:
“Dialah yang mengutuskan kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatnya kepada mereka kitab dab hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan”. (al-Jumu’ah : 2)
Firman Allah, maksudnya:
“Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang yang beribadah kepada Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang yang mengharapkan keredhaan Allah semata-mata”. (al-Kahfi : 28)
Firman Allah, maksudnya:
“Tidakkah engkau melihat kepada mereka yang dikatakan kepada mereka tahanlah tangan-tanganmu dan dirikanlah sembahyang”. (an-Nisa’ : 77)
Firman Allah, maksudnya:
“Maka berterus teranglah dengan apa yang diperintahkan kepada kamu dan janganlah kamu menghiraukan tindakan golongan musyrikin”. (al-Hijr : 94)
Firman Allah, maksudnya:
“Dan siapkanlah untuk mereka kekuatan semampu mungkin”. (al-Anfaal : 60)
Firman Allah, maksudnya:
“Diizinkan bagi mereka berperang (untuk melakukan sesuatu tindak balas) kerana mereka telah di zalimi…”. (al-Hajj : 39)
Firman Allah, maksudnya:
“Dan perangilah pada jalan Allah akan orang-orang yang memerangi kamu”. (al-Baqarah : 190)
Memerhatikan ayat-ayat yang diutarakan di atas dengan baik dan memahaminya dengan halus dan lumat, saudara akan bertemu dengan makna dan maksudnya memahami Islam dari sudut gerak kerja untuk menegakkannya. Bertambah terang lagi, apabila saudara membaca dengan teliti keseluruhan yang tersurat dan yang tersirat di dalam perbincangan yang akan datang.

PERINGKAT KERJA YANG DILALUI OLEH JAMA’AH MUSLIMIN
Gerakan Islam hari ini merupakan lanjutan daripada gerakan yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Oleh kerana itu, ia mestilah mengambil kira apa yang dilakukan oleh junjungan besar Nabi Muhammad SAW, rasul penamat itu.
Gerakan Islam hari ini, hendaklah melalui tiga marhalah sepertimana yang dilalui oleh pimpinan gerakan Rasulullah SAW iaitu marhalah at-Ta’rif, at-Takwin dan at-Tanfiz wal muwajahah.

Marhalah at-Ta’rif
Marhalah at-Ta’rif merupakan marhalah memperkenalkan Islam dan perjuangan Islam kepada masyarakat umum. Marhalah ini adalah marhalah kesungguhan di dalam menyampaikan da’wah dan memperkenalkan jama’ah kepada umat manusia sepertimana yang difirmankan oleh Allah, menceritakan apa yang diucapkan oleh Nabi Allah Nuh a.s. Firman Allah, maksudnya:
“Berkata Nabi Nuh a.s: “Hai Tuhanku, sesungguhnya aku menyeru kaumku siang dan malam”. (Nuh : 5)
Marhalah ini bertujuan untuk memperkenalkan Islam dan jama’ah kepada masyarakat. Ia boleh dilakukan melalui syarahan-syarahan, ceramah-ceramah, hubungan secara individu, sebaran, forum, kelas-kelas pengajian dan lain-lain.

Marhalah at-Takwin
Marhalah ini ialah merupakan marhalah pembentukan dan pembinaan untuk melahirkan tenaga mahir supaya bekerja di dalam gerakan Islam atau Jama’ah Muslimin.
Marhalah inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah SWT, maksudnya:
“Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadah kepada Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang yang mengharapkan keredhaan Allah semata-mata. Dan janganlah engkau memalingkan pandanganmu daripada mereka hanya kerana engkau mahukan kesenangan hidup di dunia dan janganlah engkau mematuhi orang yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di dalam al-Quran, serta ia menurut hawa nafsu dan tingkah lakunya adalah melampaui kebenaran”. (al-Kahfi : 28)
Di dalam ayat ini, Allah mengingatkan baginda supaya sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang Islam (dalam bahasa gerakan; berdamping rapat dengan para anggota), sekalipun mereka miskin. Di dalam surah lain Allah berfirman, maksudnya:
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang rasul dari golongan kamu sendiri (Nabi Muhammad) yang menjadi sangat keberatan kepadanya sebarang kesusahan (yang ditanggung oleh) kamu yang tamakkan kebaikan bagi kamu dan kepada orang-orang yang beriman pula ia menumpahkan perasaan belas serta kasih sayang”. (at-Taubah : 128)
Ayat-ayat yang kita utarakan di atas, memberi perhatian yang berat kepada orang-orang yang bertanggungjawab di dalam Jama’ah Muslimin supaya bersabar di dalam membentuk dan mendidik anggota-anggotanya.
Ayat-ayat tersebut juga mengarahkan orang-orang yang bertanggungjawab di dalam gerakan Islam supaya sentiasa memberi perhatian yang tidak putus-putus terhadap anggotanya dan menjaga mereka serta mengambil berat tentang mereka.
Ayat-ayat tersebut juga mengarahkan pihak yang bertanggungjawab di dalan al-Amal Islami supaya tidak mempedulikan apa-apa yang dilemparkan kepada mereka oleh orang-orang jahil. Sebagaimana Rasulullah tidak mengendahkan pendustaan dan lontaran batu yang dilakukan oleh orang-orang kafir samada di Mekah mahupun di Tho’if. Baginda menenangkan keluarga Yasir, bersabarlah!” Baginda tidak mengarahkan mereka bertindak balas kerana menunggu izin daripada Allah.

TARBIYYAH DAN KEGIATANNYA
Untuk mencapai tujuan dan matlamat tersebut, maka kegiatan yang hendak dilakukan hendaklah berdasarkan kepada waqi’, kedudukan dan susunan anggota. Sebagaimana yang kita semua arif, bahawa kedudukan anggota kita adalah berperingkat-peringkat seperti berikut:
i) Ta’rif
ii) Takwin
iii) Tanfiz

Peringkat Ta’rif
Tarbiyyah peringkat ta’rif bertujuan untuk memastikan bahawa setiap anggota memahami aqidah dengan betul dan melakukan ibadah yang sah serta memberi wala’ yang sejahtera kepada Jama’ah.
Kerana itu penekanan diberi kepada keilmuan Islam secara senang difahami samada di bidang aqidah, ibadah akhlaq dan lain-lain.
Penekanan juga diberi kepada usaha untuk membiasakan anggota dengan perkara-perkara seperti berikut:
1) menghadiri perhimpunan umum
2) menghadiri perhimpunan khusus
3) mengeluarkan zakat kepada jama’ah
4) membaca Al-Quran
5) sentiasa beramal dengan perkara-perkara yang sunat di samping yang wajib dan meninggalkan yang makruh dan haram.

Peringkat Takwin
Matlamat tarbiyyah diperingkat ini ialah untuk melahirkan di kalangan pimpinan di marhalah takwin pemuda dan muslimat yang mempunyai sifat-sifat seperti
1) cintakan Allah
2) rahmat sesama mu’min
3) izzah terhadap kafirin
4) berjihad dengan mengorbankan yang murah dan mahal, harta dan nyawa dan memberi wala’ yang tidak berbelah bagi kepada Jama’ah.
Cara-caranya:
- Membiasakan diri supaya beriltizam dengan tuntutan dan keperluan di atas - Membiasakan diri untuk meneruskan pencapaian matlamat - Memberikan taat yang tidak berbelah bagi dalam perkara ma’ruf . Penekanan kepada:
1) Program keselamatan
2) Program amar Ma’ruf dan nahi munkar secara amali
3) Program untuk menarik sasaran ke dalam Jama’ah dengan tidak memilih bulu
4) Program memimpin halawah, perhimpunan, tamrin dan lain-lain
5) Program memimpin usrah dan lain-lain tindakan yang diperlukan oleh Jama’ah

Tanfiz (kepimpinan)
Tarbiyyah diperingkat ini bermatlamat untuk melahirkan di kalangan anggota sifat-sifat seperti:
- Benar
- Amanah
- Menyampaikan
- Cerdik
- Lembut
- Berhati-hati
- Suka berkhidmat
- Pemurah
- Berani dan lain-lain
Cara-caranya:
- Beriltizam dengan Islam zahir dan batin
- Beriltizam dengan pendapat/keputusan majoriti syura berpandukan kaedah yang dipakai oleh Jama’ah
Penekanan kepada dua perkara di atas hendaklah berpandukan kepada undang-undang tertinggi di dalam harakah iaitu al-Quran, as-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qias.
Perlaksanaan
Untuk mencapai tujuan dan matlamat di atas, maka cara-cara berikut hendaklah digunakan:
1. Kuliah/usrah harian, mingguan dan bulanan. Pastikan semua anggota hadir
2. Usrah mingguan atau bulanan Mingguan – peringkat cawangan Bulanan – peringkat takwin / tanfiz
3. Tamrin – bulanan atau tiga bulan sekali Bulanan – peringkat cawangan Tiga bulan sekali – peringkat takwin/ tanfiz
4. Jenis-jenis Tamrin
a) Tamrin Haraki
b) Tamrin Siyyasi
c) Tamrin Thaqafi
d) Tamrin Riadhi

Tamrin Haraki bertujuan untuk:
1. Meyakinkan para anggota tentang harakah – ciri-ciri, matlamat dan cara
2. Penguasaan terhadap anggota dari segi harakah dan penguasaan terhadap masyarakat
3. Penguasaan terhadap harakah – yang merangkumi:
i) Usul dan kaedah yang merangkumi fikrah, keperluan-keperluan, sudut-sudut, sifat- sifat dan tabiat kerja
ii) Keselamatan yang merangkumi cara mengenal kawan dan lawan

Tamrin Siyyasi bertujuan untuk:
1. Memastikan para anggota memahami pergolakan politik negara, antarabangsa – khasnya rantau Asia Tenggara, seterusnya politik Islam dan pendekatan terhadap masalah
2. Memastikan para anggota dapat membuat pengolahan terhadap isu-isu semasa
3. Memastikan para anggota dapat bertindak dengan cekap dalam menghadapi setiap isu

Tamrin Thaqafi bertujuan untuk:
1. Memastikan supaya para anggota memahami dengan baik perkara yang berkaitan dengan Islam
2. Memastikan bahawa para anggota memiliki keperluan asas dari segi ilmu pengetahuan demi untuk menlayakkan mereka meneruskan perjuangan pada masa akan datang

Tamrin Riadhi
Bertujuan untuk memastikan bahawa para anggota sihat tubuh badanm pantas bergerak dan mampu untuk mempertahankan diri ketika perlu.
Pengendalian
Pengendalian tamrin ada hubung kait yang rapat dengan jenis-jenis tamrin dan matlamatnya. Di samping itu, ia pula berkaitan dengan tempat, tajuk, penceramah, keselamatan dan pengurusan. Walau bagaimanapun tertakluk kepada matlamat dan masa, maka kadang kala dapat diadakan sekaligus dengan cara mengatur program tamrin itu merangkumi matlamat-matlamat yang kita utarakan di atas.
Secara umumnya matlamat terakhir bagi marhalah ini ialah melahirkan individu muslim, keluarga dan masyarakat Islam.

Marhalah at-Tanfiz – Perlaksanaan
Marhalah ini mempunyai tiga makna:
1. Makna yang umum
Tanfiz dengan makna yang umum merangkumi segala usaha dan tenaga yang dicurahkan keluar dari diri sendiri demi untuk kepentingan dakwah Islamiyyah/gerakan Islam. Justeru itu, sebarang usaha yang dilakukan oleh seseorang anggota untuk memperkenalkan Islam dinamakan ‘Tanfiz’. Usaha yang dilakukan oleh seseorang anggota untuk pembentukan ke arah prinsip-prinsip Islam dan supaya berakhlak dengan akhlak Jama’ah juga merupakan sebahagian daripada marhalah tanfiz.
2. Makna yang khusus
Tanfiz dengan makna yang khusus ialah pergerakan harian yang berbentuk jihad yang dilakukan oleh anggota demi untuk melahirkan kejayaan di dalam mahalah-marhalah yang tertentu. Oleh kerana itu, marhalah ta’rif, takwim dan tanfiz dapat berjalan beriringan.
3. Makna yang lebih khusus
Tanfiz dengan makna lebih khusus ialah yang berbentuk jihad yang tidak pernah mengenal penat dan lelah setiap hari, yang mengorbankan masa, tenaga, wang ringgit dan segala yang ada untuk menjayakan cita-cita yang lengkap dan syumul. Ia merangkumi jihad harian dan persiapan untuk menegakkan sebuah negara Islam.
Sudah menjadi sunnah Allah bahawa kerja yang dilakukan di dalam semua peringkat tersebut akan bermuwajahah. Ini adalah disebabkan bahawa kerja-kerja ini akan melahirkan anggota masyarakat yang beramal dengan tuntutan Islam yang sama sekali berbeza dengan amalann anggota masyarakat yang sedia ada. Walaupun mereka menentang, tetapi ia terus berkembang. Bagaimanapun sabarnya orang-orang Islam terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam, namun demikian mereka tidak tahan sabar melihat perkembangan Islam. Di sanalah akan berlaku muwajahah.
Para pejuang Islam haruslah mengingati dan memahami bahawa perjuangan ini adalah bermuwajahah. Golongan berkuasa (pemerintah) apabila disebut pemerintah sudah pasti ia memiliki bermacam-macam kekuatan. Untuk berhadapan dengan golongan ini kita hendaklah memiliki sifat-sifat antara lain seperti berikut:
a) Tetap dan tabah
b) Berzikir kepada Allah
c) Taatkan Allah dan RasulNya
d) Tidak bertelagah sesama sendiri
e) Bersabar sehingga persiapan telah cukup dan mampu untuk bermuwajahah

Neraca Kemampuan
Berbeza pendapat di kalangan ulama’ Islam tentang neraca kemampuan. Setengah ulama’ berpendapat paabila sampai bilangan ke angka mujahid Badar. Setengah pul berpendapat – bilangan yang selari denga firman Allah, maksudnya:
“Jika terdapat dua puluh orang yang sabar di kalangan kamu, nescaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh”. (al-Anfal:65)
Kita berpendapat apabila bilangan anggota yang layak berjihad berjumlah seperti yang tersebut di dalam firman Allah, maksudnya:
“Jika ada di antara kamu seratus orang yang sabar, nescaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), nescaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah”. (al-Anfal: 66)

Monday, June 04, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Saturday, June 02, 2007

Thinking out of the box


be creative thinking....out of the box

Saturday, June 02, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Wednesday, May 30, 2007

BAHAYA AIDS HARAKI DALAM HARAKAH ISLAMIAH : SUATU PERINGATAN DARI USTAZ FATHI YAKAN



Muqaddimah
Seorang Mujahid Dakwah, Ustaz Fathi Yakan, yang pernah berkunjung ke Negara kita, dalam rangka menghadiri Muktamar Agung PAS tahun 1997, telah memperingatkan kita semua tentang bahaya AIDS Haraki, iaitu istilah yang menggambarkan fenomena yang telah dan sedang terjadi di sebahagian harakah Islamiah di seluruh dunia.
Ini adalah peringatan penting beliau kepada para aktivis dakwah, sejak enam belas tahun yang lalu di dalam buku beliau : Ihzaruu AIDS Al-Haraki (Berjaga-jagalah, AIDS Haraki). Wa Zakkir !! Fa inna az-Zikra tanfa`ul mu’minin.
Penyakit AIDS adalah merujuk keadaan seseorang yang mengalami kehilangan daya tahan penyakit di dalam tubuh, sehingga menjadi mudah dijangkiti penyakit dengan keadaan yang parah. Sehingga kini, penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ini, masih belum ditemui ubat yang dapat menyembuhkan penyakit merbahaya ini. Para penghidap HIV/AIDS ini akan berhadapan dengan risiko kematian.
Dalam buku “Ihdzaruu Al-Aids Al-Harakiy (1989)”, Al-Ustaz Fathi Yakan secara khusus mengingatkan kes kehancuran harakah dan tanzim dakwah di Lubnan. Hal yang sama juga berlaku di beberapa Negara Muslim yang terdapat harakah Islamiah di situ. Beliau berpendapat, kes-kes kehancuran tanzim dakwah bermula dari kelemahan daya tahan dalaman jama`ah, yang seringkali terjadi di saat mereka berada di atas paksi Mihwar Siyasi (Orbit Politik).
Hal ini sering terjadi ketika harakah Islamiah memasuki wilayah amal siyasi (kerja politik) untuk menyempurnakan wilayah `amal dakwah dan meningkatkan sasaran dakwah yang lainnya.
Mengapa terjadi seperti ini? Apakah penglibatan harakah Islamiah dalam wilayah politik adalah suatu kekeliruan dan kesilapan? Tentu saja tidak !! Bahkan ini adalah suatu kewajipan kita semua.
Konsep Syumuliatul Islam yang diperkenalkan Imam As-Syahid Hasan al-Banna di dalam usul pertama dari Usul `Isyrin, telah memberikan gambaran pentingnya kita bergerak di paksi politik demi tertegaknya Ad-Din wa Ad-Daulah. Sesungguhnya saat ini, Syumuliayatud Dakwah menuntut kita memasuki dan menguasai wilayah politik.

Mengenal Virus Merbahaya
Persoalan yang timbul ialah bagaimana virus ini boleh berjangkit dan menjadi penyebab kehancuran kepada harakah? Dalam analisa dan tajribah Ustaz Fathi Yakan, terdapat 7 faktor utama yang menyebabkan hal ini terjadi :
1. Hilangnya Manna`ah I`tiqodiyah (imuniti keyakinan) dan tidak terbinanya bangunan dakwah di atas dasar fikrah dan mabda’ yang benar dan jitu. Akibat yang timbul dari faktor ini, tanzim dakwah tidak tertegak di atas fikrah yang benar dan utuh.
Adakalanya sebuah tanzim hanya wujud sebagai Tanzim Ziyami, iaitu tanzim yang berdiri atas landasan wala’ kepada seorang pemimpin yang diagungkan. Ada juga yang bergerak sebagai Tanzim Syakhshi, iaitu tanzim yang tertegak atas bayangan keperibadian (figure) seorang pemimpin. Terdapat juga yang berbentuk Tanzim Mashlahi Naf`i yang berorientasi mewujudkan tujuan perlaksanaan pengisian semata-mata.
Kerana itu, binaan tanzim menjadi begitu rapuh, tidak mampu menghadapi kesulitan dan cabaran. Akhirnya bergoncanglah binaan dan bercerai-berai shofnya sehingga terjadilah berbagai peristiwa dan tragedi.
2. Perkaderan dan pembinaan anggota berdasarkan kuantiti, dengan mengutamakan bilangan dan jumlah keahlian menjadi keutamaan qiyadah. Seringkali dianggap, bahawa jumlah yang banyak itu akan menjadi penentu kemenangan dan kejayaan. Kondisi ini mungkin ada kebenarannya ketika sebuah harakah dakwah tampil secara rasmi sebagai parti politik dan terlibat dalam pilihanraya.
Akan tetapi hal ini perlu diawasi kerana, orientasi ini akan memudahkan pihak-pihak tertentu cuba mewujudkan qaidah sya’biyah atau dasar dokongan sosial untuk kepentingan merealisasikan tujuan-tujuannya.
Dalam situasi tertentu akan muncul keperibadian atau tokoh-tokoh tertentu dalam harakah yang memperjuangkan kepentingan peribadi dengan memanfaatkan qaidah sya’biyah yang dibinanya. Pada saat ini, qa`idah sya’biyah ini akan bertindak sebagai musuh dalaman kepada harakah Islamiah.
3. Isti’jal (tergesa-gesa) untuk meraih kemenangan, meskipun tidak seimbang dengan persediaan yang mencukupi, walaupun ditahap minimum. Kemenangan politik bererti memperolehi kekuasaan. Setiap aktivis politik akan dikuasai semangat mencari dan mengejar kekuasaan sehingga tidak ada penghujungnya.
Menurut Ustaz Fathi Yakan, kekuasaan yang diperolehi di manapun akan menuntut pembahagian ghanimah (harta rampasan perang) kepada penjaga sesuai dengan perbandingan tugasan yang ditanggung seseorang. Ghanimah yang telah diperoleh itu kadangkala melahirkan cubaan, fitnah dan bencana kerosakan dalam harakah.
Permasalahan dasarnya adalah penipuan dalam pembahagian, antara perseorangan, pemimpin serta penguasa yang bercita-cita mendapatkan bahagian kekuasaan yang banyak. Akhirnya prinsip perjuangan tergadai dan agenda maddiyah dengan mengejar kepentingan hawa nafsu akan menjadi tuntutan perjuangan mereka.
Ketika ini hilanglah roh aqidah dalam perjuangan, tumpuan hanya diberikan kepada percaturan strategi menghadapi musuh dalam pilihanraya dengan meninggalkan agenda pembinaan ruhiyah di kalangan jundiyah dan qiyadah. Akhirnya “yang dikejar tak dapat, yang dikendong keciciran ”.
4. Binaan tanzim dipengaruhi unsur luaran. Samada dipengaruhi oleh latarbelakang kekuatan yang berada di sekelilingnya dari aspek politik, ekonomi dan lain-lain aspek. Akibatnya, tanzim akan kehilangan potensi keaslian perjuangan, kehilangan orientasi dan arah tujuan politik. Kerana hilangnya asholah dakwah (keaslian), tanzim menjadi alat kepentingan pihak lain, dan segala keputusan dan tindakan dipengaruhi kelompok tertentu.
5. Munculnya berbagai aliran dan kelompok dalam harakah. Hal ini sering terjadi kepada harakah yang telah mengalami perpecahan lantaran hilangnya wahdatul fikr dan wahdatul `amal. Kesan dari permasalahan ini akan timbulnya ta`addudul wala’, justeru akan timbul pertikaian, perebutan pengaruh dan kekuasaan untuk meraih hasrat dan cita-cita peribadi atau kelompok tertentu.
6. Campur tangan pihak luar dengan pengaruh dominan politik, ideologi, perisikan, inteligen dengan berbagai cara penyamaran untuk menyerang musuh dalam harakah dengan tujuan menghancurkan kekuatan dan kesatuan di dalam tanzim. Ruang yang terbuka untuk campur tangan atau penyusupan amat luas, terutama melalui ruang politik, iaitu dengan menawarkan pelbagai maslahah siasah.
Kekuatan luaran dan campur tangan ke dalam tanzim harakah berlaku ketika jamaah mengalami kelemahan, miskinnya roh `aqidah di kalangan jundiyah dan qiyadah, kuatnya kecenderungan mengejar maddiyyah dan jawatan.
7. Lemah atau hilangnya kesedaran politik (wa’yu siyasi) dalam harakah. Sesebuah harakah yang tidak memiliki wa’yu siyasi yang tinggi dan baik, tidak akan dapat mengimbangi peredaran zaman, gagal mengambil istifadah dan pengajaran dari pengalaman lepas, tidak mengkaji peranan harakah di masa depan dan tidak mampu membuat suatu keputusan politik setempat berdasarkan situasi dan kondisi politik internasional.
Apabila harakah mengalami kelemahan seperti ini, akan berlaku sikap yang kontradiktif dan mudah terbawa arus. Keadaan ini memudah unsur-unsur negatif dari luar mengawal keputusan politik dalam harakah dan mengenepikan peranan majlis syura dalam jamaah.
Semua faktor kondisi yang dinyatakan oleh Ustaz Fathi Yakan adalah berkesimpulan dari masalah mendasar harakah Islamiah masa kini, iaitu “politik mendominasi tarbiah”. Keadaan ini menyebabkan suasana atau munakh harakah dikuasai oleh politik, bahkan sangat mempengaruhi pendirian dan sikap para anggota dan pimpinan harakah.

Kewajipan Memelihara Asholatud Dakwah (Keaslian Dakwah).
Permasalahan dan penyakit yang berlaku di dalam harakah dakwah, hanya dapat dikawal dan diubati dengan memelihara keaslian dakwah yang kita warisi dari Baginda Rasulullah SAW.
Syeikh Mustafa Masyhur Rahimahullah, dalam sebuah tulisannya, Qadhaya Asasiyyah `Ala Thoriqud Dakwah, menekankan betapa pentingnya Muhafazhah `Ala al-Asholah (memelihara keaslian dakwah), agar harakah terjamin berada di jalan yang benar menuju sasaran.
Sekecil-kecil penyelewengan dari asholah dakwah, pasti akan melahirkan kegelinciran yang semakin hari semakin besar, serta menyeret harakah jauh dari jalan yang benar dan gagal mencapai sasaran harakah. Imam Asy-Syahid Hasan al-Banna selalu menekankan agar jamaah beriltizam dengan Islam, Al-Quran dan As-Sunnah serta melangkah ke medan dakwah berpandukan Sirah Rasulullah SAW ketika beliau menegakkan Daulah Islamiah pertama. (Mustafa Masyhur, Qadhaya Asasiyyah `Ala Thoriqud Dakwah).
Memelihara Asholah Dakwah bererti meletakkan kepentingan kepada tarbiyah. Kerana itu, tarbiyah dalam jemaah tidak boleh dikesampingkan atau diabaikan demi memenuhi tuntutan kegiatan politik, publisiti bahkan jihad sekalipun. Perencanaan takhtit dan tanzim semata-mata tidak mencukupi tanpa tarbiyah untuk membina izzah harakah di mata musuh Islam.
Usrah merupakan tulang belakang tarbiyah dalam jamaah, yang berperanan sebagai wasilah yang mendidik ahli dan membentuk rijal. Semua anggota di manapun peringkat jamaah, samada ahli hinggalah pimpinan tertinggi wajib mengikuti peringkat-peringkat tarbiyah sehingga sampai ajalnya.

Kesimpulan
Ternyata, kewajipan itu lebih banyak dari batas waktu yang kita miliki. Kerana itu, dakwah kita tidak dibina atas dasar rukhshah (keringanan), tetapi dibangun atas dasar `azhimah dan tekad yang teguh. Jika hal ini diperhatikan dengan sewajarnya, dari peringkat ahli sehinggalah pimpinan jamaah, segala permasalahan yang sering melanda harakah dan dakwah, nescaya virus bahaya yang menular dalam tanzim binaan jamaah dapat diatasi.
Semoga kita mengambil pelajaran dan manfaat dari taushiyah yang disampaikan sejak enam belas tahun silam oleh seorang da`ie yang menjadi qudwah kepada kita, demi kebaikan dan kejayaan harakah dakwah di Negara kita.
Kepada para Pejuang yang merindukan kejayaan…..
Kepada Rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan Kepada Pewaris peradaban yang telah menggoreskan
Sebuah catatan membanggakan di lembar sejarah manusia Wahai kalian yang rindu kemenangan…..
Wahai kalian yang turun ke medan Demi mempersembahkan jiwa dan raga Untuk Islam tercinta…
makluman : Artikel ini pernah diterbitkan dalam Blog Ustaz Nasrudin Tantawi tanggal 17 Mac 2006.

Wednesday, May 30, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Monday, May 14, 2007

Mesyuarat Agung Yayasan Amal Cawangan Terengganu


Mesyuarat Agung Yayasan Amal Cawangan Terengganu pada 2hb Mei 2007

KUALA TERENGGANU, 2 Mei 2007. Mesyuarat Agung AMAL Terengganu berjalan dengan penuh harmoni dan muhibbah.
Seramai 50 perwakilan telah hadir untuk bermuktamar. Pada tahun ini sesi pemilihan jawatan kuasa baru berlangsung. Jawatan kuasa peringkat Cawangan Terengganu sesi 2007/09.
Posted by Picasa

Monday, May 14, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Yayasan Amal Malaysia terima sumbangan van 'Klinik Bergerak'


Yayasan Amal Malaysia terima sumbangan van 'Klinik Bergerak' 13-03-2007 12:58:34 AM

KLANG, 12 Mac (Hrkh) - Yayasan Amal Malaysia (Amal) melakarkan satu lagi sejarah apabila menerima sumbangan sebuah van 'Klinik Bergerak' daripada sebuah badan korporat, Pantai Baharu Holdings baru-baru ini untuk digunakan bagi merawat dan memeriksa kesihatan masyarakat setempat.
Satu majlis pelancaran Klinik Bergerak Amal telah diadakan semalam di Flat Seri Perantau, Klang yang telah disempurnakan oleh Timbalan Pengarah Kesihatan Awam Selangor, Dr Rahimah Mohd Ariffin bersama Penasihat Amal, Tan Sri Khalid Ibrahim.
Turut hadir dan memeriahkan lagi majlis tersebut ialah Pengerusi Amal, Haji Hussin Ismail; Timbalan Amal, Jamulidin Elias;Ketua Biro Perubatan dan Kesihatan Amal, Dr Halimah Ali Abdullah, Pengerusi Penduduk Flat Seri Rantau dan kehadiran orang ramai khususnya penduduk flat tersebut yang amat membanggakan.
Dr Rahimah dalam ucapannya amat menghargai kerjasama yang dilakukan oleh Amal selama ini yang banyak membantu pihak Kementerian Kesihatan dalam membantu sepenuhnya dari sudut memantau, mencegah dan merawat penduduk-penduduk Selangor khususnya rakyat yang tidak berkemampuan.
Dengan adanya 'klinik bergerak' ini, katanya dapatlah perkhidmatan kesihatan sampai terus kepada masyarakat dan bagi rakyat miskin tidak lagi perlu bersusah payah untuk ke klinik apatah lagi yang jauh lokasinya.
Posted by Picasa

Monday, May 14, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Perasmian Dapur Sihat Masyarakat


Majlis perasmian Dapur Sihat Masyarakat Daerah Setiu telah berjalan pada 13hb Mei 2007. Sambutan amat menggalakkan.

Kira-kira 1.8 juta atau lapan peratus daripada 26 juta rakyat negara ini menghidap kencing manis atau diabetis, satu angka yang amat membimbangkan Kementerian Kesihatan. Sehubungan itu, Kementerian Kesihatan memperhebatkan kempen gaya hidup sihat termasuk pemakanan yang betul dan berkhasiat menerusi Dapur Sihat Masyarakat yang dilancarkan kementerian sejak 2004.
Dapur Sihat Masyarakat yang dilancarkan di seluruh negara bertujuan meningkatkan promosi pemakanan di klinik kesihatan terpilih. Dapur Sihat Masyarakat bertanggungjawab mempromosikan penyediaan makanan, perancangan menu, pengubahsuaian resepi, kebersihan dan keselamatan makanan serta pengurusan dapur.
Selain diabetis, Dapur Sihat Masyarakat juga memberi fokus kepada kanak-kanak yang kekurangan zat makanan, tekanan darah rendah dan tinggi, serta ibu hamil yang mengalami anemia.

Ucapan dari Wakil Pegawai Kesihatan Daerah memang jelas dan nyata seperti berikut

Teks ucapan wakil pegawai kesihatan daerah:

Assalamualaikum, terima kasih pengacara majlis.

Yang dihormati YB Tuan Haji Ashaari b. Dan Isteri, ketua-ketua pejabat, penghulu, ketua kampung, ahli jawatan kuasa kerja kampung (JKKK), wakil-wakil pejabat, tuan-tuan dan puan-puan yang saya hormati sekalian.

Alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah s.w.t. kerana pada hari ini kita dapat semuanya berkumpul dalam majlis yang kita rancangkan pada hari ini.

Tuan-tuan dan puan-puan hadirin yang dihormati sekalian,

Kesihatan komuniti biasanya bermula di rumah. Dapur adalah asas yang paling penting untuk mempromosi dan mengamalkan kehidupan yang sihat, selamat dan mesra alam. Projek Dapur Sihat Masyarakat (DSM) adalah bertujuan untuk mempertingkatkan perlaksanaan dan kebekersanan aktiviti promosi pemakanan secara sihat dengan meluas kepada masyarakat.Konsep Dapur Sihat Masyarakat adalah sebagai satu kemudahan untuk mempromosi dan memberi latihan melalui penglibatan masyarakat secara bersepadu. Ini berlandaskan perkongsian bijak antara masyarakat, NGOs, swasta dan kerajaan.

DSM Setiu mula beroperasi pada Januari 2006 dan pada hari ini majlis pelancaran secara rasmi akan dilakukan oleh YB. ADUN Langkap sempena Bulan Pemakanan Peringkat Negeri Terengganu. Pejabat Kesihatan Daerah Setiu juga mengadakan Kem Kesihatan dengan menjadikan Klinik Kesihatan Rahmat sebagai tuan rumah bagi melakukan pemeriksaan kesihatan untuk meningkatkan lagi tahap kesedaran masyarakat tentang kepentingan pengamalan pemakanan secara sihat dan penjagaan kesihatan secara optima.


Objektif majlis ini adalah:

1. Mengadakan satu kempen secara menyeluruh melalui Hari Terbuka dan Perasmian Dapur Sihat Masyarakat Daerah Setiu kepada masyarakat untuk meningkatkan tahap pemakanan secara sihat dan penjagaan kesihatan secara optima.
2. Menghebahkan kepada masyarakat mengenai peranan DSM Untuk meningkatkan kesedaran dan melibatkan komuniti secara menyeluruh.

3. Untuk meningkatkan kerjasama dikalangan masyarakat dan sektor lain dalam aktiviti pendidikan pemakanan dan kesihatan.

4. Mewujudkan dan meningkatkan lagi hubungan dua hala di antara anggota kesihatan dan masyarakat setempat dalam usaha mempertingkatkan promosi pemakanan secara sihat.

Tuan-tuan dan puan-puan hadirin yang dihormati sekalian,

Banyak perkara yang boleh kita pelajari daripada Program DSM ini, kita boleh pelajari dan amalkan sekali bagaimana pemakanan boleh mencegah dan mengawal penyakit contohnya Diabetes. Dengan mengetahui keperluan sukatan makanan, jenis makanan, kandungan gula, cara masakan, kandungan minyak dan lemak. Ini akan membantu diri anda dan keluarga menjadikan anda seorang yang sihat dan mengurangkan kesan komplikasi penyakit yang dihidapi. Anda juga boleh mempelajari keselamatan semasa berada di dapur. Contohnya jika anda terkena api, biarkan bahagian yang terkena api itu selama 10-15 minit di bawah air sejuk yang sedang mengalir, jangan sesekali menyapukan minyak atau mentega di atas bahagian yang terkena api. Ini akan memerangkap haba di dalam kulit dan menjadikannya lebih teruk, lepas itu bawalah ke klinik atau hospital untuk tindakan seterusnya.

Pengetahuan semasa pengendalian di dapur juga perlu ada terutamanya penggunaan alatan yang semakin moden contohnya penggunaan perkakas elektrik. Jangan sesekali kendalikan alatan tersebut semasa tangan anda basah kerana ia boleh menyebabkan kejutan elektrik berlaku.

Panduan memasak makanan seperti daging mentah dan daging ayam perlulah dimasak sehingga mencapai suhu sekurang-kurangnya 70 - 80 darjah celsius biasanya untuk memberi perlindungan dari penyakit bawaan makanan.

Dalam DSM juga ditekankan tentang penggunaan peti sejuk, suhu yang disyorkan adalah pada 4 darjah celsius atau kurang, ini penting kerana ia akan melambatkan pembiakan kebanyakan bakteria. Oleh itu lebih kurang bakteria yang ada, lebih kuranglah peluang anda jatuh sakit akibatnya.

Amalan kebersihan diri, keluarga, rumah, halaman dan dapur juga diberi penekanan. Kebersihan adalah asas keimanan. Ia bukan sahaja membersihan jiwa tetapi ia juga akan menjauhkan diri daripada penyakit. Oleh itu amalan basuh tangan hendaklah selalu diamalkan sebelum makan dan selepas keluar daripada tandas.

Apabila anda membeli belah, amalkan membeli makanan yang segar seperti ulam-ulaman, sayur-sayuran dan buah-buahan. Amalkan setiap hari di dalam hidangan anda kerana makanan ini mengandung khasiat yang tinggi seperti vitamin dan pelbagai jenis mineral yang akan membantu menjaga kesihatan diri anda.

Jangan campurkan makanan yang telah dimasak dengan makanan yang mentah kerana ini akan menyebabkan kejadian keracunan makanan boleh terjadi. Ini termasuk di dalam peti sejuk, semasa makan atau semasa membeli belah.




Tuan-tuan dan puan-puan hadirin yang dihormati sekalian,

Dengan usaha ini, mudah-mudahan keupayaan dan kemahiran suri rumah tangga dalam pengendalian makanan dan menguruskan dapur di rumah akan dapat dipertingkatkan termasuk khasiat dan keselamatan hidangan makanan keluarga di rumah akan lebih terjamin dan tahap kebersihan serta keselamatan persekitaran dalam dan luar dapur serta peralatan dan perkakas dapur akan dapat diperbaiki. Suri rumah tangga juga akan lebih mudah mendapatkan lebih sokongan dari ahli keluarga, jiran tetangga dan masyarakat tempatan.

Seterusnya diharap projek dapur sihat ini boleh dibangunkan sebagai pusat penyediaan makanan tambahan untuk ibu mengandung, kanak-kanak dan murid-murid sekolah. Ia juga boleh diperkembangkan untuk penyediaan makanan untuk golongan-golongan khusus seperti warga emas, pesakit-pesakit diabetes dan kardiovaskular, dan mereka yang daif dan kurang upaya.

Akhir sekali, Dapur Sihatt Masyarakat ini boleh dibangunkan untuk menjadi pusat sumber untuk rujukan dan penyelidikan serta pertunjukan contoh dapur sihat yang sempurna, lengkap, selamat, selesa dan mesra alam. Ini akan membolehkan proses pembelajaran secara lebih menarik, efektif dan berkesan serta bersesuaian dengan kehendak dan hasrat suri rumah tangga, ahli-ahli keluarga, jiran dan masyarakat setempat.

Sekian w.t.w.s.m.
Posted by Picasa

Monday, May 14, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Thursday, May 10, 2007

Mukmin dan kurma



oleh Kholid bin Syamhudi Al Bantaniy



قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ


Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?" Lalu orang meneka yang ia pokoko di wadhi. Berkata Abdullah: "Lalu terdetik di dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya". Kemudian mereka berkata: "Wahai Rasululloh beritahulah kami pohon apa itu?" Lalu baginda menjawab: Iia adalah pohon kurma".


Takhrij



Hadits ini diriwayatkan oleh imam al-Bukhori di dalam shohihnya kitab Al Ilmu, bab Qaulul Muhadits Hadatsanaa no. 61 (1/145-Fathul Bariy) dan Muslim dalam shohihnya kitab Sifatul Munafiqin bab Mitslul mukmin matsalun Nakhlah no. 7029 (17/151- Syarah Nawawiy)


Syarah Mufradat Hadits.


1. إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ :


terdapat persamaan dan penyerupaan seorang muslim dengan pohon yang tidak gugur daunnya, iaitu pohon kurma


2. فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي :


akal fikiran mereka menerawang kepada pepohonan di wadhi. Setiap orang menafsirkannya dengan salah satu jenis pepohonan tersebut, namun lupa dengan pohon kurma[ 1]


3.الْبَوَادِي : b


entuk jamak dari Badiyah yang bermakna dataran luas yang ada padanya tumbuhan dan air.[ 2]


4. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ :


Abdullah ini adalah Abdullah bin Umar, sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasululloh.


5. فَاسْتَحْيَيْتُ :


sebab malu beliau, kerana beliau paling kecil daripada para sahabat yang hadir waktu itu, sebagaimana dijelaskan di dalam riwayat al-Bukhoriy di kitab Al Ath'imah: "Aku adalah orang kesepuluh dan aku yang paling kecil".


6. هِيَ النَّخْلَةُ :


pohon kurma. Tentulah pohon ini memiliki keistimewaan sehingga dijadikan sebagai permisalan bagi seorang muslim. Tidak hanya ini saja bahkan Allah memberikan permisalahan kalimat thoyibah dengan pohon ini dalam firmannya:




أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ


Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)




Ibnu Hajar berkata: "Imam al-Bukhori telah membawakan hadits ini juga dalam tafsir firman Allah:


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَة


Sebagai isyarat dari beliau bahawa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Memang telah ada riwayat yang tegas dari hadits yang dikeluarkan oleh Al Bazaar dari jalan periwayatan Musa bin 'Uqbah dari Naafi' dari Ibnu Umar, beliau menyatakan bahwa Rasululloh n membaca ayat ini dan bersabda: "Apakah kalian tahu pohon apakah itu?" Ibnu Umar menyatakan: "jelas itu adalah pohon kurma, namun usiaku yang kecil menahanku untuk berbicara". Lalu Rasululloh berkata: "ia adalah pohon Kurma".[ 3]


Dengan demikian, Pohon yang baik disini ditafsirkan dengan pohon kurma dan ini adalah pendapat banyak ulama salaf, di antaranya: Ibnu Abbas, Mujahid, Masruq, Ikrimah, Ad Dhohaak, Qatadah dan Ibnu Zaid.[ 4] Pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibbaan daripada jalan periwayatan Abdul Aziz bin Muslim dari Abdullah bin Dinaar dari ibnu Umar bahawa Rasulullah bersabda:


مَنْ يُخْبِرُنِيْ عَنْ شَجَرَةٍ مِثْلُهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِيْ السَّمَاءِ


"Siapakah yang dapat menyebutkan kepadaku satu pohon yang menyerupai seorang mukmin, pokok batangnya kukuh dan cabangnya menjulang kelangit?".[ 5]


Semua ini menunjukkan pohon kurma memiliki keutamaan, ketinggian dan keistimewaan. Semua ini telah ditunjukkan dalam ayat diatas. Namun cukuplah dengan dijadikan sebagai permisalahan seorang muslim menunjukkan ketinggian dan keistimewaannya.


Syarah Hadits.


Nabi di dalam hadits ini memberikan permisalan dan menyerupakan seorang muslim dengan pohon kurma. Tentunya hal ini menunjukkan adanya sisi kesamaan antara keduanya. Memang untuk mengenali dan mengetahui sisi kesamaan ini perlu mendapat perhatian yang cukup, apalagi Allah telah menjelaskan hal ini agar manusia selalu ingat kepadaNya, sebagaimana firmanNya:


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ


Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)




Diantara sisi kesamaan muslim dengan pohon kurma adalah:[ 6] :




[if !supportLists]-->1. Pohon kurma mesti memiliki akar, pangkal batang, cabang, daun dan buah, demikian juga pohon keimanan, memiliki pokok, cabang dan buah. Pokok imam adalah rukun iman yang enam dan cabangnya adalah amalan sholeh dan aneka ragam ketaatan dan ibadah. Sedangkan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang didapatkan seorang mukmin didunia dan akhirat.




Imam Ahmad berkata: "perumpamaan iman seperti pohon kerana pokoknya adalah syahadatain, batang dan daunnya demikian juga. Sedangkan buahnya adalah sikap wara' (hati-hati). Tidak ada kebaikan pada pohon yang tidak berbuah dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya sifat wara'".[ 7]




Imam Al Baghawiy menyatakan: "Himah daripada penyerupaan iman dengan pohon adalah pepohonan tidak dikatakan sebagai pohon (yang baik) kecuali memiliki tiga hal. Memiliki akar yang kuat, batang yang kukuh dan cabang yang tinggi. Demikian juga iman, tidak sempurna iman kecuali dengan tiga hal, iaitu pembenaran hati, ucapan lisan dan amalan anggota tubuh".[ 8] Demikian juga Ibnul Qayyim mengomentari hal ini di dalam pernyataan beliau: "Ikhlas dan Tauhid adalah satu pohon di hati, cabangnya adalah amalan dan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan nikmat yang abadi di akhirat. Sebagaimana buah-buahan syurga tidak terputus dan tidak terhalang daripada mengambilnya, maka buah tauhid dan ikhlas di duniapun sedemikian. Adapun kesyirikan, dusta dan riya' adalah satu pohon di hati, buahnya di dunia perasaan takut, sedih, duka, kesempitan dan kegelapan hati dan buahnya di akhirat buah zaqqum dan adzab yang abadi. Kedua pohon ini telah dijelaskan Allah dalam


Ibrohim".[ 9]

  1. Pohon kurma tidak akan bertahan hidup kecuali dengan disiram dan dipelihara. Disiram dengan air, jika tidak maka akan kering dan jika ditebang maka mati. Demikian juga seorang mukmin tidak dapat hidup yang hakiki dan istiqomah kecuali dengan siraman wahyu. Oleh kerana itulah Allah menamakan wahyu dengan ruh dalam firmanNya:


وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ


Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh/ wahyu (al-Qur'an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. 42:52) dan firmanNya:




يُنَزِّلُ الْمَلاَئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلآأَنَا فَاتَّقُونِ


Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu:"Peringatkanlah olehmu sekalian,bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa kepada-Ku". (QS. 16:2), kerana kehidupan hakiki bagi hati tidak wujud tanpa wahyu. Sehingga tanpa wahyu manusia dikatakan mayat walaupun bergerak di antara manusia. Allah berfirman:




أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَالَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَاكاَنُوا يَعْمَلُونَ


Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gelita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. 6:122).


Di sini jelas sekali sisi persamaannya. Pohon kurma hanya hidup dengan disiram air dan hati seorang mukmin hanya hidup dengan siraman wahyu.



  1. Pohon kurma sangat kukuh, sebagaimana firmanNya:


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ


Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)




Demikian juga iman jika telah mengakar didalam hati, maka menjadi sangat kukuh dan tidak goyah sedikitpun, seperti kukuhnya gunung yang besar menjulang.




Imam Al 'Auzaa'iy ditanya tentang iman, apakah bertambah? Beliau menjawab: "Ya, sehingga membesar seperti gunung". Ditanya lagi, apakah berkurang? Beliau menjawab: "Ya, sehingga tidak bersisa sedikitpun".[ 10] Demikian juga imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang hal yang serupa dan menjawab: "Bertambah sehingga mencapai lebih tinggi daripada langit yang tujuh dan berkurang sehingga menjadi paling rendah daripada bumi yang ketujuh".[ 11]



  1. Pohon kurma tidak dapat tumbuh di sebarangan tanah, bahkan hanya tumbuh di tanah tertentu yang subur sahaja. Pohon kurma di sebahagian tempat tidak tumbuh sama sekali, disebahagian lainnya tumbuh namun tak berbuah dan disebahagian lain tumbuh berbuah tapi sedikit buahnya. Sehingga tidak semua tanah sesuai untuk pohon kurma. Demikian juga iman, ia tidak kukuh pada semua hati. Ia hanya akan kukuh pada hati orang yang Allah berikan hidayah dan berlapang dada menerimanya. Sehingga tepatlah bila Rasulullah bersabda:


مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ


Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bum. Ada diantara tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang banyak. Ada juga ajaadib, menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia. Mereka minum, mengambil dan bercucuk tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain yaitu Qii'aan yang tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rumputan. Demikian itulah permisalan orang yang berilmu (faqih) di dalam agama dan mengambil manfaat darinya.DiIa mengetahui dan mengajarkannya dan permisalan orang yang tidak menganggapnya sama sekali dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.[ 12]



  1. Pohon kurma tidak dapat bercampur dengan tumbuhan pengganggu dan tumbuhan asing yang bukan jenisnya. Mereka ini dapat mengganggu dan melemahkan pertumbuhannya serta mengganggunya di dalam menyerap air. Oleh kerana itu diperlukan perawatan khusus dan selektif daripada pemiliknya. Demikian juga seorang mukmin, pasti menemui hal-hal yang dapat melemahkan iman dan keyakinannya. Juga pasti menemui perkara yang dapat mendesak iman daripada hatinya. Oleh kerana itu diperlukan bermuhasabah di dalam setiap waktu dan bersungguh-sungguh menjaganya. Juga berusaha selalu menghilangkan segala sesuatu yang mengotorinya, seperti was-was, mengikuti hawa nafsunya dan lain-lainnya. Allah berfirman:


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ


Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69).



  1. Pohon kurma memberikan hasilnya setiap waktu, sebagaimana firman Allah :


تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا


pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya. (QS. Ibrohim 24-25).




Buah pohon ini dimakan waktu siang dan malam, baik di musim dingin atau di musim panas. Dimakan di dalam bentuk kurma (tamar) atau busr atau Ruthab.[ 13] Demikian juga seorang mukmin, amalan mereka naik pada pagi dan malam hari. Rabi' bin Anas menyatakan: "Makna firman Nya: كُلَّ حِينٍ adalah setiap pagi dan malam hari kerana buah kurma selalu dapat dimakan di waktu malam dan siang, baik musim dingin atau panas, baik berupa kurma, busr atau ruthab, demikian juga amalan seorang mukmin naik pada pagi dan malam harinya"[ 14]


Ibnu Jarir Ath Thobariy menyatakan di dalam tafsir ayat ini: "Pendapat yang rajih menurutku adalah pendapat yang menyatakan, makna (كُلَّ حِينٍ ) di dalam ayat ini adalah pagi dan malam, setiap saat kerana Allah menjadikan hasil pohon ini setiap saat daripada buahnya untuk perumpamaan amalan dan perkataan seorang mukmin. Padahal sudah pasti amalan dan perkataan baik seorang mukmin diangkat kepada Allah setiap hari, bukan setiap setahun atau setengah tahun atau dua bulan sekali. Jika demikian, maka jelaslah kebenaran pendapat ini. Jika ada yang bertanya: "Pohon kurma mana yang menghasilkan buah setiap saat buah yang dimakan pada musim panas dan dingin? Jawabnya: adapun di musim dingin, maka Thol' (mayang kurma) adalah buahnya dan di musim panas, maka


, busr, Ruthob dan kurma adalah buahnya. Jadi semuanya adalah buahnya".

  1. Pohon kurma memiliki barakah di dalam semua bahagiannya. Semua bahagiannya dapat dimanfaatkan. Demikian juga seorang mukmin, sebagaimana sabda Rasulullah :


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ إِذَا أُتِيَ بِجُمَّارِ نَخْلَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي النَّخْلَةَ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ الْتَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ فَسَكَتُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ


Dari Abdillah bin umar beliau berkata: "Ketika kamu duduk-duduk disisi Rasulullah tiba-tiba diberikan jamaar (jantung kurma). Rasululloh lalu berkata: "Sesungguhnya terdapat satu pohon, barakahnya seperti barakah seorang muslim". Lalu aku merasakan itu adalah pohon kurma lalu ingin aku sampaikan kepada dia bahawa ia adalah pohon kurma, wahai Rasululloh. Kemudian aku melihat dan mendapati aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu aku diam. Rasulullah berkata: "Ia adalah pohon kurma"".[ 16]




Ibnu Hajar berkata: "Barakah pohon kurma ada pada semua bahagiannya, senantiasa ada di dalam setiap keadaannya. Daripada mulai tumbuh sehingga kering, dimakan semua jenis buahnya, kemudian setelah itu seluruh bahagian pohon ini dapat diambil manfaatnya sehingga bijinya digunakan sebagai makannan ternak. Demikian juga seabutnya dapat dijadikan sebagai tali serta yang lainnyapun demikian. Hal ini sudah jelas. Demikian juga barakah seorang muslim meliputi seluruh keadaannya. Juga manfaatnya terus menerus ada untuknya dan untuk orang lain sehingga setelah matinyapun".[ 17]



  1. Pohon kurma disifatkan Rasulullah لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا . Sisi persamaannya dengan muslim dijelaskan di dalam riwayat Al haarits bin Abi Usamah dari hadits Ibnu Umar dari periwayatan yang lainnya dengan lafadz:


كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ الشَجَرَةِ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ أَتَدْرُوْنَ مَا هِيَ قَالُوا لاَ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ وَ لَا تَسْقُطُ لَمُؤْمِنٍ دَعْوَةٌ


Kami berada bersama Rasulullah pada satu hari, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya permisalan seorang mukmin seperti permisalan pohon yang tidak gugur daunnya. Tahukah kalian pohon apa itu?" Mereka berkata: "tidak" Lalu beliau menjawab: "ia adalah pohon kurma tidak gugur daunnya dan seorang mukmin tidak gugur do'anya".[ 18]




Jadi jelaslah sisi persamaan di antara keduanya. Telah dimaklumi do'a telah disyariatkan dan dijanjikan akan dikabulkan sebagaiman firman Allah:


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,nescaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri daripada menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam di dalam keadaan hina dina". (QS. 40:60)




Akan tetapi do'a akan dikabulkan dengan kesempurnaan syarat dan tidak adanya penghalang. Kadang-kala tidak dikabulkan kerana tidak cukup sebahagian syaratnya atau kewujudann sebahagian penghalangnya. Adabnya yang paling penting adalah kehadiran hati, pengharapan terkabulnya do'a dan tekad/azam di dalam masalah tersebut.[ 19]




Ibnul Qayyim memberikan makna lain terhadap hadits ini dengan menyatakan hal ini menunjukkan kekonsistenan pohon kurma menjadikannya sebagai pakaian dan perhiasan, sehingga tidak gugur pada musim dingin dan panas. Demikian juga seorang mukmin senantiasa konsisten memakai pakaian ketaqwaan dan perhiasannya sehingga menghadap rabbnya.[ 20]



  1. Pohon kurma disifatkan di dalam ayat dengan thoyiibah (baik). Ini meliputi baik di dalam pemandangan, gambar dan bentuk. Juga meliputi baik di dalam rasa, buah dan manfaat. Demikian juga seorang mukmin memiliki sifat baik di dalam segala urusan dan keadaannya, baik dzahir ataupun bathin. Oleh kerana itu ketika kaum mukminin masuk syurga terus disambut para malaikat penjaganya dengan menyatakan:


وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ


Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke syurga berombong-rombongan (pula).Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:"Kesejahteraan (dilimpahkan) ke atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya" (QS. 39:73) dan firmanNya:




الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ


(iaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):"Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS.



) serta firman Allah :



إِنَّ اللهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ


Sesungguhnya Allah mamasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di syurga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang daipada emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.


Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki(pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. (QS. 22:23-24)



  1. Pohon kurma disifatkan dengan sabda Rasululloh:


إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّخْلَةُ ماَ أَخَذَتَ مِنْ شَيْئٍ نَفَعَكَ


Sesungguhnya permisalan mukmin seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu daripadanya, nescaya bermanfaat bagimu.[ 21] Pohon kurma seluruhnya bermanfaat, demikian juga seorang mukmin ketika bergaul dengan teman dan sekitarnya. Ia tidak menampakkan kecuali akhlak yang mulia, adab budi pekerti yang luhur, muamalah baik, memebrikan kebaikan dan tidak mengganggu mereka. Selalu memberikan manfaat kepada mereka dalam seluruh pergaulannya.



  1. Pohon kurma memiliki perbezaan antara satu dengan yang lainnya. Perbezaan di dalam bentuk, jenis dan buahnya. Pohon kurma tidak hanya satu tingkat dalam kebagusan dan kualiti, sebagaimana firman Allah :


وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَآءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ


Dan di bumi ini terdapat bahagian-bahagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang, disirami dengan air yang sama.Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu ke atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. 13:4) demikianlah pohon kurma berbeza di dalam rasa, bentuk dan jenisnya, sebagiannya lebih baik dari sebagian yang lainnya.




Demikian juga keadaan antaar kaum mukminin. Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya dan tidak hanya satu tingkat di dalam iman. Allah berfirman:




ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَالْفَضْلُ الْكَبِيرُ


Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.Yang demikian itu itu adalah kurnia yang amat besar. (QS. 35:32).



  1. Pohon kurma termasuk pohon yang paling sabar menghadapi angin dan ributnya. Kebanyakan tumbuhan tidak mampu sabar bertahan daripada kekeringan air seperti kesabaran pohon kurma. Demikian juga seorang mukmin selalu sabar di dalam menghadapi bala, malapetaka dan musibah. Berkumpul pada seorang mukmin kesabaran dengan ketiga jenisnya, iaitu sabar di dalam ketaatan Allah, sabar daripada kemaksiatan dan sabar menghadapi takdir yang menyedihkan. Allah berfirman:


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُوْلآئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ


Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat daripada Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)




Dan firmanNya:


قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ


Katakanlah:"Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu".Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. 39:10)



  1. Pohon kurma semakin tua semakin bertambah baik dan tinggi kualitinya. Demikian juga seorang mukmin jika panjang usianya maka bertambah kebaikan dan amal sholehnya. Imam At Tirmidziy meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Busr, beliau berkata:


أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ


Seorang a'robiy bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah siapakah orang yang terbaik? Rasulullah n bmenjawab: "Orang yang panjang umur dan baik amalannya".[ 22]



  1. Pohon kurma tidak pernah berhenti memberi manfaat walaupun gagal berbuah. Manusia dapat mengambil pelepah, daun dan sabutnya untuk kegunaan yang banyak. Demikian juga seorang mukmin tidak pernah lepas daripada kebaikan. Selalu mengeluarkan kebaikan dan terjaga daripada berbuat kejelekan, sebagaimana sabda rasulullah:


أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ


Maukah kalian aku beritahu orang terbaik dari terjelek daripada kalian. Lalu beliau mengulanginya tiga kali. Lalu seorang bertanya: "Wahai Rasulullah beritahulah kami tentang orang terbaik dari terjelek daripada kami" Rasulullah menjawab: "orang terbaik daripada kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman daripada kejelekannya dan orang terjelek adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan manusia tidak aman daripada kejelekannya".[ 23]




Imam Ikrimah menafsirkan firman Allah : كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ dengan menyatakan: "Dialah pohon kurma yang senantiasa memberi manfaat".[ 24]




Demikian juga seorang mukmin senantiasa memberi manfaat sesuai dengan bahagian dan kekuatan imannya.



  1. Pohon kurma mudah dipetik buahnya kerana pohon kurma kadang-kala pendek sehingga mudah memetiknya dan kadang-kala tinggi dan besar. Walaupun besar masih mudah memanjatnya dibandingkan dengan memanjat pohon lain yang setingginya. Ini kerana terdapat tangga dan tempat memijak sehingga ke atas. Demikian juga seorang mukmin mudah mengambil kebaikan darinya.





  1. Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat kerana ruthabnya dimakan sebagai buah-buahan dan manis. Juga kurma yang telah kering menjadi makanan pokok, lauk dan buah serta dapat dihasilkan daripadanya cuka dan pemanis. Kurma juga dibuat sebagai ubat dan minuman. Manfaatnya sudah cukup jelas bagi yang menggunakannya. Demikian juga mukmin memiliki keumuman manfaat dan keaneka ragaman kebaikan dan kebagusaannya.


Ditambah lagi buah kurma memiliki rasa manis dan iman pun memiliki rasa manis yang tidak dapat merasakannya kecuali orang yang memiliki iman yang benar. Oleh kerana itu Rasululah bersabda:


ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ


Tiga perkara, jika seorang memilikinya eiscaya merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada yang lainnya dan mencintai seseorang hanya kerana Allah serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan kedalam api.[ 25]




Imam Abu Muhammad bin Abi Jamroh menyatakan: "Diibaratkan dengan rasa manis dalam hadits ini kerana Allah menyerupakan iman dengan pohon dalam firmanNya:




أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ


Kalimat didalam ayat ini adalah kalimat ikhlas dan pohonnya adalah pokok iman, cabangnya adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Sedang daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan seorang mukmin, buahnya adalah ketaatan".[ 26]



  1. Persamaan sifat pohon kurma dengan sifat mukmin sehingga Ibnul Qayyim menyatakan: "Sebahagian orang ada yang telah menyamakan manfaat-manfaat ini (manfaat pohon kurma) dengan sifat muslim. Mereka menjadikan setiap manfaat darinya dihadapkan dengan satu sifat muslim. Ketika sampai pada duri pohon kurma, maka dihadapkan kepada sifat keras dan tegas terhadap musuh Allah dan orang fajir. Sehingga kekerasan dan ketegasan terhadap mereka (para musuh tersebut) seperti kedudukan duri pohon kurma dan sikap mereka terhadap mukmin yang taqwa seperti kedudukan ruthab yang manis dan lembut. Allah berfirman:


أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ


keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka:. (QS. 48:29) [ 27]


oleh kerana itu para ulama yang terkenal keras dan tegas dalam membantaha orang-orang bathil dinamakan duri dileher mereka.




Demikianlah di antara persamaan yang ada.



Para

pensyarah hadits ini memberikan beberapa persamaan yang lainnya, namun semuanya lemah dan sebahagiannya batil. Imam Ibnu Hajar telah meringkasnya di dalam kitab Fathul Bariy dengan menyatakan: "Adapun orang yang menganggap letak persamaan di antara muslim dengan pohon kurma dari sisi: jika dipotong kepalanya ia akan mati, atau kerana pohon kurma tidak berbuah tanpa perkahwinan, atau ia mati dengan ditenggelamkan, atau bau putik sarinya seperti mani manusia atau ia minum daripada bagian atasnya. Semuanya ini lemah, kerana sisi persamaan tersebut juga untuk seluruh manusia tidak khusus kepada muslim. Yang lebih lemah lagi adalah pernyataan bahwa pohon kurma diciptakan daripada tanah sisa penciptaan adam kerana hadits yang menunjukkannya tidak shohih, Wallahu a'laam".[ 28]

Dengan demikian telah kita ketahui iman adalah pohon mubarokah yang memiliki manfaat dan faedah besar serta buah hasil. Iman memiliki tempat khusus penanaman dan siraman khusus, juga memiliki pokok, cabang dan buah. Tempatnya adalah hati seorang mukmin, siramannya adalah wahyu dan pokoknya adalah rukun iman yang enam. Sedangkan cabangnya adalah amalan sholeh dan ketaatana yang beraneka ragam yang dilakukan seorang mukmin dan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang dirasakan seorang mukmin didunia dan akherat. Inilah diantara buah dan hasil iman. Wallahu a'lam bis Showaab.


Faedah yang diambil dari Hadits.




Diantara faedah yang diambil dari hadits ini adalah:





  1. orang yang diberi teka-teki hendaklah memerhatikan indicator yang menunjukkan jawapannya.

  2. Ujian seorang alim terhadap muridnya tentang sesuatu yang belum jelas dan menjelaskannya jika mereka belum faham.

  3. Motivasi untuk memamahami ilmu. Imam Bukhori membuat bab untuk hadits ini bab Fahm fil Ilmu

  4. Dhorbul Amtsal dan asybah untuk menambah faham

  5. Soal jawab.

  6. Penggambaran makna untuk mengukuhkan pemahaman

  7. Tasybih sesuatu dengan sesuatu tidak mesti harus sama di dalam setiap sisi

  8. Imam memberikan permasalahan kepada anak buahnya untuk menguji ilmu yang dimiliki mereka. (Bukhori)

  9. Ulama besar kadang-kala tidak tahu sesuatu yang diketahui orang yang dibawahnya kerana ilmu itu pemberian Allah.

  10. Malu dianggap baik selama tidak melepaskan maslahat yang ada.

  11. Mengutamakan orang yang lebih tua.


Wassalam


Di edit oleh Abu Usamah


http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/32189


[if !supportFootnotes]-->



[ 1] Syarah Shohih Muslim 17/152 dan lihat juga Fathul Bariy 1/146




[ 2] Lihat Mu'jamul Wasith 1/45




[ 3] Fathul Bariy 1/146




[ 4] Lihat makalah Syeikh Abdirrozaaq Al 'Abaad dalam majalah Al Jaami'ah Al Islamiyah edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 205






[ 5] dibawakan Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy 1/147




[ 6] sisi kesamaan ini diambil dan disadur daripada makalah yang berjudul Taammulaat Fi Mumatsalatul Mukmin Bin Nahlah, tulisan Syeikh DR. Abdurrozaq bin Abdilmuhsin Al 'Abaad dalam majalah Al Jaami'ah Al Islamiyah edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 209-221. dengan penambahan dan pengurangan.




[ 7] Assunah karya Abdullah bin Ahmad 1/316






[ 8] Tafsir Al baghowi 3/33.




[ 9] Al fawaa'id hal 214-215






[ 10] Diriwayatkan oleh Al-laalikaa'iy dalam syarah ushul I'tiqad 5/959




[ 11] dibawakan oleh Abu Ya'la dalam Thobaqatul Hanabilah 1/259






[ 12] mutafaqun 'alihi




[ 13] Busr adalah kurma yang belum matang menjadi ruthab sedangkan Ruthob adalah kurma matang yang masih belum meleleh atau mengeras.




[ 14] Disampaikan oleh AL Baghowiy dalam tafsirnya 3/33







[ 16] diriwayatkan oleh Bukhori dalam shohihnya 3/444




[ 17] Fathul Bari 1/145-146.






[ 18] Lihat fathul


1/145


[ 19] lihat tentang hal ini dalam Jami' Al Ulum wal Hikaam hal. 368




[ 20] Miftah daris Sa'adah 1/116.






[ 21] Diriwayatkan oleh Ath Thobraniy dalam mu'jamul Kabir 12/ no.13514 dan




hafidz Ibnu Hajar menyatakan: "Sanadnya shohih".





[ 22] Sunan Tirmidzi 4/565 dan dishohihkan Al Albaniy dalam Shohih Sunan At Tirmidziy 2/271.




[ 23] Diriwayatkan imam At Tirmidziy dalam sunannya no. 2263 dan Ahmad no. 8456 dan dishohihkan Al Albani dalam shohih




jaami' no. 332


[ 24] disampaikan Atthobariy 8/205




[ 25] Mutafaqun 'alaihi.




[ 26] Lihat fathul


1/60


[ 27] Miftah dari Sa'adah 1/120-121.






[ 28] Lihat Fathul Bariy 1/147.




Thursday, May 10, 2007 by Dr Suhazeli bin Abdullah · 0

Networkedblog